<![CDATA[arymami - NOTES]]>Fri, 01 Jan 2021 19:50:00 -0800Weebly<![CDATA[2020: Menatap Waktu]]>Thu, 31 Dec 2020 13:36:26 GMThttp://arymami.com/notes/2020-menatap-waktuWinter vector created by starline - www.freepik.com Akhir tahun, dan segenap gelombang budaya populer tentang refleksi diri menyapu jadgat bumi. Media sibuk membuat kladieoskop, organisasi penggerak pemberdayaan sibuk mengkolase peristiwa yang menyentuh humanism dan individu-individu tersungkur di sudut ruangan menanyakan: apa yang sudah ku dapatkan sepanjang 2020?Aku tidak tahu sejak kapan gelombang romantisir masa lalu praktis masuk dalam peradaba [...] ]]>
Picture
'https://www.freepik.com/vectors/winter'>Winter vector created by starline - www.freepik.com
Akhir tahun, dan segenap gelombang budaya populer tentang refleksi diri menyapu jadgat bumi. Media sibuk membuat kladieoskop, organisasi penggerak pemberdayaan sibuk mengkolase peristiwa yang menyentuh humanism dan individu-individu tersungkur di sudut ruangan menanyakan: apa yang sudah ku dapatkan sepanjang 2020?

Aku tidak tahu sejak kapan gelombang romantisir masa lalu praktis masuk dalam peradaban dan memformasi budaya refleksi global di penghujung tahun. Refleksi perjalanan hidup adalah hal esensial bagi siapapun yang berniat menjadi manusia dan dalam hemat saya inheren dalam keseharian. Tapi.. menerima azab ditempa pendidikan KBM yang mengasah saklar suudzon pada apapun yang sudah ternormalisasi menjadi budaya, hari ini saya tidak habis pikir tentang budaya refleksi perjalanan hidup masal yang berlangsung. Tentu, melihat pola budaya sebagai senjata ideologi yang sempurna, pastinya tidak lepas dari media, maupun kepentingan pihak kuasa yang membutuhkan warganya menunduk dalam hening di tengah experimen sosial yang mengeruk keuntungan. 

Tapi ini sekedar status, bergambar, dan tidak berniat menulis paper tentang ideologi dibalik aksi refleksi global. Betapapun menarik itu buatku, pasti membutuhkan riset yang sungguh tak elok kulakukan di tengah tanggungan laporan riset yang bahkan belum kutuntaskan. Jadilah benakku berkeliaran membayangkan tentang ketidaksadaran kita memperlakukan waktu dan kebanalan kita menautkan makna pada tiap detiknya. 

Refleksi pergantian tahun adalah manifestasi paradox atas perubahan. Di tengah ketakutan manusia akan perubahan, di sana juga kita membutuhkan selebrasi atas perubahan. 

“Perubahan begitu dihindari, tapi jangan sampai kita berhenti statis dalam kehidupan! Itu celaka, karena bila statis berarti kita tidak berkembang dan melawan arus peradaban.” - kata kita. 

Maka, sibuklah kita merayakan perubahan dengan seolah-olah ada perubahan. Dan waktu adalah penanda yang sempurna. Jarang sekali kita melakukan selebrasi atas perubahan itu sendiri. Kita sibuk membalut perubahan dengan petanda representasi pertumbuhan, yang indikatornya sudah berselancar dalam ideologi perkembangan. 

Maka, banyak sekali perayaan pergantian tahun diiringi petanda atas pertumbuhan yang diharapkan peradaban; mulai dari yang tampak seperti mobil baru (sebagai petanda peningkatan ekonomi, misalnya) hingga yang tak tampak seperti semangat baru (sebagai petanda buat mengelabui diri kita sendiri bahwa kita tidak sama seperti dulu). Tapi disana, yang kita sibukan adalah pertumbuhan dan bukan perubahan. Waktu menjadi petanda yang dimanfaatkan untuk mengukur beragam pertumbuhan; waktu sendiri tidak pernah direngkuh dan dirayakan sebagai basis perubahan.  

Perspektif terstruktur semacam ini, memandang waktu sebagai hal yang konstan dan inheren di sudut ruangan. Dia ada sana sebagai hal yang hidup secara independen mengiringi kesibukan kita mengisi hari dengan indikator yang kita ada-adakan. Tapi waktu tidak pernah dipandang sebagai hal yang hidup dalam diri manusia. Dia hanya sebagai penanda, atas perubahan. Bayangkan saja, perayaan pernikahan perak, adalah perayaan atas keabadian relasi di mana waktu hadir saja sebagai penandanya. Kita tidak pernah benar-benar merefleksikan tentang perjalanan waktu, kita hanya sibuk memaknai beragam kejadian dan pongah diri dalam bingkai waktu. 

Dalam pikiran terstruktur atas waktu yang tersisih semacam ini, maka refleksi akhir tahun senantiasa dipenuhi dengan ulasan capaian yang sudah diraih, sesuai indikator pertumbuhan dan makna atas aktifitas yang kita lakukan. Merayakan perubahan dengan meniadakan perubahan itu sendiri. Menselebrasi imaji semu dan kestatisan diri dalam pergantian angka. Apa ada yang berubah sejak Pandemi memaksa kita menilik waktu secara berbeda? Apa struktur berpikir kita sudah bergeser untuk melihat waktu bukan sekedar petanda atas peristiwa? Atau kita masih juga mempertahankan harapan tentang kestatisan? dengan selesainya pandemi agar kita bisa kembali berkubang dalam zona nyaman untuk meniti pertumbuhan yang kita banggakan?

Tidak banyak manusia yang pernah saya jumpai yang bersedia merengkuh waktu dan perubahan sebagai bagian dari dirinya. Waktu bukanlah penentu perubahan dan petanda masa, namun sebagai hal yang tersedia untuk menggerakan perubahan. Bagi saya, orang-orang semacam ini adalah mereka yang berani untuk menghidupkan hidup. Hidup secara penuh, bukanlah menanti masa, tapi menjemput apa yang bisa dijemput di dalam masa yang ada.  

Biasanya, waktu senantiasa mampu untuk membuatku antusias, karena tidak habis bayangan segala keinginan untuk mengalami waktu ke depan dengan perubahan yang tak terbatas. Ada gairah untuk melangkah pada “the unkown” ; semacam hidup baru yang selalu menggantung di benak. Tapi dalam tiga tahun terakhir, diriku tidak berjumpa dengan perubahan; tetap saja terjebak dalam sebuah siklus yang sama. Turut merayakan pertumbuhan selayaknya manusia normal yang sudah memiliki status emblem dewasa; tapi diri, rasanya sekarat dan antusiasme akan waktu pun lenyap. Ada marah bahwa waktu tidak membawa perubahan, sebagaimana kebanyakan orang katakan. 

Tahun 2020 ini adalah petanda yang saya letakan sebagai gerbang (jauh sebelum pandemi melanda dunia), setelah sekian lama berharap waktu memiliki peran membawa perubahan gairah kehidupan. Tiga tahun terakhir bagi saya adalah masa yang dipenuhi kehilangan; beragam orang, rejeki, kesehatan, kepercayaan, dan harapan. Tapi kehilangan yang lebih besar, adalah kehilangan atas merengkuh waktu. Merengkuh hidup untuk dihidupkan dan bukan sekedar dijalankan. Menghardik diri dengan batas bermanja di zona nyaman dan mengikis topeng dari rasa malu tidak membuat perubahan.  

Aku tidak tahu sejauh mana, pasung pandemi telah menyuntikan pada kita, bahwa waktu bukanlah sebuah konsep tapi mindset yang menentukan hidup kita. Tapi saat tahun 2020, rasanya baru mulai dan mendadak terhenti; aku yakin kita semua terpaksa untuk berkenalan dengan sisi lain sang waktu.  

Selamat Tahun Baru. 
‘Wishing you the past makes us better and not bitter.‘



Yogyakarta, depan aquarium. 31.12.2020

-Theres is nothing such as the right time, there’s just time. And as Budha says ‘the trouble is, you think you have time’. -
]]>
<![CDATA[Tour de Rumah Sakit, Tour de Penyakit: Paradox Asuransi - Urip Cen mung mampir ngalami]]>Thu, 29 Oct 2020 16:37:38 GMThttp://arymami.com/notes/tour-de-rumah-sakit-tour-de-penyakit-paradox-asuransi-urip-cen-mung-mampir-ngalamiHari ke-lima. 

“Woalaah mbaaak priyayii.. kok ketemu meneh? udah kesakitan?”, sapa dokter internis yang sudah 6 tahun tidak aku temui (dengan sengaja). Ada ejekan di sapanya, yang kita sama-sama tahu. Sebagai pasien yang enggan kesakitan aku telah menolak berbagai solusi jangka panjangnya dan memilih obat-obat instan yang dapat segera dimasukan ke aliran darah saja. Dia memanggilku dengan priyayi karena keringkihan tubuhku yang memiliki threshold yang rendah dibanding manusia pada umumnya. Tubuh yang harus dimanja, disayang dan butuh kenyamanan yang sedikit berlebihan. Kondisi yang tentunya enggan aku terima; siapa sih yang tidak ingin dianggap sebagai manusia normal saja? 

“Iya doc.. udah muter-muter RS lain, tetap akhirnya semua dokter lain merujukku untuk kembali padamu”, balasku dengan menyerah. 

“okay.. masuk lab dan radiologi dulu baru kita ngobrol ya”
​--


--

Hari Pertama.

Pagi itu aku menggeret diri memeriksakan kondisi kesehatan. Tepat sehari lepas mendarat di Yogya, sesuai dengan janji diri yang sempat terucap di tengah erangan sakit seminggu yang lalu. Rasa sakit yang mendera berturut sepanjang workcation akhirnya mengalahkan semangatku atas “mind over body” yang sudah mampu mengabaikan “vonis” dan “prognosis” dunia medis, sekian tahun; semata karena trauma panjang medikasi yang selalu membuatku merasa sendiri. Belum lagi karena mengetahui pemantik penyakit didominasi oleh ketahanan atas pengalaman penganiayaan emosi; buat apa ke dokter kalau obatnya cuma pelukan ya kaan? Rasanya tak cukup signifikan untuk dunia yang menghargai “yang terlihat” daripada “yang terpahami”; bahkan untuk diri sendiri, yang masih dapat memandang cermin yang menemukan diri yang tampaknya baik-baik saja.  Kini fisik tak lagi mampu menipu. Bobot tubuh yang terjun bebas tidak memberikan refleksi cermin sama. Pendekatan emosional, dan kekuatan pikiran harus mengalah dengan fakta penurunan 8kg dalam seminggu. Terlepas bahwa fakta itu diidamkan - kewarasan berkata lain. 

Lelah dengan segala derita lahir yang menambah saja dera situasi derita bathin yang harus dihadapi, kali ini diriku berniat untuk melewati semua tindakan medis yang diperlukan. Sudah muak dengan pola mencari solusi instan yang biasanya kudapatkan di UGD yang hanya menjadi placebo dengan limitasi masa berlaku. Males merasa sakit, seolah sakit hati tidak cukup menyiksa saja. 

Dalam niatan, pengetahuan dan prediksi bahwa perjalanan ini yang tidak sebentar; untuk kali pertama ini aku memilih menggunakan asuransi untuk (siapa tahu) bisa meringankan biaya yang kutahu membutuhkan 8 digit setiap kali pemeriksaan. Lagian sayang juga pemotongan gaji setiap bulan yang tidak dimanfaatkan. Maka, pagi itu aku menuju Faskes I. 

Jam 08.30.
Membawa semua rekam medis yang kupunya. Tidak membutuhkan waktu lama, saat dokter menyampaikan, ini harus segera ditangani di Faskes III Tingkat Lanjutan. Aku mengiyakan dengan sopan, memahami memang kondisinya sudah demikian. Lalu diberikan pilihan antara beberapa RS Tingkat Lanjutan yang bisa dituju; RS di tempat yang biasanya aku berobat, RS tempat aku mati suri dan RS sulit parkir di dekat Fakultas Teknik kampus biru. Aku menolak yang terakhir, semata karena sulit parkir dan menolak yang pertama semata karena dokter2 di sana sudah terlalu sering diajak debat.  


Waktu menunjukan pukul 09.30. Aku melaju ke Faskes tingkat 3 dengan satu surat rujukan dengan keterangan segera dan rujukan penuh. Parkir. Jalan Kaki. Aku masih heran.. kenapa sih RS travelator? padahal jalannya selalu saja jauh-jauh. Naik lantai 5, turun lantai 1, gedung baru naik lantai 2, menanti. Pukul 10.15, dipanggil administrasi. Debat; ditolak karena membutuhkan penanggung-jawab suami/ayah hadir, darurat hanya bisa ditampung untuk bedah, bila tidak langsung ke bedah butuh rujukan dari Faskes tingkat II. Aku memaksa. Diarahkan ke orang lain, di gedung dan ruang berbeda. Singkat cerita; drama. Rujukan ditolak. Aku kembali ke Faskes 1. Tubuh sudah mulai menunjukan indikasi tidak akan berkoperasi. 

Pukul 13.30.
Faskes I, meminta rujukan Faskes II. Melaju ke Faskes II. Rumah sakit yang juga tidak asing buatku. Mendaftar bertemu dengan internis, yang ternyata baru praktik dua hari lagi. Ya.. dijalani. Buat Janji. Berjalan menuju parkiran yang nun jauh di sana. Drop. Nyeri terasa. Mengatur nafas. Menahan sakit. Meningkatkan sugesti. Manifestasi energi. Tangis. Membaringkan diri, tenangkan diri. Menanti kuat untuk menginjak kopling. Sembari menggugat diri napa juga ga naik taxi, lagi..lagi. 


Pukul 14.40.
Masih di parkiran. Ini Rumah Sakit. Menggeret diri masuk UGD. Mendapat obat ajaib. 


Pukul 16.30.
Beranjak pulang.  


--
Hari Ke-empat.

Pukul 13.00
“Ini kenapa dirujuk ke RS ini mbak?”, tanya pegawai administrasi dengan ketus. 

“ya.. keterangannya begitu mbak.”, balasku tanpa bermaksud tidak ramah. Merasa aneh kenapa ditanya sedangkan ada penjelasan berlembar dan bergambar mendeskripsikan urgensi rujukan. Ini sudah kali ke-4 bertemu dengan administrasi yang ditugaskan khusus asuransi keluaran negara, yang ya.. semua yang pernah berurusan pasti merasa perbedaan hospitalitas dan fasilitas yang diterima dibandingkan pasien yang bayar secara mandiri. Tubuh terasa lemah dan lemas, belum lagi didera cemas meninggalkan anak yang sedang ulang tahun sendirian di rumah. Kepalaku sibuk mengurut deretan nama, siapa yang bisa dihubungi bila aku harus mendadak opname malam ini dapat menemani anakku yang di rumah sendiri. Nihil. 

“tapi ini rujukan penuh ke internis dan biasanya..”, kalimat petugas administrasi membuyarkan pikiranku. 

“mbak..saya di rujuk ke RS ini, karena pertimbangan dokter sebelumnya data medis saya ada di sini”, potongku dengan hampir menyerah, sembari berpikir ah.. sudahlah apa berhenti saja mencoba menggunakan asuransi ini dan periksa seperti biasa saja. 

“oh.. mbak sudah pernah periksa di sini”, jawabnya sedikit melunak. Lalu sibuk mengetik data sembari memandang layar komputer di hadapannya. Kemudian menghadapku dengan senyuman yang sejak tadi tersimpan rapat. “Oh.. Ibu Dian.. ini mau ke dokter internis yang biasa atau ada dokter lain Ibu?”.

Tersentak dengan perubahan nada, sebutan dan penerimaannya, aku membalas dengan senyuman yang sama sembari menyebutkan nama dokter yang sudah lama kuhindari namun menangani kasusku selama ini. “yang biasa aja ya mbak”.

“Baik Ibu.. tapi ini kan ibu sudah masuk tadi di RS Faskes 2 dan dirujuk ke Faskes Tingkat Lanjut ini, kalau untuk hari ini asuransinya tidak bisa berlaku Ibu. Bisanya paling cepat 24jam setelah rujukan, atau ibu mau diperiksa langsung seperti biasanya tanpa asuransi?”

Rasa geli, sedih dan lelah merambat diri. Lelah karena menjalani berbagai aturan administrasi yang butuh 5 hari hanya untuk mendapatkan akses perawatan medis. Perlu dicatat, di tengah menahan sakit. Hela nafas. Sedih dengan berbagai batasan nilai norma yang diperlukan untuk sekedar mendapat akses kesehatan dan juga menemukan pelayanan yang bias kelas sosial. Hela nafas. Geli karena tidak mampu merasionalisasi segenap keribetan administrasi.

“Bentar mbak.. maksudnya saya tidak bisa periksa hari ini, karena sudah periksa di RS lain begitu?”

“Iya Ibu, surat rujukan baru bisa berlaku 24 jam”

“Jadi, Asuransi ini kaya kupon gitu ya mbak? Sehari hanya bisa satu kali pakai?”

“Ibu bisa langsung periksa dengan biaya mandiri..”

Tanpa mampu membendung tawa, aku membalas “tolong saya didaftarkan besok ya, bisakah saya minta tidak terlalu pagi?”

“Bisa Ibu, jam 10 begitu ya Bu? Kami kirimkan data nanti melalui WA seperti biasanya ya Bu”

Mengucapkan terima kasih dan berlalu.

Pukul 09.00

Ruang tunggu sudah ramai dengan pasien yang menanti mendapatkan perawatan medis. Bau disinfektan khas memenuhi ruangan. Para petugas pendaftaran menyapaku dengan ramah. Perawat lalu lalang dalam riuh mengenakan seragam batik meski dengan APD yang memberikan kesan lebih humanis. Sepatu kets yang dikenakan para dokter dan perawat menjadi paduan yang kusuka tiap kali mengunjungi fasilitas kesehatan. Terlihat nyaman, dan tentu memberikan kesan yang aktif bergerak / bekerja melayani pasien di berbagai posisi gedung RS. Faskes II ini jauh lebih “hidup” daripada Faskes III yang penuh dengan tanjungan mandiri, seragam serba hijau dan putih, deretan cafe ternama yang menghiasi ruang tunggu, keheningan yang dingin, maupun para pengantar pasien yang serba perlente. Meski demikian, butuh hampir dua jam menanti hingga dokter dapat ditemui di lokasi yang jauh dari ruang tunggu pasien dan bisa jadi membuat orang baru sepertiku tersesat menemukan ruang prakteknya. 

“Selamat pagi Ibu Dian, apa yang menjadi keluhan?”, dokter yang hanya tampak matanya bertanya. Aku menyampaikan keluhan, menjelaskan berbagai kondisi, dan memberikan beberapa rekam medis. Dia dengan seksama mendengarkanku, sebelum memintaku berbaring untuk diperiksa. Tidak membutuhkan waktu lama, sebelum kami kembali berbincang. Sembari dia menuliskan laporan kondisi tubuh, melontarkan beberapa pertanyaan yang di luar dugaan. Tanpa menjelaskan lebih lanjut dari tanya maupun respons jawaban. Setiap kali aku merespons, dia hanya akan berkata “hmmm” seolah menemukan fakta baru dan menuliskan entah apa di dokumen medisku. Lepas tanya ketiga, resahku memaksaku bertanya, apa ada yang perlu saya tahu tentang kondisi saya.

Dia menatapku. Jeda. Membuat tegang saja. 

“Ibu harus bertemu dengan dokter di radiologi dan dokter bedah…”.

Jeda. Aku menanti penjelasan lebih lanjut yang rasanya tidak kunjung datang. Hening terasa lama. 

“saya harus merujuk Ibu ke RS Tingkat Lanjut, karena beberapa tes yang harus dilakukan tidak dapat dilakukan di sini”, jelasnya untuk kemudian mengambil secarik kertas dan mulai menggambar. 

Aku menyimak dengan atensi penuh, seolah masuk dalam kuliah pertama yang menjelaskan konsep dasar teoritik yang rumit. Dia menjelaskan posisi dan fungsi organ manusia, hanya itu yang aku tangkap, sisanya garis-garis penghubung maupun interseksi dg istilah non-bumi tidak mampu aku pahami. Gambar yang awalnya hanya berupa segi empat dengan beberapa titik menjadi coretan ruwet anak playgroup baru belajar menggambar. Dia menyelipkan lembaran kertas itu bersama dokumen yang ia tulis untuk rujukan, seperti kuliah telah tuntas dijelaskan.

“Dok.. jadi.. maksudnya bagaimana? Ada hal lain ternyata yang harus saya khawatirkan, saya harus bertemu siapa dan melakukan apa?” 

Dia menatapku dengan kesan ‘helooooooo… tadi dengerin gw ga siiii…’. Sekarang aku tahu rasanya mahasiswa yang tiap kali bertanya mendapatkan ekspresi heran serupa dariku. Tapi mukaku yang menampakan kebingungan tulus nan autentik, membuatnya tersenyum dan sabar menjawab. Dia tentunya tidak menjelaskan ulang gambarnya yang rumit, mungkin paham bahwa aku tidak mungkin paham. Lalu dia menjelaskan langkah-langkah yang harus kujalani sebagai penggantinya. Dan langkah pertama adalah.. memilih dokter di Faskes Tingkat Lanjut. Deretan nama dan RS disebutkan, dan dia saran sebuah nama yang tidak lagi asing bagiku. Ah.. perjalanan dan waktu panjang menghindar dari spesialis satu itu, hanya membawaku melingkar kembali kepadanya. 
 
---

Hari Ke-lima
Pukul 10.15
Aku berbaring di ruang yang dingin (ada apa sih RS dengan AC?). Beberapa layar dan penyinaran yang terang, bau disinfektan, dan peralatan canggih di sudut ruangan. Pasrah berbaring menanti tindakan. Seorang dokter muda memasuki ruangan. Menyapa dengan ceria, kemudian mulai mengoceh. Khas dokter-dokter yang akan mengobyekan tubuh dan mencoba membuat nyaman sang pasien dengan berbagai peralatan. Kadang aku perpikir, apa memang ada kuliah khusus mendistraksi pasien saat melakukan tindakan di fakultas kedokteran ya?. Dia menanyakan apa aku pernah mengalami tindakan tersebut, kujawab dengan tidak. Kemudian dia menjelaskan singkat apa yang akan dilakukan seolah itu info trivia wikipedia, lalu beralih membicarakan mengenai ibunya yang suka sekali membuat kue dan mencoba berbagai resep baru. Tanpa jeda. Dia cerita, sambil tertawa, begitu ceria. 

Kamera dalam tubuh. Aku tidak ingin membicarakan prosesnya, yang sudah membuatku ketakutan untuk sekedar bernafas. Ini semacam virtual tour dalam tubuh manusia, yang terpampang di layar kaca hanya minus sound system all surround aja. Di tengah ceria dan ceritanya, aku mengamati ekspresi wajah yang tidak dapat dia sembunyikan. Sembari membuat catatan yang tentu sudah terdigitalkan. Satu tindakan selesai, masuk ke alat berikutnya. 

Tuntas semua itu, aku terasa dingin dan lemas begitu saja. Mungkin karena ketegangan semata. Aku duduk di depannya, mengatup tangan mencoba menggenggam erat diri, bahwa semua akan baik-baik saja. Aku mendengarkan penjelasannya; membuatku tersentak dalam ngeri. Tapi dia begitu ceria dan menenangkanku dengan meyakinkan bahwa itu baru satu sisi saja (informasi itu tidak menenangkan, tapi dia pintar memainkan nada suara). Saatnya aku beranjak ke laboratorium, untuk menjalani tes-tes sisi lain yang dia sampaikan. 

Pukul 12.15
Laboratorium itu mengingatkanku pada serial TV Crime Scene Investigation. Luas, berdinding kaca, berderet peralatan canggih yang sedang bekerja dengan penanda sinar ini itu, dan para laboran yang sibuk menghadapi alat dengan seragam biru dan kacamata. Ruang tunggu dan pendaftaran laboratorium seperti masuk ke hotel bintang lima. Mereka bekerja cepat dan mengambil beberapa sampel yang dibutuhkan. Lalu melepaskanku untuk menanti hasil. 

Petualangan sepagian itu sudah membuatku perlu sedikit jeda dari kecangihan teknologi robotik dan pelayanan bintang 5. Aku memilih berjalan mencari warung tanpa AC untuk memesan satu teh panas. 

Pukul 14.00
Mengamati dokter spesialis menilik data hasil berbagai tes. Dua perawat berdiri disampingnya, diam. Seperti dayang yang menanti bila putri membutuhkan sesuatu dengan segera. Dia menelpon dua kali untuk berbicara dengan dua dokter lainnya. Sembari membolak balik data dan layar komputer di depannya.

Aku menanti dengan pasrah, atau tepatnya sudah lelah hingga titik tak peduli apapun diagnosa dan vonis dijatuhkan padaku. Pandanganku kosong menatap tiap gerak geriknya. Dia menatapku. Sepertinya dia tahu, bahwa aku juga enggan mendengar apapun hasilnya.

“Wes.. ngene ae mbak priyayi… tapi iki tenanan lho.. ga ono negosiasi dan ga iso geser-geser jadwal”, dia mengawali seperti sudah mengenal benar watakku. Menyampaikan pilihan solusi dari beberapa kondisi komplikasi, diikuti dengan aturan, syarat dan konsekuensi. Aku iyakan tanpa imbuhan. 

“Ok, tak kasih resepnya”, dia mulai mengetik memasukan obat-obatan yang perlu kukonsumsi, namun sistem tidak memperbolehkannya. Geram dia menanyakan ada masalah apa dengan sistem pada dayang di sampingnya; “iki gak ono supply obat e po yok opo kok ga ono pilihanne neng sistem, kono takon bagian farmasi, iki tulung dibanakke”. Telpon. Ketak-ketik, Telpon.

“oo.. ga bayar mandiri to mbak yu? kok tumben sabar”, komennya. Aku hanya tersenyum menanggapi ocehannya yang khas. “Sek sek… tak golek obat seng liyane”.. ketik ketik ketik.. “wah.. gak onok e mbak”. Dia mulai geram sendiri dan menumpahkan marahnya pada perawat yang diminta untuk menanyakan pada pharmacy kenapa obat tidak disediakan untuk asuransi. Selang waktu dalam keriuhan sistem dan ghibah administrasi. Berakhir dengan.. “obat yang ini tidak dicover asuransi mbak”.

Aku tersenyum geli mengingat perjalanan panjang lima hari menuju titik ini. Aelaaa… yang paling mahal malah ga ke-cover. 

Paradoks asuransi. Melangkah untuk mengurus berkas demi rekam medis asuransi, sebelum beranjak ke kasir dan farmasi. Mengeluarkan kartu untuk siap menggesek. 
“Ibu Dian, mau sekalian kami uruskan tagihan dengan perbankan untuk keseluruhan medikasinya?”, tanyanya ramah sebagaimana melayani pelanggan setia.
“Total jatuhnya di berapa digit mbak?”, tanyaku tak kalah ramah dalam kegelian ironi. 
“Karena Ibu sudah pakai asuransi jadi tidak sebanyak biasanya bu, jatuhnya hanya di 8 digit”.

Aelaaaah… urip cen mampir ngalami. 



Belakang teras, 29102020.  

]]>
<![CDATA[Tour de Rumah Sakit: Yang Tak Punya Kata]]>Thu, 27 Aug 2020 09:02:30 GMThttp://arymami.com/notes/tour-de-rumah-sakit-yang-tak-punya-kataPicture

​Sore. Langit cerah dan mentari mulai terbenam dengan warna yang menawan. Aku sempat mengambil fotonya, untuk memastikan itu benar saat pandangan sudah jelas. Segala hal disekitarku masih kabur. Dan perasaan melayang masih mencengkram badan. Lemah dan lemas, dengan fisik yang rasa berat untuk bernafas. Berlahan nyetir menuju rumah. Memeluk anak yang menyambut cemas, menyampaikan semua baik2 saja dan meminta maaf bahwa kondisiku terus saja sakit, menyiapkan makan malam dan hal2 sekolahnya esok pagi, untuk kemudian ambruk di tempat tidur. 


Kepanikan mulai merebak saat jarum di lenganku tidak dapat menjalankan fungsi yang awalnya diintensikan. 


“mbak.. mbak... ini kok ga bisa naik ya?”, teriak salah satu suster yang sedang menggenggam jarum suntik yang sudah menancap di pembuluh darah. Kepanikan dalam nada bicaranya sudah tidak dapat dibendung, membuat 3 suster lainnya berlari menuju kami. 

Duuuuh… harus banget ada drama setiap ke Rumah sakit ya.. bathinku, berupaya setenang mungkin menanggapi situasi yang sedang kualami.  Namun nada, intensitas ping-pong kalimat dan tubuhku yang kini ditangani oleh 3 manusia berbaju APD serba putih, tidak memudahkan niatan untuk santai saja. Jarum suntik itu tetap menancap sembari yang lain mencoba mengalisa pembuluh darahku yang tidak mampu mengalirkan darah. Aku memandang tarikan jarum suntik itu berkali-kali, dengan teriakan dan ekspresi yang keluar begitu saja. Dalam hati berharap kepanikan suster tidak menjadikan jarum suntik itu pompa dan mengalirkan udara dalam sistem tubuhku, membunuhku dengan emboli  secara tidak sengaja. Untungnya itu tidak terjadi… dan memilih mengambil jarum suntik lagi dan jarum suntik lagi. Aku berteriak pada tiap suntikan dan tarikan yang tidak juga berhasil. 

“Mbak jangan panik, itu tidak membantu”, hardik salah satu dari mereka.
“Heh! Jangan ngomong gitu, nanti mbaknya makin panik”, potong lainnya
“Iya.. maaf… tenang ya mbak.. tenang ya mbak”, ujarnya. Entah berupaya menenangkanku atau menenangkan dirinya sendiri. 

Kosong. “Kok bisa kosong, kok bisa ga ada darah yang mengalir!”, mungkin dia meniatkan itu didalam hati tapi terucap tanpa disadari. Panik merebak di ruangan. Kondisi vitalku terpaksa dianalisa ulang, beberapa alat ditancapkan. Satu anggota administratif berlari mendekatiku, membawa satu berkas di jepitan papan tulis dari kayu. Siap-siap mengisi informasi dan data, tak kalah paniknya. Mungkin mumpung kondisiku masih sadar.  “Mbak kita bisa hubungi siapa? kontak keluarga mungkin? atau siapa yang menemani di sini?”. Aku memandangnya lemas, sambil gemas. Andai sedang tidak dalam proses mengalami semua tindakan medis tersebut, aku pasti sudah bisa melihat kondisi komedi dari semua itu. Ini sungguh dagelan. Sepeti bikin survey yang salah pelaksanaannya. Oooh.. dunia. Aku hanya memandangnya. Cukup lama, lalu berkata “saya sendirian, bila terjadi apa2..” aku hanya menunjuk pada tas di sisi. 

“Mbok ra sakiki to mas, kan wes ono neng data di goleki kono”, sahut salah satu suster mengusirnya dan sibuk mencari bukti detak nadi di pembuluh darahku yang lain. 

Dengan beberapa orang di sekitarku, sontak otak primitifku sebagai “obyek” yang sedang terancam melawan dengan penuh ketegangan. Dengan beberapa jarum yang sudah menancap di beberapa posisi berbeda pembuluh darah, Satu masih tersisa, dipegang dengan kepanikan oleh salah satu suster yang kemudian sibuk berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan. Aku memalingkan wajahku, tanpa tenaga berharap tidak perlu melihat kengeriannya. 

“Sakitkah mbak?”, tanya suster yang sedang memastikan jarum tidak geser terlalu jauh untuk merobek pembuluh darah. Aku memandangnya  (yeeee.. menurut nganaaa??), “engga kok mbak”, jawabku.. dan tanpa mampu kubendung tangis meleleh di wajahku. Satu diantaranya berganti posisi, memegang pundakku dan mengelus kepalaku berulang. “gak papa mbak.. tenang mbak.. gak usah takut.. tenang yaa”.

Kepala suster akhirnya datang mengambil alih. Menenangkan dan menjelaskan bahwa mereka akan mencoba sekali lagi. Dokter jaga akhirnya hadir untuk menangani ‘kedaruratan’ karena analisa pre-asumsi tidak mampu dilakukan. Opname. Observasi. Harus ada nutrisi yang masuk untuk tubuh yang sudah drop 4kg dalam seminggu. 

Ada kesal - udah gw bilang apa juga dari awal, kondisinya bukan yang seperti kau asumsikan! Tak perlu analisa. Beri obat untuk nyerinya saja. Geram. Aku kehabisan kata untuk menjelaskan, sebagaimana semua hal, rasanya percuma untuk disampaikan pada siapapun. Kata-kata, penjelasan, permohonan, rintihan pertolongan, tak pernah memiliki makna dan tak terdengar. Ya sudahlah, tak ada gunanya juga melontarkan kata. Kebenaran pun akan selalu terkuak dengan sendirinya, meski berarti harus berserah pada waktu. Aku menyetujui infus itu dimasukan. Tanda tangan. Gesek jaminan. Lalu memohon sekali lagi untuk mendorong kebenaran muncul dipermukaan; kuminta dia menghubungi 4 nama, sebelum memutuskan aku perlu digeret masuk ruang bedah lagi-lagi.

--
Infus mengalir melalui nadi, setelah drama pagi masih menyisa ngeri. Lima orang disudut sibuk berbincang untuk memutuskan apa yang menjadi tindakan; seorang dokter jaga - yang memutuskan aku diopname, seorang ahli penyakit dalam, ahli darah, ahli virus, dan ahli syaraf. Semua sedang membawa berkas rekam medisku. Masing-masing sedang menegaskan mana yang sebaiknya ditangani, seperti menyaksikan perdebatan benturan paradigma para ilmuan yang bersekekeuh dengan sudut pandang masing-masing. Akhirnya tentu juru bicara tim itu memaparkan “temuan”; deretan singkatan biologis yang akan membuat siapapun tersesat dalam translasi.. kondisi yang saling paradoks dan berputar seperti lingkaran setan. Semua tak membuatku heran, sudah cukup penjelasan akumulatif sepanjang keluar masuk RS dari berbagai ahli kesehatan. Tim menghamparkan beberapa pilihan eksperimental yang bisa di lakukan, sebelum menemukan solusi yang lebih efektif. Lalu memberiku opsi untuk hendak memilih melakukan apa.

Aku menjawab sederhana: “aku akan memilih pulang. sepanjang ada obat yang dapat membuat organ-organku masih bisa berfungsi, aku akan pulang, ada seorang anak yang membutuhkanku hadir di sana”.   

--
Nyeri bekas beberapa suntikan seharian masih terasa, namun itu jauh lebih baik dari pada rasa sakit di rahim dan nyeri di ketiak yang membawa kelumpuhan rasa di seluruh tubuhku, beberapa hari sebelumnya. Ruangan sangat hangat, tapi tubuhku mengigil kedinginan. Kondisi ini sudah menjadi indikator kedaruratan kondisi perang imunitasku. Ada bagian otakku yang memang sudah rusak dan tidak berfungsi untuk mendeteksi suhu. Tidak lucu juga masuk dalam hipotermia di tengah suhu yang hangat. Tapi yang paling menggangguku adalah pandangan mata, sebab itu membuatku tak dapat membaca terlepas dari berapapun ukuran kacamata yang dicobakan, masalahnya memang bukan di bola mata. Dan itu sangat membuatku frustrasi, setidaknya terakhir dulu saat ini kembali menggeliat tiga bulan lamanya aku tak bisa membaca, padahal itu salah satu hiburan yang paling kusuka. Mungkin itu juga sebabnya aku suka merekam suaraku sendiri saat membaca buku, buat jaga-jaga bila esok aku terpaksa tak mampu mendeteksi aksara.
 

Tapi.. Aku baik-baik saja. Hidup dengan sebuah penyakit yang belum ada obatnya, hanya bisa didekati secara paliatif. Ada bahasa medisnya, tapi mari sebut saja ia ‘virus politis’, karena sifatnya memang seperti politisi. Lahir dari pantikan tekanan psikologis yang tak lagi dapat dikembalikan - untuk membunuh tubuh dari derita yang ia rasa; miriplah ama agen pergerakan yang melakukan aksi untuk perubahan. Tumbuh, mengamplifikasi dan memanipulasi berbagai jenis serangan penyakit yang bisa jadi sekedar placebo untuk ia bekerja pada fungsi sesungguhnya; mirip politisi juga yang menjalin relasi dan menggunakan modalitas tersebut untuk meraih tujuannya. 

Hidup berdampingan dengan kondisi ini adalah sebuah permainan strategy yang tak henti untuk mengalihkan gerakannya, menyelamatkan organ yang diserang atau otak yang dituju. Menyebalkan sebenarnya, untuk tahu bahwa yang dapat menjaga dan memantik kebrutalannya semua hanyalah kondisi disekitarku. Itu memaksa menggabungkan perspektif sosial dengan kondisi riil kesehatan organ, tapi begitulah paliatif. Kita hanya belum mampu merasionalkan bagaimana suasana hati dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Sama seperti kurang berkembangnya teori meso dalam analisa sosial, dimana kebijakan negara terputus dari praktik keseharian kehidupan masyarakatnya. 


“The whole is greater than the Sum” sudah dilenyapkan dari perspektif dan praktik kehidupan modern kian membawa kesesatan nyata. Sakit - tapi kita masih menutup mata dengan sakit kecuali itu manifes di hadapan mata. Itu saja masih mengira atomistik dengan identifikasi sakitnya apa. Memudahkan manusia? Ya.. tentu saja. Setidaknya berhasil untuk melabeli sesuatu itu sehat dan tidak, lalu jumawa. 


Tubuhku terlampau lemas untuk bergerak, otakku tidak berhenti berputar tapi aku tahu nafasku yang terlalu lemah akan membawaku tidur. Sembari kubisikan, “hey penyakit semoga kau menemukan strategi kemenangan yang tidak menyeretku menyaksikan organku habis satu per satu”. Lalu melafal mantra; “semua akan baik-baik saja… kamu harus baik-baik saja.. masih ada yang membutuhkanmu hidup di dunia”.



Yogya, belakang teras. Ahinilagi. 28 Agustus 2020.
]]>
<![CDATA[Tour de RS: Vagina, Nyeri dan Ruang Relasi]]>Thu, 25 Jun 2020 10:20:49 GMThttp://arymami.com/notes/tour-de-rs-vagina-nyeri-dan-ruang-relasi
Malam. Meringkik, memeluk diri dengan lemas berharap raga ini berhenti gemetar kedinginan.  Merapal mantra semua baik-baik saja, sembari memaksa logika bekerja meyakinkan ini psikosomatis semata. Dan aku yakin ini psikosomatis semata, namun mengalirnya darah segar dan gemertak gigi yang tak mau diam tak membantu prosesnya. Aku baik-baik saja... aku baik-baik saja..
-
Darah dan alat medis selalu saja membuatku ngeri. Selalu ada ketakutan yang mendadak menyergap sepanjang tulang belakang, membuat detak jantung tak karuan. 

Tentu semua kegugupan tak pernah ditampakan - buat apa? dan yang lebih nyata.. pada siapa?!. hahaha.. 

Selain itu, buat sosok yang sudah bolak balik menghadapi pisau bedah dan berbaring di meja dengan penerangan melebihi restoran padang, sejak umur 8 tahun.. perlakuan medis tak seharusnya menggoyah gentar.  Eh.. busyeeet mau di taruh di mana muka ini? Ada image yang harus di pertahankan! .. Bukan sok jagoan, tapi latihan psikologis  buat kami yang terlempar untuk hidup sendiri, adalah hal logis yang perlu diasah.  

Tindakan medis selalu memiliki cara untuk menghabisi bayangan bahwa manusia memiliki kuasa. Bukan hanya kuasa yang dikoarkan para pemikir sosial, tapi juga kuasa paling dekat dan riil atas raga. Tidak ada yang lebih canggih membuat orang merasa sendiri dan tak berdaya, selain tindakan medis. 

Berbaring dengan sorotan lampu dan sadar saat besi-besi tersterilisasi dan dingin itu yang  memasuki tubuhmu bukanlah hal yang menyenangkan. Ruang tindak medis itu akan selalu terasa lebih dingin, jam akan berdetak lebih lambat, dan kehadiran Illahi selalu terasa lebih nyata.

Tanganku terkulai lemas menahan nyeri.. menggerakan jemari mencari pegangan dan masih saja tetap berharap ada tangan yang akan menggenggam hangat tangan ini. Besi dingin samping tempat tidur pasien tidak pernah ingkar menyambut. Pada momen seperti itulah  genggaman tangan menjadi berlipat maknanya. Andai ada...

"Sudah ada dua dokter yang meninggal karena covid", kata dokter spesialis mengajakku bicara dan memecah perhatianku yang mulai larut pada kengerian.

Aku selalu salut dengan para tenaga medis yang berupaya untuk mencairkan ketegangan. Setiap spesialis dan tindak medis mereka selalu memiliki cara sendiri yang unik. Ada yang memutar house music ditengah pembedahan, ada yang bergosip mengenai berita selebriti untuk meringankan suasana, ada yang bertanya tanpa henti pada pasien untuk mengalihkan perhatian.. macam-macam. Dan itu sangat membantu.. meski semua memorinya buatku tetap saja melekat dengan ngeri. Buat saya yang tidak berhubungan dengan dunia medis sehari-hari, tentunya tidak dapat menilai apa yang biasa dan tidak.. melihat leher terburai dengan darah tanpa henti buat orang awam sepertiku secara otomatis memicu kepanikan. Tapi buat mereka tenaga medis mungkin seperti kita yang melihat pipa bocor di rumah.. ya ntar di lem selesai. Aku tidak pernah tahu... 

Nyeri. 
"Sakit?"

Ya... menurut nganaaaa??? - bersikap biasa aja. Menegaskan pada diri ga usah manja! ini prosedur biasa. Santai santai... santai... think of good things... comm'on.. think nice things... wait why am i doing this? .. oh God.. can i just ask it to stop... relax mon... relax... 

Ini bukan bermaksud dramatis. Tapi buat kalian yang membaca seri "tour de RS"...dari sedikit yang bisa kubagi, aku sendiri heran dengan segala kejadian yang selalu aja ada yang mendadak "salah". Alhasil semua prosedur kesehatan yang katanya normal, kecil dan biasa.. itu tetap membuatku curiga. Ya.. bayangin deh.. didorong ke ruang bedah untuk bedah area leher, yang di prep untuk dibedah adalah lambung.. karena salah bawa dokumen pasien. Gimana ga shock? Masuk ke ruang bedah buat ambil usus buntu (katanya operasi kecil yang biasa aja) mendadak menjadi operasi besar dengan bedah 13 cm karena usus tidak pada tempatnya. Belum lagi tindakan eksperimental karena bulu babi hidup dalam kakiku. Setelah 5 kali operasi dengan kondisi sadar melihat kakiku di cacah pisau bedah.. dan ga berhasil... maka eksperimen pembekuan kaki menjadi opsi agar tuh makhluk mati (sekarang anda tahu kenapa saya benci ama bulu babi). Belum lagi jenis penyakit yang tampaknya mencintai tubuhku: mulai dari menjadi induk buat larva lalat, flu burung, flu babi, dan oh ya... juga penyakit darah yang  kemungkinan dimiliki satu dari sepuluh juta populasi dunia (seorang dokter mengabariku itu seolah itu menjadi prestasi luar biasa.. dan kalau bisa letak emoticon saat dia mengabarkan itu..  wajahku flat!).  Intinya... banyak hal di luar "ordinary" yang membuatku terpaksa.. dihantui ngeri tiap kali masuk ke ruang dokter.   

Setiap jenis dokter memiliki kengerian yang khas tersendiri.. dan tidak terkecuali obsgen yang sedang menghadap bagian diantara kakiku yang ngangkang terbuka. Mengeksibisikan kemaluan bukan dalam kondisi intim selalu penuh dengan kecanggungan. Dan ini menjadi persoalan perempuan dan persoalan gender yang bisa lebih panjang. Artinya, secara terstruktur dan sistematis, kontrol atas vagina itu perlu dipertanyakan bersifat patriakis atau tidak. Tapi.. kembali pada fakta obyektif sederhana yang berlaku di depan mata - seorang perempuan perlu secara rutin menunjukan vaginanya untuk tindak medis, yang tidak dialami penis. Think about it? - Dan beragam pemikiran kritis meluncur di benak, sembari membayangkan andai semua lelaki memiliki anak perempuan dan terlibat dalam perkembangannya.. apakah mereka akan bisa melihat vagina sebagai ruang kesenangan semata? - Pikiranku buyar dengan rasa nyeri. Dan satu komentar yang mungkin tak terencana terucap dengan keras: "Duuuh... kok ini ga bisa ya?".

Whaaaaaaatttt theeee... nooo.... lagiii? Harus ya selalu ada kejadian macam ini. Pingin nangis.. pingin nangis.. tapi... tak banyak yang bisa kamu lakukan saat beragam alat tertancap ditubuhmu. "maaf ini saya tekan dulu ya... " ... hening... cepat berakhir.. cepat berakhir... kakiku sudah lemas...sakit... nyeri... segera berakhir... gw ngelakuin ini buat apa sih... - berakhir. tubuhku masih nyeri dan gemetar. Kalau aku seorang gadis di kelas SMP aku pasti sudah lari ke pelukan mama dan menangis. Tapi ini sudah berakhir. Lega, hingga.. "minggu depan kita perlu melalukan prosedur tambahan lagi ya.. dijadwalkan sekalian.. dilihat sebagai blessing in disguise.. memastikan saja.. paling juga ga ada apa-apa.. dan nanti kalau pendarahan.. itu gak papa"...

..hening.. memaksakan senyum dan mengucapkan terimakasih.. sebelum tertatih lemas.. menuju kasir, menggesek sekian juta dari rekening untuk sebuah pengalaman sukarela yang masih kupertanyakan. Kaki dan tanganku dingin tak karuan, masih dipenuhi sisa ketakutan. Meminta genggaman.. tapi harus menuju pulang di rumah sendirian. Bukan hal baru... dan biasa saja.. toh sudah pernah terlewati, yang kusebut hingga kini, pencapaian tertinggi pergi bedah mandiri: daftar, bedah, bayar, dan pulang. Harusku akui, menyetir mobil dengan tubuh masih di aliri anastesi adalah sensasi tersendiri. Jangan dicoba! 

Tapi mungkin semua sudah berasa usang. Ada lelah untuk berandai ada yang menggenggam tanganku kala semacam itu, atau sebuah pelukan dan kata-kata "semua akan baik2 saja". Sudah lelah untuk berdebat dan mengkritisi mimpi 'tak sendiri' sebagai utopia dan hegemoni yang mencengkram tanpa cela, atau tulus meneriakan kalimat satir bahwa "sakit bukanlah untuk yang sendiri" karena ketidakadilan sistem yang melihat entitas terkecil warganya bukan individu tapi komunal.. benar, tapi lalu apa?. Mimpi dalam perdebatan ideologis hanya milik elitis. Tapi sebagaimana ramal teori Deluezian, segala ketegangan kebenaran hanya akan menyisakan yang autentik dan nyata di depan mata - tempat kita perlu berjenak di sana.   

Aku menghubungi seorang teman. "Hai... bolehkah aku vcall? Sebentar saja... aku hanya perlu mendengarmu mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja". -aku tahu hati kecilku membutuhkan mendengar itu-

​Untuk kali pertama ini, kurasa aku akan sisihkan segala makna "kehidupan", karena mungkin memang benar; bahwa hanya pengalaman yang memberikan makna atas kehidupan kita, tapi yang pasti hanya relasi-relasilah yang menentukan kesan dan cara kita melaluinya. Hanya manusia yang dapat menjadi faktor pembeda: cara perawat menghibur kita, cara dokter yang menenangkan hati, atau siapapun yang di sana.. menjadi faktor penentunya. 

Yogyakarta, belakang teras, 25062020]]>
<![CDATA[Extramaritial “Relationships” & Makan Pagi]]>Thu, 26 Sep 2019 06:06:41 GMThttp://arymami.com/notes/extramaritial-relationships-makan-pagiPicture
“Ternyata this marriage thing lebih sulit dari yang kubayangkan. Setidaknya hubungan bahagia yang kubayangkan itu tuntas saat menikah, aku bahagia dalam keluargaku dan gak nyangka kalau ternyata perasaaan-perasaan tertarik dan dinamika hasrat dengan orang lain selain pasanganku. Jangan-jangan bayangan idealku atas diriku yang setia itu omong kosong. Aku tuh bahagia ama keluargaku dan tidak ada yang kurang, setiap kali aku melihat mereka, damn! Aku begitu mencintai mereka, dan aku tak pernah mau melukai mereka.. tapi itu ga berhubungan dg rasa-rasa yang muncul..”
.



Aku mendengarkan kisah dan pengalamannya, sembari kembali ditampar bahwa disertasi panjang tentang kompleksitas relasi itu juga belum dibukukan. Aku mendengarkan argumentasi dan keresahannya mengenai definisi relasi “pacar diluar nikah” yang diletakan pihak ketiga untuk menyebut relasinya; yang membuat dirinya tersinggung untuk berpartisipasi dan menegaskan relasinya hanya dalam pernikahannya sembari mengeluh semua bisa jadi lebih nyaman andai dia tidak berupaya mendefinisi.

Tak ada yang aneh dalam ketertarikan dan hasrat dengan orang lain selain pasanganmu, terlebih saat kita membicarakan pernikahan. Omong kosong bila bara dan kesetiaan itu konstan dalam sebuah relasi panjang; aku mencoba meyakinkannya bahwa tidak ada yang tidak normal dari pengalamannnya. Bahkan pada tataran keintiman fisik yang terjadi, itu sangat biasa. ONS (one night stands) terjadi, dan terjadi begitu saja, meaningless as it maybe. Seks bisa sekedar kebertubuhan, dan seberapapun salah perilaku tersebut. Salah atau tidak salah itu sepenuhnya bergrilya di ranah subyektif, dalam sebuah relasi  bukan disana intinya. Aturan relasi bisa sangat beragam, dan semua di atas kertas bisa jadi sekedar kertas. Terlalu banyak orang yang melupakan essensi dalam relasi keintiman. Mayoritas membingkai kejujuran merupakan katarsis rasa bersalah yang egois dan perilaku yang bodoh untuk sengaja melukai pasangan. Tapi disanalah nilai essensial relasi keintiman dihabisi oleh konveksi dan tata aturan yang terdefinisi melalui bentuk-bentuk relasi; memilih tidak melukai tapi membahayakan dan menghancurkan pasangan.

Saat kita memutuskan untuk berelasi, apapun bentuk relasi itu; yang kita lakukan sebenarnya adalah mengemban tanggungjawab terhadap orang lain. Kita memilih untuk terlibat dalam tanggungjawab perasaannya, kebahagiaannya, kebaikannya, dan seterusnya. Bentuk-bentuk defisini relasi, mau itu pacar, nikah, rekan, apapun.. adalah bingkai atau batas yang menentukan sejauhmana spektrum tanggungjawabnya. Kesediaan untuk berelasi adalah kesediaan untuk bertanggung jawab. Sama seperti anda berelasi dengan bawahan anda di kantor, anda harus mau bertanggung jawab untuk menggajinya, tapi anda tidak perlu bertanggungjawab atas kekurangan kredit rumah yang dia beli untuk besannya. Bentuk relasi dan definisi hanya bekerja sebagai bingkai dan batas tanggung jawab anda dalam relasi tersebut, sebut saja “rule of the game”. Saat kita keluar dari bingkai dan batas, maka kekerasan pasti terjadi; dan kita akan masuk dalam pusaran relasi ‘abusive’.

Tapi tentu relasi keintiman dalam relasi percintaan menjadi lebih kompleks. Mendefinisikan sebuah relasi atau sekedar menyatakan anda punya relasi, berarti ada kesediaan untuk mengemban tanggungjawab; sehingga tawaran ‘pacar’ (sebagai definisi relasi) diluar pernikahan yang dilakukan oleh pihak lain tersebut, seberapapun terkesan menyingung, sebenarnya sebuah keberanian untuk meletakan tanggungjawab dirinya atas dirimu, dalam batas dan bingkai dan defisini relasi tersebut. Bukan hal yang populer tentu, saat kita bicara ruang abu-abu semua menjadi lebih nyaman tanpa definisi; bukankah kita semua sudah demikian fasih dibentuk untuk meniadakan tanggungjawab? Lebih karena tanggungjawab mensyaratkan kesiapan menghadapi konsekuensi (yang kita tahu bukan sekedar mengutarakan kata tapi aksi); dalam hal relasi maka konsekuensi kondisi pasangan anda.

Sehingga relasi bukan masalah harmoni, tapi menghidupi dan menghadapi ikrar dan tanggungjawab saat kita memilih untuk berelasi dengan beragam konsekuensi aktif di dalamnya. Ini semacam menggeser kacatama tentang posisi “penting” dalam interaksi; bila anda mengira anda orang penting, anda akan egois untuk bertindak demi kepentingan anda, dan bila anda tahu anda orang penting, anda akan menghilangkan ego untuk bertindak demi kepentingan orang lain.

Aku memandang mukanya yang sudah merengut dan mengeluh kenapa demikian kompleks. Ya... relasi dan ONS sangat berbeda. Batasnya sederhana, bukan? Bila anda tidak bersedia untuk menghadapi dan turut bertanggungjawab atas luka pasanganmu (pasangan pertama, kedua, dan seterusnya), jangan miliki relasi. ONS ONS aja... atau tanyakan Seberapa bersedia kamu melukai orang yang kamu cinta?

Atau.. sudahlah.. nikmati yang saat ini ada, seperti mayoritas pilihan orang.. biar ga ribet. Menyibukan diri dengan hal-hal lain sehingga bisa menjauhkan diri kita dari diri kita sendiri... menikmati relasi tanpa benar-benar berelasi... bukankah lebih mudah mengira kita penting daripada tahu kalau kita penting?
 
Yogya, sebuah pagi denganmu yang selalu memantik untuk menulis. 26092019.

#ngasahkemanungsan #practicinghumanity
]]>
<![CDATA[Pengorbanan, Keberserahan, dan Penghargaan: Matinya Pertarungan Rasionalitas dan Hati]]>Sun, 11 Aug 2019 14:19:28 GMThttp://arymami.com/notes/pengorbanan-keberserahan-dan-penghargaan-matinya-pertarungan-rasionalitas-dan-hati
Malam itu, takbir berkumandang. Memecahkan tembok pertahanan yang sudah seminggu lebih dipasang untuk menekan dalam-dalam lara, kehilangan, dan sedih tak berujung. Mendadak baru sadar, ini Idul Adha.    

Sedih itu tumpah. Di tengah seruan takbir yang tak terhindarkan bersenandung di tiap sudut kota. Bumi Mataram turut renta dan lindu. Sepi malam yang dingin digetarkan oleh seruan takbir, saat Ganesha menyapa lembut dari kejauhan; “tidak apa-apa”, memecahkan seluruh pertahanan air mata. Tepat di joglo sepi berhadapan dengan secangkir teh poci, dan mendadak semua tenaga untuk menghisap nikotin terhenti. Terisak kehabisan nafas.

Idul Adha, apa yang sudah kau korbankan sahabat? 
--
Ini bukan catatan religius, percayalah, belum sampai makomku untuk berani menyentuh tema itu. Kalimat tanya itu menyeruak begitu saja.  
 
Mengendapkan bahwa pengorbananku tahun ini adalah hal yang paling berharga dalam jiwaku. Satu-satunya pengecualian dari hingga sepanjang hidupku kini. Ada sesak yang tak tertahankan di sana.
 
Bohong bila mengorbankan/berkorban diringi oleh keberserahan. Pengorbanan selalu memiliki sejumput ketidak-relaan, dan segunung konsekuensi “bunuh diri” yang menampak jelas di depan mata.
 
Tahun ini, aku menyerahkan yang tak pernah rela aku lepaskan; hatiku. Dalam ironi kebertepatan waktu usia satu dekade, aku berhenti berjuang. Mengorbankan hatiku dan setengah jiwaku pergi.
 
Ini bukan (sekedar) tentang relasi. Ini bukan tentang cinta, bukan pula tentang dia. Ini sepenuhnya hasil dari pertarungan berhadapan dengan setan dalam diriku sendiri, tentang nurani tempat bersemayamnya ikrar Semesta.
 
Aku terpaksa menyerah dalam pertarungan atas diriku sendiri, mengorbankan setengah jiwaku, karena tak lagi ada yang dapat kuberikan. Dalam ketakutanku menghadapi siksaan dari keterpisahan twin flame (baca di google peran dan ketersiksaan hubungan ini), Semesta berbisik mesra: “you had loved him before this life time, and will always love him through other lifetimes, you are one and will always be one”; dan aku memberanikan diri untuk memberi ruang pada kala. Bukan karena cinta yang tidak lagi menyala. Bukan pula karena ia tidak mencintaiku. Tapi didasari oleh hukum fana, atas hilangnya ruang menghargai untuk relasi dapat hidup di dunia ini. Ini bukan putusnya relasi dengan patah hati, hatiku harus rela kukorbankan utuh. Terpaksa mengorbankannya dan berserah, pada ruang kosmik yang tidak mampu kurengkuh.

Kemenyerahanku bukan tanpa perjuangan. Dan, yakinlah aku bukan orang yang mengenal menyerah; secara paksa Semesta telah memaksaku menjadi pejuang tanpa pilihan. Kini seolah harus mendekonstruksi semua yang pernah dipelajari. Aku menelan pahit kemampuan rasionalitasku yang tidak lagi sanggup menciptakan realitas untuk hatiku menari penuh ekspresi. Ada kecewa bahwa IQku kalah untuk membuang yang nyata. Ada marah, bahwa aku tidak lagi mampu berpura menautkan rasionalitas dan hati yang kian senjang jaraknya. Aku baru benar paham konsekuensi dari kalimat “yang paling menakutkan dari kebohongan adalah ketidakmampuan mempercayai lagi”. Selama ini aku yakin kepercayaan selalu dapat diciptakan. Jangankan kepercayaan, realitas saja bisa diciptakan! Tapi aku harus terpaksa berserah, bahwa ada batas yang harus ditarik dalam dunia nyata.

Rasionalitasku setelah sekian tahun renta dan gagal juga membangun jembatan untuk menghapus kebohongan yang terpampang di depan mata. Kian kesulitan untuk mengasah lupa; menyaksikan mobil yang masuk parkiran hotel sebelum diriku berganti usia di tengah harus menggeret diri ke dokter, mendengar kebohongan tentang keberadaan, melihat nama yang sama yang tidak lagi berhubungan selalu berada di atas jajaran pesan. Aku hanya mampu menghela nafas atas beragam kebetulan Semesta. Bahkan rupture (istilahku untuk memotong singkat emosi dengan kebertubuhan) pun tak mampu menghilangkan tautan kebetulan Semesta. Menyadari dalam sedih aku tidak lagi fasih menciptakan realitas dengan meniadakan deretan nyata dengan lupa. Merasa marah rasa cintaku tidak dapat sedikit pun berkurang.

Sepanjang bertahun-tahun aku menantinya, “membayar” satu saja dari sekian momentum nyata yang harus kuhapus dari realitas dengan narasi kejujuran. Ini bukanlah persoalan kesetiaan, atau apapun yang terjadi di belakang, bukan pula mengorek kesalahan atau menginvasi privasi, terlebih mencari kesempurnaan, tidak sama sekali. Penantian ini juga bukan masalah ego, tapi pasokan tenaga rasionalitasku dalam mendekonstruksi nyata, sadar bahwa kemampuan rasionalitasku sudah butuh bantuan.

Menanti sekali saja keberanian untuk rapuh dihadapanku untuk sepenuhnya percaya bahwa aku cukup punya cinta yang melebihi semua ketidaksempurnaan dunia. Ini juga bukan masalah benar dan salah, tapi pasokan tenaga dari rasaku yang kian bocor tersia. Entah berapa kali pinta “tolong bantu aku percaya”, menjadi jeritan hati yang kian kehilangan jembatan ekspresi dan rindu dapat menyerahkan diri dalam ekspresi seutuhnya.

Setelah satu dekade rasionalitasku harus menyerah kalah. Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku tidak mampu lagi membohongi diri. Tidak dapat menentang fakta gamblang yang melampaui pertarungan rasionalitas dan hati. Fakta tervalidasi bahwa tidak pernah ada rasa menghargai yang diberikan. Aku memahami bagaimana aku tersakiti oleh hilangnya ruang “menghargai” yang jadi fondasi hidupnya relasi. Rasionalitasku tumpul berhadapan dengan kenyataan bahwa ia rela menyakitiku dengan membuang ruang penghargaan. Memohon untuk dicintai dan dihargai menjadi terlalu usang.
 
Baru kali ini aku berhadapan dengan nurani yang tak sejajar dengan suara hati. Dan aku terpaksa mengorbankan hati, untuk berserah pada irasionalitas Semesta. Malam itu, aku menatapnya dengan rindu dan lara yang tak punya kata. Berdoa semoga dalam masa kehidupan ini kita kembali bersama.  Dengan berat hati berserah, pada hukum Semesta yang tidak dapat dipaksa; Kala, Karma dan Dharma.
 
Tabir berkumandang diluar sana. Dan dalam renta tertatih memantra.. percaya..
 
 
Yogya, 2019.08.11
 
~ kalimatnya terngiang di senja fatahilah “aku siap melepaskamu”.. getar lirih di dadaku mengeja kini aku tidak punya pilihan untuk tidak melepaskannya
]]>
<![CDATA[The Wedding: Untuk yang Berani Menghidupkan Cinta.]]>Sat, 10 Aug 2019 00:23:42 GMThttp://arymami.com/notes/the-wedding-untuk-yang-berani-menghidupkan-cinta
How would you feel, if you can witness one of your dreams unfold and comes true?
It has to be a garden party, just close people... theres got to be speeches. And statement of love.. from the couple... something personal and heartfelt. Brunch is great... or wait.. coffeebreak... the sun has to be perfect for photos.. dancing.. drinks... theres got to be dancing.. how bout the decorations... Hey! Come on, why am I more excited than you?”, kalimatku meninggi untuk menghentakkan semangat di tengah terawang pikiran peristiwa yang membuat berat hatinya (konteks saat itu adalah sesi curhat yang menyiksa hati).  

Waktu itu sore, dan seperti hari biasa kami menghabiskan secangkir kopi di tengah hantaman kehidupan. Just another ordinary day yang dipenuhi peristiwa yang jarang melekat di memory. Namun, hari demi hari-lah (the doing of everyday) yang sebenarnya senantiasa jauh lebih mengikat makna, sebagaimana paparan Schuzt tentang relasi; atau aku lebih suka menggunakan kalimat “it’s always the little things that matter most in life”.

“Yeah, why are you more excited than me?”, akhirnya dia memecahkan keheningan. Kita tertawa dan kembali masuk dalam eksplorasi dan imajinasi atas selebrasi cinta. Percakapan kita sampai pada penghujung malam. Seperti dua orang gadis dalam konstruksi dan stereotype peradaban yang bermimpi tentang hari pernikahan mereka.

Hamparan tanyanya kujawab dengan diplomatis hingga kejujuran yang terlipat di lubuk hati; aku rasa aku selalu membayangkan pernikahanku demikian. Sedikit egois, tapi aku tahu kita tidak lebih berbeda memandang cinta. Pernikahan bagiku bukan selebrasi tata norma kultural dan unjuk prestise keluarga, bukan pula hitam di atas putih yang ditentukan negara. Karena toh, dalam hal cinta, secarik kertas tidak menentukan apa-apa. Aku tahu mereka juga berpandangan sama, kami percaya status bukan penentu hidupnya relasi cinta. 

Pernikahan bagiku demikian sederhana. Kembali pada hal essensial tentang menyatunya dua orang dalam cinta. Sebuah ikrar personal sepasang manusia. Sebuah janji yang bisa jadi tidak selalu sama dengan berbagai norma yang berlaku di luar sana.  Sebuah ikatan yang menyatakan bahwa hati menemukan kata “pulang”. Ikrar personal yang dirayakan bersama orang-orang terdekat, karena cinta itu hidup dan energi menyatunya begitu menular. Layak untuk dibagi pada dunia yang kian kehilangan essensi bersama, di tengah penyatuan yang sudah berkarat penuh obligasi dan peran mengikat. 

Entah berapa kali, aku telah mengajak tambatan hatiku untuk ‘menikah’; tanpa penghulu agama, KUA atau catatan negara. Cukup perayaan kecil sahabat terdekat dengan ikrar kami berdua. Hanya saja konsep kebersamaan semacam itu, tampaknya dilihat tak ada gunanya; aku senantiasa gagal untuk menyampaikan bagaimana ikrar menjadi fondasi bagi hati yang butuh rumah untuk ‘pulang’. Pernikahan bagiku mungkin bukan sebagaimana pernikahan biasanya; Hey, cinta itu tidak pernah biasa! Dan itulah yang Nyata. Relasi cinta tidak hadir dengan model dan pola generik, yang kerap tergelincir dalam kesemuan. The real, is usually extra ordinary. Dan buat dua sahabatku yang hendak mengikat janji, aku tahu ‘nyatanya cinta’ mereka tidak mengikuti format yang biasa. Dan sebuah perayaan pernikahan yang tidak biasa-lah yang kita temui hari itu. Sebuah perayaan ‘extra’ordinary untuk cinta yang memang extraordinary. Sakralitas atas ketidak-sempurnaan. Namun ketidak-sempurnaan yang nyata itulah yang membuatnya demikian sakral.
--
Jumat, 9 Agustus 2019. Cuaca sempurna. Matahari bersinar jingga di kebun yang tertata dengan rangkaian bunga. Ada campuran sedih, haru dan senang mendalam, yang seolah tarik menarik merentangkan isi dada; satu kata: bahagia.  Sepasang kekasih telah mengikrar janji mereka dengan cara mereka, dalam dunia mereka yang disiarkan pada jiwa-jiwa terdekat. Aku kehilangan kata menyaksikan sebuah narasi panjang tentang cinta. Seolah mereka menjadi perpanjangan mimpiku yang tidak pernah mampu aku miliki.
--  
Sebuah kehormatan untuk dapat menyampaikan beberapa kata personal di hari pernikahan mereka, meski sesungguhnya aku tidak tahu apa yang dapat aku sampaikan. Setiap kali hendak merancang kata, aku akan terjatuh dalam airmata. Belum lagi kondisi kontekstual yang menjadikannya lebih berat. Ada semacam keunikan kondisi hubungan romansa kita masing-masing, yang entah bagaimana seperti terikat hukum Semesta untuk berlaku kebalikannya; bila mereka sedang bermasalah, biasanya aku dan pasangan baik-baik saja, dan sebaliknya; bila mereka sedang rukun, biasanya aku dan pasangan berada dalam konflik tak berhujung. Seolah menjadi hidup paralel yang paradoks. Dalam hukum Semesta yang tampaknya masih berlaku; limpahan bahagia di hatinya hari itu sejajar dengan limpahan babak belur hatiku dalam dunia paralel tanpa ujung. Bagaimana pula caranya menyampaikan kata-kata bahagia dalam redam hati yang terluka? – Tapi aku teringat, bahagia, sedih, luka, tawa, berada dalam bidang yang sama. Essensi hidup adalah tidak lari darinya, maka aku bicara tentang cinta dan yang nyata. Ketidaksempurnaan yang sempurna.
--
Menjadi teman mereka berdua adalah menonton sebuah drama secara terpaksa. Tidak ada episode yang bisa aku skip sekedar karena lagi enggan menonton, dan jauh lebih intens lagi karena drama ini bergitu membuka partisipasi. Terlibat dalam berbagai dinamika emosi yang andai berada dalam pantauan alat pengukur gempa bumi, terlampau sering tremor dan erupsi. Perjalan panjang relasi mereka telah dipenuhi beragam peristiwa dengan spektrum melambung hingga menghempaskan jiwa; relasi saling menyakiti, relasi yang menghabiskan tenaga, relasi sehari-hari penuh kebosanan, dan relasi yang tetap menyelipkan tawa di setiap sudutnya.

Perjalanan mereka tidaklah mudah, penuh dengan duri yang sebenarnya cukup untuk menyatakan “sudah”. Tapi aku menyaksikan dua orang yang berani menghidupkan cinta, betapapun “kotor” kondisi yang ada. Dua orang yang bersedia melepaskan semua pertahanan diri dan rapuh dihadapan masing-masing, untuk membuka realitas yang paling menyakitkan atas salah dan ketidaksempurnaan. Bersedia menghadapi rasa sakit pasangan atas kekhilafan, bersedia untuk terus menemukan jalan terus menerus, berulang. Faktanya hidup memang penuh dengan hal yang menyakitkan, tapi mereka memilih untuk tidak berpura. Memilih ditusuk dan ditikam daripada manipulasi penenang hati, berani untuk memprioritaskan membangun percaya dengan meletakan fondasi terbuka atas diri yang seadanya. Bukan hal mudah untuk bersedia rapuh dihadapan orang yang paling mudah membunuh kita. Tapi disanalah cinta menjadi nyata. Dua orang yang tidak sempurna, dalam relasi yang tidak sempurna, dengan kebesaran hati bersedia untuk terus berupaya menghidupkan essensi bersama. Dan disitulah, mereka sempurna dalam segala ketidaksempurnaannya.

Aku terbata saat harus menyampaikan sepatah dua patah kata dihadapan tamu undangan yang tidak semua kukenal. Dan baru kudapat tenangku saat aku dapat menatap mata sepasang sahabat yang telah menjadi suami istri dihadapanku. Banyak yang ingin kusampaikan yang luput dari ingatan. Tapi yang jelas, satu season dengan ratusan episode drama sudah selesai. Menanti masuk season berikutnya. Dan andai mereka dapat membaca apa yang tersampaikan melalui pandangan mata; aku berlimpah haru dan melantun doa atas langkah mereka.
 

~ Selamat menempuh kebersamaan, jangan lupa untuk ingat bahwa kalian saling menyayangi. Tetaplah menghidupkan cinta yang nyatanya sempurna dalam ketidaksempurnaan. Tularkanlah pada dunia, karena kita tahu, dunia membutuhkan keberanian untuk merengkuh cinta yang kian sudah terselimuti semu imaji menghabisi nurani kemanusiaan.

Love is messy, but it makes life worth the ride.

Terimakasih sudah mewujudkan yang selama ini hanya mampu kumimpikan.
 
 
Belakang teras. Yogyakarta, 10.08.2019.
]]>
<![CDATA[Time, death, and imagination]]>Mon, 08 Jul 2019 18:56:17 GMThttp://arymami.com/notes/time-death-and-imagination

There are no death.- quoted.
Every since childhood, I had always wished for death. This may seem sick at all levels of rationals, psychology and science; but it was the only consistent wish that lasted to this point. My first memory of that thought was when I was about four years old. And no, there are no rational conditions that may possibly lead to this condition. I had a pretty cheerfull childhood, surrounded by a whole intact family, endless financial support, we were tight with stories shared, there was never one dinner left without sitting on the dinner table together, and all that grand family life usually depicted in the media of a happy healthy family lifestyle. This was really no condition where death would enter the mind of any normal child, none the less that of a four year old.
In my younger years I had at least five identical repeated dreams, with exact happenings and endings. Ones I can remember and narate perfectly. It was as if it came in waves for certain years. One exact dream lasted for 3 years, another for another 3 years, and so on. This made it really hard to not remember every detail of it. In first grade art classes,  when every child drew scenery or happy families, whilst I repeatedly drew the apocalypes of the world ending. It was basically a reflection and the exact picture of what i saw in my dreams.
Death was a wish that came without source. And dont get me wrong, I wasn’t depressed or anything of the such. It wasn’t something wished in sadness or in excitement. It was just there. Its like when someone asked if you’d like burgers or pizza for lunch, when you’re not all that hungry and lightly say without too much consideration a choice of the two. In the same notion, I would answer death. Yet I was a cheerful child, full of life.
I never really thought about it all back then. There was really nothing much to think of as a child. Teenage years was a different story. As moments unfold and begin to understand the world; stress, challenges, problems, and so on. The idea was thought in a more comphrehensive state. It continued as a young adult, adult, and to the obvious to this moment as I’m basically writting about it. The death wish was basically consistent among the years. But, no. I am NOT suicidal, if that question crossed your mind as you are reading this. Not that there were moments where I didn’t wish it so badly that I didn’t try once, twice or trice, but I was and am not suicidal.
Death wasn’t something you could pick up everytime you wish to. It would be a waste of time and absolutely useless trying to do so. A few NDE (near death experince or in bahasa mati suri) that I had experienced basically firmed that sense. If its not your time, it just isn’t. And we dont get to choose our time (this applies in all sense of human experience).
The living and the dead are not endings and beginings. May be this was the underlying believe that never gave me the suicidal state. Death doesnot end any agony or any problems you endure. I know this seems quite off from many references, but seriously, have you ever imagined that when in death your soul endure the same undesired complexities as when you were living, just that you wont be in a body? That would really be bomber dont you think?. The body in many senses are gifts of heaven as you endure your soul journey. A journey in which you cannot accelerate, cut, speed, or drop. You just have to go through it until it’s dued, even if it takes a million lifetime. And this is not a biased religious based argument, isnt all religion states where in a certain intrepretation we were given a chance to live again and again.
So why does death constantly cross my mind? Its not that I’m excited to die or something. Its not something I look forward to, as I feel that it’d just be another agony in a different dimension. The death wish is not a wish to not live. The thing is, I do not see life and death as opposing conditions. Being alive doesnot merely state are not dead, nor is dead stating you are not alive. Dead or alive just refers to the kind of medium in a journey you like or not have to finish. And I guess, it came to concious and awareness at an early age that the journey is getting too weary. I was just tired of being alive or dead. Tired of embracing it all. And embracing is not even a choice. We have to embrace all conditions to the fullest, or this journey just never ends. Living and death are both equally rejoiced. Timeless infinity only seems blissfull to those who hasnt yet endured them.
Having thoughts of death, does not mean that I do not mourn of death. Loss will always be detested and an agony, of the living. Its not something we could skip, erase or deny. Loosing someone dear is encruiciating in every aspect. And it is an agony, we all share and emphatize.
It is death that gives life meaning, and as the opposite also applies, it is living that gives death meaning. It’s all very scary in many ways, because the thing is.. its not about life or death.. it is always about between the two continums. The walk, the journey between the two points. The challenges we choose to take, and the patience we merely need to embrace.
 
 Sleepless, belakangteras, 09.07.19
 


]]>
<![CDATA[Kelamin dan Kemanusian: Dua Cangkir Kopi, Sepotong Cinta, Satu Senja]]>Thu, 23 May 2019 07:10:58 GMThttp://arymami.com/notes/kelamin-dan-kemanusian-dua-cangkir-kopi-sepotong-cinta-satu-senja..gw bener-bener gak paham, baru aja dia itu bareng ceweknya, lalu pergi pijet plus ama bo cewek lain. I dont get it. Ada gitu orang yang memperlakukan pacarnya kaya gitu ?”

.. aku meliriknya. terdiam. ekspresi datar. Meneguk dalam kopi yang tersaji.

“lu diem aja. Buat gw ga masuk akal. Comm’on man... what kinda human does that? It’s disrespectful. Lu yang expert relasi..  menurut lu gimana?”.
--
Aku menghela nafas panjang. Mendadak kelelahan. Relasi adalah topik yang sudah kuhindari sejak ujian terbuka dan sekian tahun babak belur meresapi kisah percintaan, perselingkuhan dan asmara.  Sebagai “pengamat”, ada sesak yang luar biasa, mendapati segala pengetahuan tidak cukup untuk membawa perubahan untuk memanusiakan manusia dan  berujung frustrasi yang berlebihan. Sebagai “personal”, ada sesak yang luar biasa, memahami perlakuan serupa, tidak hanya saat berjauhan tapi juga tepat lepas pertemuan. Paham penuh rasanya, mengalami dampak kompleksitas psikis dan sakitnya diperlakukan demikian, berulang.

Hening. Berharap topik bergeser. “harusnya kamu lebih bisa menjawab itu, lu yang cowok”, sanggahku sambil lalu. Dia hanya menatapku tajam, menanti jawaban. Aku menghela nafas panjang. Menanti rasa yang mendadak bergerak tak karuan menata diri. Menghimpun tenaga untuk menyampaikan yang immaterial, tanpa ekspektasi dipahami.
Tanpa tanda-tanda berubahnya topic, aku meresponnya.
--
 “..kau tahu.. ada hal-hal yang tidak dapat diterima otak manusia dan secara otomatis mengarahkan perilaku kita? Semacam basic operating system yg alamiah. Misalnya, sulit buat kita menerima kalau anak kecil dianiaya, atau pembully-an, atau sulitnya menerima tindakan genocide ras dan etnis. Secara alamiah otak manusia tidak dapat menerima dan terganggu dengan ketidakadilan. Itu alamiah dan terbukti secara ilmiah. Manusia akan menghindari semua perilaku yang menyalahi keadilan manusia lain. Buku The Moral Gene, memaparkannya dg sangat manis, bila kau pernah membacanya”.

“Kau mau menggunakan argumentasi moralitas untuk mendasari kalimat sederhana atas..  you don't do things like that to people you love?".

“Engga, bukan moralitas, tapi kerja logika. Meski moralitas adalah kata kunci yang menegaskan hubungan seks dan manusia. Sebagaimana dipaparkan oleh Darwin dalam The Decents of Man (1871). Aktifitas seks buat manusia adalah pilihan. Bukan kehilafan, bukan kebosanan, bukan juga berbagai argumentasi berbasis kebutuhan psikologis dan biologis. Semua aktifitas seks bagi manusia adalah pilihan, bersama dengan rasionalitas dan konsekuensi yg menjadi bagian dari pilihan itu. Tapi aku tidak membicarakan moralitas. Ini tentang struktur logika yang putus terhadap keadilan yang bermuara dari penyalahgunaan kuasa. Sedangkan kalimat “you dont do things like that yo people you love”.. ya.. ada benarnya... bila kau percaya cinta hanya hidup di ruang tanpa kuasa, ala Giddens. Hanya saja kalimat itu, terlampau abstraktif dan serat kultur. Pertama kita perlu membedakan tiga hal spesifik yang dipaparkan disini: cinta, seks, dan relasi cinta. Saling berkelindan sekaligus terpisah.  

Berapa sering kau dengar cowok bilang cinta dan seks adalah dua hal yang terpisah? Bukan dalam upaya membenarkan apapun, tapi.. itu memang dua hal yang terpisah. Love is.. something that can just be out there not connected to daily things we do. Seks adalah aktifitas kebutuhan biologis semua orang. Dalam konteks industri rekreasi berhubungan dengan seks, itu juga sepenuhnya berbeda. Sebagaimana bisnis, ada pasar hasrat, ada profesi, ada kebutuhan. Dalam sudut pandang industri hasrat manusia, kita mendapatkan pasar dengan berbagai profesi gigolo, prostitutes, dan beragam bentuk tempat rekreasinya. Itu semua hal yang dapat dilihat secara atomistik. Tapi, kalau bicara kita adalah relasi, sebagai mana tadi temen lu pacaran dan lalu cari bo atau pergi ke industri rekreasi seks, maka basisnya adalah relasi. Cinta, sebagaimana orang sering menggunakannya sebagai dasar perilaku, sebenarnya tidak berhubungan. Bicara data saja, alasan terjadinya perselingkuhan itu, bukan karena seorang dalam ikatan relasi itu tidak mencintai pasangannya. Perilaku tidak setia terhadap pasangan, dalam bentuk apapun – keintiman seksual, keintiman wacana, keintiman psikis, apapun – tidak pernah karena orang itu tidak mencintai pasangannya. Bukan itu. Perilaku itu ada karena orang itu tidak menghargai pasangannya. Di sinilah ia menjadi serta kultural. Lebih lanjut sebenarnya, bukan sekedar tidak menghargai pasangannya, tapi tidak menghargai relasinya. Andai mau dihubungkan dengan cinta, jalurnya masih panjang; urutan rasionalitasnya dapat diawali dari tidak menghargai, melahirkan tidak ada percaya, mengakibatkan berhentinya keterbukaan, melahirkan hambatan komunikasi,  dan sampai pada titik hilangnya ruang emosi cinta untuk bisa berkembang, dan... well... secara menyesatkan banyak orang merangkumnya dengan berkata kalau cinta tidak akan begitu. Karena itu pula sangat berbeda bentuk relasi yang umumnya kita tahu, dengan konsep polyamori yang memastikan ruang dialogis itu ada. Jadi sulit untuk untuk bilang itu masalah cinta, bisa jadi temen lu ngomong ama ceweknya kalo dia mau ngent*t cewek lain, dan itu berarti bukan soal cinta karena masih membuka ruang dialogis itu”

“So this is about respect?”

“Well.. you said it your self in the begining. Its disrepectful. Tapi.. di sinilah sebetulnya menjadi kompleks. Kembali pada tesis awal bahwa secara natural, otak manusia otomatis tidak menerima perilaku yang melanggar keadilan. Hanya saja di dalam masyarakat, kita fasih membagi manusia dalam beragam kategori, dan dalam kategori-kategori inilah relasi kuasa bermain untuk membenarkan apa yang adil dan tidak adil. Dalam relasi cinta heteronormatif ekslusif sebagaimana konteks yang kita bicarakan saat ini, maka makna superstruktur masyarakat yang patriakal, memberikan ruang kuasa lebih pada laki-laki daripada perempuan. Ini merupakan privilase yang dimiliki lelaki, namun sejauh mana lelaki itu menggunakan privilase dari relasi kuasa itu meletakan elemen penghargaan atas manusia lain. Hanya saja, terlalu banyak privilase yang dikuatkan dengan beragam normalisasi, bahkan disalahgunakan untuk menciptakan identitas maskulinitas. Normal untuk lelaki tidur dengan banyak perempuan, atau normal untuk lelaki bermain tangan, hingga keharusan untuk mencapai indikator-indikator itu semata untuk menjadi lelaki... you know.. things like that. Dan dipandang sangat tidak normal bila kebalikannya. Normalisasi yang sering hadir juga muncul dalam argumentasi kebutuhan dan sudut pandang atas seks bagi lelaki berbeda, atau praktik ini ok sepanjang pasangan tidak tahu. Tidak banyak lelaki yang bisa keluar dari stereotype itu. Dan tidak banyak orang yang bisa menahan untuk tidak menyalahgunakan kuasa privilasenya. Dan sayang menurutku, yang seharusnya menjadi hal yang normal, masyarakat kita malah sibuk memuji karakter yang bisa, tidak menyalahgunakan privilasenya. You know... kaya pejabat yang bisa potong antrian tapi memilih ngantri, kita anggap sebagai hal yang wow banget padahal.. thats basically how ‘adil’ works dengan tidak menyalahgunakan kuasa.  Jadi.. dalam kompleksitas ini, faktanya sederhana, ini masalah penyalahgunaan privilase relasi kuasa dan sejauh mana orang tersebut menghargai pasangannya setara atau tidak setara sebagai manusia atau jatuh dalam obyektifikasi dan meletakan perempuan sebagai second sex secara harafiah. Ini, bila bicara relasi; karena bagaimanapun relasi memiliki elemen saling menghargai. Bila mau tetap ‘adil’ sederhananya jangan masuk dalam relasi, sehingga tidak perlu ada penyalahgunaan kuasa. Mungkin hal ini tidak dia sadari, mungkin dia sadari. Tapi bicara tentang struktur makna begitu rumit, karena itu masalah keseluruhan sudut pandang realitas yang dibangun oleh masyarakat, dan akan kembali pada dua elemen penting, pertama karakter orang tersebut keluar dari stereotipe dan yang kedua, bila percaya dengan otomatisnya otak kemanusian, itu masalah logika makna dan sangat berkaitan dengan tingkat kecerdasan orang tersebut. Komentar terakhir cuma sarkas.. tapi begitulah.. itu komentarku”.

Aku meneguk sisa kopi di cangkir yang tersaji, sembari memperhatikan sahabat lelakiku mengangguk-angguk. Ia membiarkanku menikmati jeda dari gejolak kemuakan, sebelum kemudian memecah hening sembari menatapku tajam.
“Hmm... bila semua otak manusia tidak menerima ketidakadilan, maka, kenapa kamu.. atau perempuan pada umumnya di sini, menerima segala ketidakadilan itu. Relasi cinta macam apa yang dibangun?”

Aku menatapnya nanar. Entah tertangkap sebagai lelah, marah atau sebagai mana yang kurasa sedih yang mendadak menyeruak di hati. “Well... “ menghela nafas panjang. “to be honest... i am wondering the same thing.. tapi aku hidup di masyarakat ini.” Dia memincingkan mata.  “Sebentar, sebelum lu protes.. jawaban buat pertanyaanmu panjang bro dan kopiku sudah habis. Tapi soal relasi cinta macam apa.. singkatnya, sebuah relasi, iya.. tapi cinta.. mungkin bukan di situ tempatnya”.

Senja menyambut kita, dan percakapan itu luruh dalam langkah kesibukan ibu kota.
 
 
Jakarta, Februari 2019
]]>
<![CDATA[Catatan Melawan Kanker]]>Tue, 23 Apr 2019 09:43:34 GMThttp://arymami.com/notes/catatan-melawan-kankerSeharusnya, aku bergegas mengetik kisah Kinara-kinari yang sudah mendekati tenggat waktu pekerjaan. Tapi seperti biasa, semakin banyaknya tumpukan pekerjaan yang dekat dengan tenggat waktu pekerjaan, malah tidak disentuh dan beralih mengerjakan hal lain. Hahaha... aku tidak tahu apa ini juga terjadi pada orang lain. Kinara-Kinari, adalah simbol cinta dan kebersamaan, dan dalam perenungan itu.. aku terbawa pada gambaran ayah-ibuku. Sepasang suami-istri yang bisa dibilang memberikan contoh kebersamaan yang terlampau tinggi dan ideal untuk diwujudkan. Ayahku masih saja memberikan ibuku bunga ditengah umur anak-anaknya sudah mendekati angka 4! Bersama asam-garamnya, mereka mewujudkan kebersamaan, romantisme dan cinta yang sulit untuk tertandingi. Semacam Kinara-Kinari dalam wujud manusia.  Ya.. alih-alih mengerjakan yang seharusnya kukerjakan.. pikiranku terbawa pada ayah-ibuku yang kini sedang berada di IGD.. sembari melihat satu draft buku disamping laptop... buku tulisan ayahku “Esok Matahari Bersinar: Catatan Melawan Kanker”.

Dalam jangka waktu dua setengah tahun lepas pensiun dini, sudah tiga buku dihasilkan; “Nandur Ngunduh: Dari Pemikiran ke Aksi Perubahan” (2017), “Di Penghujung Lorong Kehidupan” (2018), dan “Esok Matahari Bersinar: Catatan Perjuangan Melawan Kanker” (2019).

Ayahku memang sosok yang selalu produktif, idealis, dan karakternya penuh dengan integritas dengan semboyan yang tampaknya sudah melekat berbunyi “kontribusi publik”.

Buku pertamanya berbagi mengenai pemikiran dan aksi pemberdayaan masyarakat, yang mewarnai hampir seluruh karirnya di lembaga internasional dalam wilayah kerja Afrika dan Asia. Buku tekstual ini mudah dicerna dan aplikatif untuk digunakan publik dalam hal pemberdayaan masyarakat. Buku kedua dan buku ke-tiga bersifat lebih personal yang berpusat pada perjalanan kehidupan dengan belahan jiwanya melawan kanker. Mama, telah bebas kanker payudara sekian dekade lalu, kini kali kedua ia berjuang melawan kanker kedua kalinya di tulang dan deretan organ lainnya.  

Permintaan untuk memberikan catatan maupun testimoni pada draft buku ke dua maupun ketiga, hingga kini belum mampu kusanggupi. Mungkin karena diriku menjadi bagian dari cerita, mungkin karena terlalu dekat, mungkin karena terlampau emosional; catatan akan terasa terlampau sempit sedangkan testimoni akan terasa terlalu dangkal. Selain, tentunya kita (anak-anaknya) memiliki subyektifitas dan kisah pengelaman sendiri dari peristiwa yang saling mengikat; yang mungkin suatu ketika akan kami tuliskan.

Kelahiran buku-buku ini memiliki sejarah, motivasi dan harapan tersendiri. Aku tidak akan menceritakan semuanya, khusus untuk yang terakhir.. aku tahu bahwa “Catatan Melawan Kanker” bukan sekedar berbagi pengalaman, namun hadir dari sebuah kegelisahan atas minimnya referensi mengenai orang-orang terdekat, keluarga, dan lingkar dalam orang yang melawan kanker dan berjuang bersama melawan kanker. Semangat mengetik papa diawal telah diwarnai oleh kegelisahan itu, dan dalam banyak jalan yang mungkin tak tampak aku selalu mengagumi semangatnya.  Meski aku belum benar-benar tuntas membacanya, mungkin buat teman-teman disana yang mengalami hal serupa, semoga buku ini dapat memberi semangat bahwa anda tidak sendiri.

Masih dalam bayangan Kinara-Kinari.. tampaknya aku harus bergegas mengerjakan tangungan.
 

​Belakang teras, 23.04.2019
 
Bila Anda tertarik, buku-buku tersebut dapat diperoleh dari penerbitnya di Yayasan Peneleh, atau bisa pesan saja disini. Dengan harga.. yang nanti saya akan tanyakan ke penerbit. Namun, khusus untuk buku ke-dua, sayangnya masih menjadi dokumen keluarga yang dipertimbangkan akses publiknya.  
 
 
]]>