<![CDATA[arymami - NOTES]]>Thu, 03 Jan 2019 20:02:32 -0800Weebly<![CDATA[Kala Dulu, Kini dan Depan : Kenikmatan Menghilangkan Realitas]]>Tue, 01 Jan 2019 19:53:03 GMThttp://arymami.com/notes/kala-dulu-kini-dan-depan-kenikmatan-menghilangkan-realitasTahun Baru. Sudah hampir 3 tahun tanpa kreasi. Tidak lagi ada catatan pendek yang terlempar dan tersimpan di alam maya. Tidak ada lagi wacana yang terpantik dalam ruang-ruang imajiner yang menggoda. Dalam perbandingan kala dulu, ada perbedaan yang drastis. Dulu, hampir setiap minggu ada sebuah catatan. Lalu berhenti begitu saja. Kata, wacana, atau mungkin juga sebagian jiwa lenyap entah kemana. Aku mengalami masa di mana bahkan diam pun kehilangan makna.

Aku pernah bertanya 5 tahun yang lalu mengenai diamnya para manusia diumur “tanggung” (tak tua tak muda itu). Bingung membayangkan apa mereka terlalu sibuk, terlalu larut dalam keseharian, terlalu lelah, atau sudah selesai dengan berbagai hal yang perlu diperbincangkan. Sampai pada titik ini, aku sendiri tidak bisa memastikan; tapi aku memiliki satu tesis; yang ijinkan aku paparkan melalui refleksi diri. Padaku:
Tulisan terakhir yang kubuat adalah disertasi. Tulisan personal terakhir yang kubuat adalah kata pengantar disertasi. Lepas itu... tidak ada lagi. Selain tentu tulisan dalam tuntutan pekerjaan yang tidak memiliki “nyawa”. Pada tataran manifest, tidak menulis membuatku merasa rugi perlu membayar hosting dan domain setiap tahun tanpa berkontribusi berbagi dan menumpuk ide.

Tidak membaca tidak menulis; mungkin benar adanya. Lepas mendapatkan gelar berlebihan “agung” itu, aku juga tidak membaca buku teks selain untuk sekedar fungsional bila diperlukan. Ada sejenis.. “gegar” dan malu dengan kesadaran bahwa kita tak tahu apa-apa, dan juga dampak melihat semua tulisan sendiri sebagai sampah. Perilaku orang terhadap “gelar” itu juga tidak membantu; terlalu banyak yang berasumsi bahwa gelar itu menjadi sertifikasi bahwa sosok tersebut menjadi encyclopedia berjalan; yang membuat sedih kala harus mengecewakan orang.

Buku yang kubaca dalam beberapa bulan terakhir hanya novel, sejarah, dan buku-buku yang sama sekali tidak berhubungan dengan pengembangan pengetahuan dalam bidang “ilmu”ku. Aku membaca dan belajar Perikanan sebagai contoh, yang membuatku merasa nyaman tidak memahami sama sekali kalimat yang tertulis di sana.  Perasaan itu jauh lebih baik daripada membaca hal yang kupahami, lalu geram. Geram yang sebenarnya diwarnai oleh kemarahan pada diri sendiri. Biasanya hanya di rentang pendulum pendapat berbasis keangkuhan ego: ‘kaya gitu aja di tulis’ dan ‘kenapa bukan aku yang menulis ini’ ; baik keduanya berimbas pada mikir tiada henti. Tidak nyaman rasanya. Lalu, insting manusia untuk menjauhi ketidaknyamaan bekerja tanpa disadari; lari. Aku akui, aku lari dari segala bentuk stimulan yang dapat membuatku melakukan refleksi.

Beberapa sosok “bijak” telah memaparkan mengenai post-traumatic doktoral. Hal yang sebaiknya tidak dibicarakan mengingat populasi doktoral masih terlalu kecil dan semangat pendidikan itu perlu dijaga. Tidak terlalu penting juga, karena toh katanya akan lewat dengan sendirinya; baik karena kerinduan atau tamparan substil kehidupan. Aku juga enggan memikirkannya. Buat apa? Yang ada di depan di jalani saja. Hidup perlu ditata, olah raga teratur, rutinitas yang terjaga. Yang membuat nyaman dipelihara. Yang menyesakan, hilangkan. Toh kita adalah perangkat biologis yang adaptif, belajar sembari menanti waktu. Tanpa disadari, pengalaman dan perjalanan mengarahkan dan mengajak menuju titik nihilis. “Hoooraaa!”, seperti kata Al Pacino. Mungkin ini syndrom umur tanggung. Lari adalah kata kerja yang melingkupi karakter dewasa (baca: tampak bahagia, stabil, dan tertata).

Semua berjalan baik-baik saja. Hidup lho... mau apa? Mimpi-mimpi darah muda seperti kata Rhoma, sudah hilang ditelan pengalaman pahit kehidupan.. hahaha... atau tepatnya; hidup sudah mengajari cara memilih realitas. Menjawab sepenuhnya tanya Deleuze; how might one live?  

Pelarianku yang nikmat, sejenak berhenti (buktinya aku menulis ini). Semua karena kebetulan bersua dengan Hans-Georg Gadamer, seorang murid  Martin Heidegger, yang intinya memaparkan bagaimana makna mengikat realitas. Contohnya; perbedaan sahabat dan kenalan, yang hadir karena kita mengikat makna. Proses mengikat makna dalam interaksi itu sendiri menciptakan nilai untuk mengada, bila kita tidak mengikat makna maka sosok sahabat itu juga akan tetap sekedar seorang kenalan. Gadamer membedah filsafat hermeneutika; hal-hal terkait makna atau lebih lanjut bagaimana manusia memahami kemengadaannya. Duh... berat! Ada hal-hal nyata yang lebih penting dihadapi; seperti memperbaiki atap rumah di tengah musim hujan.

Tapi di situlah intinya; dalam hening sejenak, bukankah kita semua sibuk mengimunisasi diri dari realitas makna? Banyak ketidaknyamanan di sana, terlebih dalam umur yang tanggung ini. Segala ketidaknyamanan yang timbul darinya sudah terlampau jumud. Menormalisasi adalah perjalanan panjang yang tanpa tersadari menjelma menjadi ‘zona nyaman’ yang sebenarnya tidak memiliki kenyamanan selain adanya konsistensi dan prediksi yang sama untuk menjadi peganggan. Faktanya, sekadar imunisasi untuk menjauhi perubahan (baik itu pikiran, emosi maupun konsekuensi riil dari aksi). Refleksi makna terlalu menggelikan, pertanyaan akan makna bisa mudah dihilangkan.  

Bila ini dilihat sebagai fenomena kontekstual, maka; ada keterpaksaan yang membingkai kekinian tanpa henti. Mengikat makna, membaca masa lalu untuk masa depan terlampau mewah di tengah tuntutan roda kapitalisme tidak memberikan ruang refleksi untuk bekerjanya IQ yang mengendap di kepala manusia. Dan seperti keterlenaan disrupsi dan kerja  apik industrialisasi pada kehidupan keseharian manusia, jejaring kultur turut mendorong kemandekan perkembangan kehidupan dengan keterputusan dan lompatan makna tiada henti. Fasih membungkus kemandekan ‘berkreasi, berpikir dan berbuat’ dengan materialisme kesibukan yang memukau, tanpa isi. Tapi toh tak ada yang peduli.. toh buat apa menyiksa diri. “Jangan lupa bahagia” jargonnya. Dan siapa yang tidak bahagia? Merengkuh hidup dan hari ini; terlepas bahwa kita semua sibuk hidup (survive) dan sengaja dengan keras hati melupa untuk mengada dalam hidup (to exist).

Entah apa semua itu akan berubah saat umur sudah senja dengan tubuh yang renta tanpa daya selain segudang nostalgia, kala disinggahi tanya; “apa yang sudah aku lakukan dalam hidupku?”.

Aku ingat kalimat dalam pengantar buku Yuval Noah Harari (2018) yang nendang“In a world deluge by irrelevant information, clarity is power.” Kalimat cadas! Tapi bisa jadi itu salah. Kurasa saat ini irrelevance itu sendirilah yang menjadi clarity, menjadi kebenaran, menjadi kekuatan. Kita sibuk menjadi irrelevant untuk mengada yang tiada. Bukankah kita masih sibuk bertanya kala waktu menyapa dengan deadline; apa saja yang sudah kulakukan selama ini? Sebelum kembali larut dalam berbagai kesibukan yang tidak mampu merangkai arti.

Belakang Teras, 2 Januari 2019.

Selamat Tahun Baru. Jangan lupa untuk selalu jatuh cinta. Doaku untuk tak lupa mengikat makna yang menyusun arti, seperti cinta yang hanya butuh sekumpulan imajinasi.
 
]]>
<![CDATA[Gratitude:Study Journey (2)]]>Sun, 30 Jul 2017 09:02:36 GMThttp://arymami.com/notes/gratitudestudy-journey-2Picture
Mendapatkan gelar doktor. Lalu apa? 
Kala menjalani studi.. ungkapan "normal" yang sering kali terdengar adalah nanti saat kelar, maka kau akan lega, beragam kesempatan baru akan terbuka, doktoral adalah sebuah tiket "lain" kehidupan.. dan tentu saat sampai di sana aku mendapatkan begitu banyak ungkapan selamat dan ratusan pesan apresiasi dapat mencapai titik pendidikan yang masih belum dapat dinikmati semua orang. Banyak nasehat dan pesan yang akan didengar kala berupaya menyelesaikan sebuah tahap pembelajaran. Bagiku, sepanjang berjuang menulis "suara" yang kuanggap perlu didengar, aku hanya membayangkan dan tidak sabar mengungkapkan kelak pada titik kelulusan: "I did it" dengan rasa yang aku asumsikan lega tiada tara.  Aku bahkan telah mempersiapkan berbagai foto perjalanan dengan pose "liberasi" sepanjang aku menulis disertasi, pas untuk sebuah caption :"I did it", suatu ketika nanti. Satu tahap sudah terlewati, sekali lagi. Yeaaay! Seharusnya gembira dan excited! Tapi hingga saat ini, aku hanya mampu menghela nafas panjang.

Rasanya campur aduk. Overwhelmed, mungkin adalah kata yang tepat. Sehingga semua tampak "surreal", memantik introspeksi yang tak sederhana. Surreal.. memahami bahwa setelah lebih dari 20 tahun pendidikan ternyata aku bahkan belum melangkah pada anak tangga pertama sebuah perjalanan akademik. Surreal memahami bahwa setiap tahap baru memang membutuhkan versi diri yang baru. Surreal memahami ada "tugas" berbeda dalam upaya manusia menanusiakan manusia. Surreal menemukan begitu banyak kegembiraan tertuju padaku yang mendadak memantik tanya mendalam tentang bahagiaku. Berasumsi bahwa selama ini ia menjadi bagian dari perjalanan studi dan raihan akademik. Bertanya-tanya apa selama ini aku pernah benar-benar memperhatikannya, atau bahkan apa sudah mulai melangkah meraihnya? Mengupas domino "menuntaskan sebuah janji" mendapatkan "tiket" mendadak meledak keberbagai arah. Cerita untuk lain waktu. 

Kali ini aku hanya ingin berbagi rasa syukur dan terima kasih yang sempat tertuang dalam pengantar disertasi. Sekaligus mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak terhingga buat semua pihak yang mungkin tidak tersebut dan telah bersedia menjadi bagian dari perjalanan ini.   - Yogya.30.07.17


KATA PENGANTAR

Untuk sebuah janji, Limbo dan mimpi-mimpi 

yang tak menyentuh bumi
Masih segar teringat kala upaya menguntai pikiran dalam ratusan halaman harus terpaksa dibuang, atau sekian banyak tulisan yang tidak cukup layak dimasukan. Menuliskan penelitian ini, sebagaimana saya yakin semua mahasiswa yang sedang menuliskan tugas akhir, merupakan sebuah perjalanan panjang yang emosional. Tema pilihan penelitian ini yang demikian rekat di hati juga tidak membantu. Pada awal tahun 2015, saat saya menemukan diri saya terjerat kesedihan dalam kehidupan partisipan penelitian saya, saya kira saya benar-benar sudah salah memilih tema!

Penelitian etnografis dalam mengulik subjektivitas memang memiliki tantangan tersendiri. Menuliskan arus dinamika rasa dengan berbagai analisa, sempat meletakan saya dalam konsekuensi arus-arus kontestasi personal yang sayangnya (bila ada) tidak sempat saya perhatikan dalam beragam kuliah tentang metodologi. Tidak terhitung banyaknya jam berderai air mata, amarah, dan belum lagi deretan penyakit fisik yang sebenarnya bersifat psikosomatis dalam upaya untuk menyuarakan yang “terbungkam”. Tetapi, saya beruntung berada di tengah kumpulan civitas akademika yang luar biasa. Tak henti tim promotor saya meyakinkan setiap kali saya “patah” bahwa yang menjadikan seseorang layak disebut dengan gelar tertentu bukanlah karena sebuah tulisan, namun sebuah proses belajar dalam meraihnya. Sampai pada titik ini, saya baru memahami bahwa pesan itu bukan sekedar jorgan “semangat” namun menegaskan bahwa gelar ini baru awal dari sebuah proses yang masih begitu panjang ke depan. 

Saya bersujud syukur bahwa pengalaman yang saya dapatkan dari penelitian ini bukan sekedar tualang intelektual namun sebuah “pelajaran” tentang kehidupan. Penelitian ini telah membawa saya ke tempat-tempat yang tidak pernah saya duga dan bertemu dengan begitu banyak orang luar biasa; tanpa pamrih bersedia membagi sepotong hidup mereka yang telah “menyentuhku” lebih dari yang mereka tahu.

Kata pertama hingga kata terakhir dalam disertasi ini, tidak akan pernah tuntas tanpa dukungan sosok-sosok imanen dan transenden. Dengan segala rasa syukur, saya ungkapan terimakasih sedalam-dalamnya pada:
  1. Untuk yang tidak terlihat, Semesta dan energi dunia.
  2. Tim Promotor saya, Dr. Wening Udasmoro dan Dr. Rata Noviani yang tak lelah mendorong dan membimbing saya dalam kembara intelektual.
  3. Tim Penilai; Dr. Budiawan, Dr. Dewi Candraningrum, dan Prof. Dr. Faruk HT yang telah bersedia terlibat dalam “mendewasakan” pengalaman serta karya ini.
  4. Tim Penguji; Dr. Budi Irawanto, Dr. Wiwik Sushartami, dan Prof. Heru Nugroho yang bersedia mendorong dan membuka berbagai perspektif baru penelitian ini.
  5. Keluarga batih Ari, yang tanpa mereka aku tidak terlempar disini. Papa Arijanto, Mama Eny Sulistiary, Mbak Ari ‘Mona’ Kamayanti, dan Arinanda ‘Movic’ Pamungkas. Tentu juga Dhanik, Maudy, Damar, Jillan Namira, dan Aziz Ahmad.  
  6. Muhamad Sulhan, untuk dialektika yang tak pernah tuntas dan ribuan hal yang tidak dapat terdefinisikan.
  7. Redik Brasiano, untuk menjadi satu-satu orang yang memahami caraku berpikir, dan Steve N., untuk kemengadaannya dalam hidupku.
  8. Maulin Niam, yang bersedia membagi waktu, ilmu dan tenaga dalam langkah-langkah “krusial” perjalanan ini. 
  9. Budhy Komarul Zaman, yang tanpanya tidak pernah akan ada perjalanan merasionalisasikan rasa dan memantik segala penasaraan dalam telaah cinta.
  10. Para MesisAngels; Syaifa Tania, Mashita Fandia, Lidwina Mutia, dan Mufthi Nurlatifa yang senantiasa bersedia menampung segala sedihku, bahagiaku, dan berjalan bersamaku. 
  11. Keluarga besar Kajian Budaya dan Media, yang sejak perkenalan kita telah membuatku jatuh hati, merasa pulang, dan merasa hidup.
  12. Mereka yang suatu ketika menyentuh, terjalin, berkelindan melipat kenangan dan pelajaran dalam jalan hidupku; Mas Hatta, Ragil ‘Nang’ Gde Pembanyun, Nuktoh ‘Kasan’ Kurdi, Dipa Pragyan Joshi.
  13. Mas Wendratama yang tidak lelah mengajariku tentang bahasa, Mas Dhanan Arditya yang bersedia meluangkan waktu kreativitasnya dan jajaran teman-teman komunikasi 98 yang tidak dapat saya sebut satu per satu.
  14. Mbak Yenni, Mbak Nova, Mas Agus dan jajaran malaikat tanpa sayap yang memungkinkan karya ini sampai pada garis finis.
  15. Para Galaurators, Mas Andy Faizal, Mas Guntur, Mas Ardianindro Yuwono, Mas Edwi, Mas Fajun, Mas “Bams” Sukma Wijaya, Mbak Desi dan Mbak Yusida “Ayus”, teman seperjuangan yang tanpa mereka, doktoral takkan terasa sama.
  16. Keluarga DIKOM UGM, Mbak Rahayu, Mbak Novi Kurnia, Mas Kusridho ‘Dodi’ Ambardi, Mas Adam ‘Levine’ Sukarno, Mas Widodo, Mas Nyarwi, Bang Abrar, Mbak Gilang, Mbak Lisa, Mbak Rajiyem, Mbak Achnia, Mas Irham, Mas Dandit, Mbak Pulung ‘Uci’ S, Mbak Hermin Indah Wahyuni, Mas Ngurah, Mas Syafrizal, Mas Wawan, Mas Subari, Mbak Okta, Mbak Artis, Mbak Fitri, Mas Massageng, Mas Anung, Mas Adi, Mas Anung, Mas Ateng, Mas’ad, Mas Gunawan, dan yang selalu mengajari untuk tegap berdiri “Mas Prof. Nunung Prajarto”.
  17. Jogja Salsa Community! Yang tanpa henti senantiasa menyentakan kembali semangat loyo dan memberikan saput ceria dalam proses penelitian ini.
  18. Mereka yang telah memberikan inspirasi tanpa mereka sadari, Bapak Ong, Bapak Suwarno Serad, Yudhi Hermanu, Mas Peye, Saleh Abdullah, Romo Haryatmoko, terimakasih untuk waktu, pertemuan, percakapan, dan tukar pikiran. Dunia memang memiliki beragam perspektif, pijakan, dan melampaui yang mampu disentuh oleh pengetahuan.
  19. Informan dan partisipan penelitian saya, para penjuang cinta, para pahlawan jiwa, yang telah bersedia berbagi sepotong hidupnya. Anda memberikan pelajaran yang demikian berharga buat saya.
  20. Kelompok bimbingan skripsi yang bersama Anda saya menemukan berbagai semangat baru, pertemanan, dan proses pembelajaran yang menyenangkan.
  21. Semua pihak dan berbagai nama yang sayangnya tidak dapat saya sebut satu per satu dalam proses menyelesaikan karya ini.
 
Terakhir saya ingin ucapkan rasa terimakasih dan permohonan maaf terdalam untuk Mirza Dradjat, jiwa dan nafasku yang tak henti berkata “Ibu bisakah berhenti membaca?” untuk tetap berselimut sabar dan penuh kerjasama.
 
 
 
Yogyakarta, 15 Juni 2017
 
Penulis


]]>
<![CDATA[Juni dan Rindu untukmu]]>Sat, 10 Jun 2017 07:00:00 GMThttp://arymami.com/notes/juni-dan-rindu-untukmu​“Damn! I really really miss him. Damn! F@$^! #%@$!(#&%@#%!!”. Segala umpatan lainnya mengikuti bersama sesak hampa yang tidak tertahankan, dan kenangan yang menusuk di depan mata. Menghela nafas, hampir putus asa. “Ngapain sih gw putus segala?!. Pleeeease remind me again”
“You want a future and he cannot give that”, ungkapnya lempeng.
“Hm.. Ya true.” Future? Future apaan? Hidup gak punya struktur kok membutuhkan masa depan. I really miss him.  “Okay.. Still not working. Give me another reason.”                       
 “He deceived you all this time, feeding dreams he apparently won't do. He just want to stay this way, his comfort zone, while you want more. ”
“Lied. True. Broken promises. True.”. Jeda. Menghela dalam rasionalisasi. “Still not working. Hit me again.”
“You want to put an end to their pain.”                       
-hening-
“You cannot accept the reality that you will be hurting someone else forever!” 
“Yup. Binggo!”
“Did I do good?”
“Yeah. That does it. Hope it last... for a bit.”
 (percakapan dini hari, bulan Juni)
---
​Juni. Dan patah hati!
 
Duh ironi. Ini bulan Juni lho. JUNI. J-u-n-i. Juni. Dan ya...
All great things happen in June. And need I not say: all queens are born in June!
 
Juni.
Bulan yang selalu membawa semacam nuansa riang. Bulan penuh keajaiban. Bulan perubahan. Pesta dan Liburan. Bulan dengan langit paling sempurna. Dimana musim panas mulai menyapa dan dingin malam mulai bertamu. Juni. Aih, Juni yang istimewa.
 
Sapardi saja melantunkan ‘tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni.. tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni.. tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni”. Yah! Ini Juni. Dan Juniku yang ajaib tersisip dengan perihnya kekosongan di rongga dada dan lelehan airmata.  Ada rindu yang memilih pergi.. tanpa kata (ah... sedih deh jadinya).
 
Sejujurnya aku lantak tanpa aksara. (lalu ini nulis apa coba?). Demikian lantaknya, aku tak bisa berkisah, tak bisa tidur, tak juga bisa makan. Yah untungnya bulan puasa, jadi tidak harus berhubungan dengan pertanyaan kenapa bisa menghilangkan 3kg dalam satu minggu berjalan. Aku tidak punya daya. Seolah jiwaku telah mati dan tak mampu diresusitasi. Disjuncture realitas nyata dengan realitas psikis telah mengakibatkan semua menjadi sebaran ontis yang tidak mampu mengontologis. 
 
Aku hanya bisa mengutip kalimat Sapardi; “tak ada yang lebih tajam dari seru jam dinding itu!”. 
 
Aku jarang menemukan cinta. Dan dengan umurku yang hampir menginjak 40 (mayday mayday mayday.. ship is going down!!!), aku baru jatuh cinta dua kali. Ini bukan berarti aku tidak memiliki relasi keintiman. Aku jarang jatuh cinta tapi kerap jatuh hati. Dengan demikian juga memiliki “wall of fame: the man I loved before”, yah.. namanya juga Gemini, mau gimana lagi?.
 
Bagiku jatuh cinta sangat berbeda dengan jatuh hati. Jatuh hati merupakan sejenis entitas infatious love maupun entitas passionate love kata Strenberg. (harus banget ya mengutip konsep? Cerita kaya orang normal aja bisa gak sih?). Putus dari relasi semacam ini tidak pernah mengakibatkan patah hati, sebab ia hanya bersifat partikular. Maknaya hanya hadir dalam peristiwa. Ia hanya mengakibatkan sakit hati. Putusnya relasi infatious love atau passionate love hanya membutuhkan substitusi. Ada sedih pasti.. dan segala ketidaknyamanan sebagai bagian dari transisi dan perubahan. Siapa sih manusia yang nyaman dengan perubahan? Keberadaan sang kekasih mudah lenyap dan hilang begitu saja. Menyisakan kenangan (bila ada) yang lucu-lucu. Paling lama tujuh hari juga udah gandeng lelaki lainnya (OhmaihGod... perempuan macam apa aku ini?!). Tapi .. itu bukan love. Love yang tanpa embel-embel istilah di depannya.
 
Dalam definisi subyektifku; aku baru berani mengatakan cinta saat ada kebertautan jiwa. Semacam indera ke-6 yang terpantik hidup begitu saja; merasa dan tahu saat dia sedang mengalami apa, sedih, bingung, bahkan nakal. Perlu dicatat ini tidak lalu bersifat resiprokal. Ya normal-lah... tidak semua rasa itu resiprokal. Tapi saat indera ke-6 ini sudah bekerja, aku tahu aku sudah jatuh cinta, terlepas dia mencintaiku atau tidak. Dan saat aku jatuh cinta, aku jatuh hati setiap harinya. When I fall, I fall deep. Sudah. Gitu aja.
 
Sulit bicara tentang fabrikasi pengalaman patah hati dan kelindan rasa. Bahkan sekedar upaya katarsis implisit sebagaimana ciri khas para akademisi yang berbalut dengan puluhan teori pun tak mampu kujalani.. (duh mbak... sadarkan kalo disertasi anda ini tentang cinta?? Hellooo...?).
 
Pendekatan untuk patah hati (ya ellah... “pendekatan”, harus banget gitu teoritik?!) yang dominan diberlakukan di masyarakat senantiasa bersifat behavioural. Strategi “normal” putus asmara biasanya diwarnai dengan sejenis permusuhan untuk tidak bicara, tidak bertemu, dan tidak saling peduli. Mungkin itu juga kenapa ia disebut “putus”  karena praktik keintimannya dihilangkan begitu saja. Semacam perayaan ketunggalan ego yang dipertontonkan. Lalu membawa simpulan: “waktu yang akan menyembuhkanmu”.
 
Pendekatan ini cenderung manjur untuk mayoritas orang. Ini hanya perkara statistika yang menciptakan kurva normal cara “move-on”. Tapi tidak untuk sebagian kecil lainnya. Struktur kejiwaan yang mempengaruhi kecenderungan untuk melihat realitas, bagaimanapun menjadi pintu dan berpengaruh pada subyektifitas cinta. Struktur kejiwaan manusia yang berbeda-beda (lihat footnote 1) bertalian dengan pengalaman  patah hati (lihat footnote 2). Dominasi populasi atas struktur kejiwaan juga secara general membingkai cara orang memperlakukan cinta (lihat footnote 3). Sebagai orang yang terhimpun hanya dalam 0,08% dari jenis struktur kejiwaan spesifik di populasi dunia (data 2014), diriku telah terjun dalam labirin neraka, yang akan berhadapan dengan rasa sakit hati sepanjang sisa hidupnya.. (yaelaah mbaknya... please deh!).
 
Tentu setiap relasi keintiman cinta memiliki keunikan makna dan pengalaman tersendiri, sehingga definisi cinta menjadi elusif, subyektif dan menciptakan kompleksitas relasi rasa. Kutukan bagi struktur kejiwaan manusia yang didominasi oleh realitas konseptual alih-alih perseptual dalam menjalankan praktik keintiman relasi cinta. Makna jadi tidak pernah hadir secara kontekstual dengan apa yang di depan mata namun harus melalui konsepsi yang sudah tersusun rapi di kepala. Mungkin itu yang membuatku jarang sekali jatuh cinta. Satu buket bunga tidak akan membuatku melihat itu cinta, kecuali datang dari orang yang sudah masuk secara konseptual di kepala. Sulit mungkin dibayangkan bahwa relasi keintiman pertamaku kandas karena benturan konsepsi tentang kewarganegaraan (Gila cyiin... lu putus karena Pancasila??!).
 
Aku tidak terlalu fasih menghadapi patah hati. Imbas dari putusnya relasi cinta. Mungkin karena aku jarang jatuh cinta. Bahkan bisa dikata diriku demikian perawan dengan hal terkait cinta (wooo yaa... wajar saja kalo skripsi-thesis-disertasi tentang asmara jadi lama banget garapnya!. Saranku kalimat ini dihilangkan saja sebelum para penguji membaca dan kau menggali kuburmu sendiri tak memiliki kompetensi bab relasi cinta. Pertimbangkan!).
 
Bagiku patah hati tidak masuk akal untuk ada dalam relasi cinta. Yang ada.. paling sakit hati, tapi itu persoalan yang sangat berbeda.
 
Cinta untuk seseorang tidak pernah putus, patah, atau mati. Yang dapat putus hanya relasinya: the practice, the act of loving, the particular. Bagiku, cinta merupakan hal universal. Menyatu dengan Semesta. Yang universal selalu menyatu. Tunggal (lihat footnote 4). Saling mencintai tidak dapat tidak berkembang menuju sifat universal itu. Itu berlawanan dengan sifat entitas cinta itu sendiri.
 
Partikularitas praktik relasi hadir untuk memenuhi sifatnya yang universal. Mengembangkan cinta yang memang tidak dapat statis. Sepanjang partikularitas itu tercipta, cinta akan menemukan jalannya. Tapi tidak sebaliknya. Partikularitas adalah prasyarat atasnya. Menciptakan makna khas relasi cinta bagi tiap pasangan.
 
Yang universal tak pernah hilang, tak mampu dibunuh, tak pernah statis, tidak pernah takut dan tak juga mampu menyakiti (baik orang yang terlibat dalam relasi maupun yang tidak). Sebagai hal yang universal cinta lepas dari “diri”, lebih besar dari diri, tidak dapat berkontestasi dengan entitas universal lainnya. Hal ini yang mungkin juga dapat menjelaskan kenapa relasi polyamori jauh lebih kuat bertahan dibanding jenis relasi extradyadic lainnya, karena tidak ada nilai universal yang tercederai.
 
Bila cinta menyapa, ia menetap selamanya untuk berkembang sesuai sifatnya. Kehadirannya dapat melampaui hal-hal yang bersifat partikular (praktis tataran); intinya sosok yang dicinta mau membunuh kek, mukulin kek, selingkuh kek, atau apapun, itu gak sama sekali tidak pernah mengubah cinta. Mau kaya apa juga ujungnya “I love you anyway”, sepanjang cinta tidak statis dan partikularitasnya mengada. Cinta selalu menemukan cara berkembang menuju universalitas melalui partikularitas yang tercipta. Tidak masuk akal menghilangkan partikularitas bila cinta memang ada. Kecuali terjadi semacam force majoure (ini ngomongin cinta lho kak... bukan perjanjian) yang memaksa praktiknya hilang. Tetapi tidak kemudian putus cinta, sebab yang universal masih mengada dan akan beralih menuju lainnya. Relasi cinta hanya ditangguhkan dan sakit hati hadir karena lenyapnya partikularitas itu. Patah hati atau putusnya relasi cinta hanya terjadi saat cinta tidak dapat memenuhi sifat universalitas, yang silogismenya sama dengan tidak adanya cinta.
 
Enggan untuk mengatakan bahwa aku patah hati kali ini. Terlebih setelah fabrikasi kelindan jiwa setelah 246 tempat baru dan 2500 hari bersama. Meski semua makna mengerucut pada hilangnya cinta yang dipaksa statis melawan sifat entitasnya. Memandangnya menghilangkan syarat utama berlangsungnya relasi cinta; menghapus upaya bersama untuk tidak pernah menyerah. Melihatnya melangkah pergi jauh dalam diam sebelum kata “sudah” tereja. Menyaksikannya memilih bahasa yang lebih lantang dari kata-kata.
 
Juni yang lantak tanpa jiwa. Tapi ini bulan Juni dengan langit yang paling sempurna. Bulan para Gemini yang ceria. Dan aku tak punya aksara mengutarakan perih di dada. Selain betapa aku merindumu, cinta.
 
 
Yogyakarta, 100617.
 
 ---

1] Dari sudut pandang struktur kejiwaan; ada ragam konsepsi psikis, yang kemudian menciptakan hanya 16 jenis spektrum karakter struktur olah data manusia yang mempengaruhi keberfungsian diri melalui cara hidup, cara padang, dan olah rasa individu tersebut (sebut saja konsepsi kejiwaan). Subyektifitas, imbas dan cara mengatasi patah hati pun jadi beragam: ada diri yang belum putus saja sudah bersedih dan tidak lagi berfungsi (tampak kaya orang mau mati), ada yang putus tetapi sama sekali tidak sedih dan tetap tidak dapat berfungsi (kaya orang gila), ada yang sama sekali tidak bersedih dan terus berfungsi seolah tidak terpengaruhi (seolah bukan manusia), ada yang sedih banget tapi dapat berfungsi seolah tidak terjadi apa-apa (kaya orang tanpa hati), dan probablititas seterusnya dari 16 struktur spektrum kognisi.
 
2] Pendekatan “perayaan ego” dalam patah asmara biasanya manjur untuk banyak orang. Ini sepenuhnya karena dominasi dari populasi jenis struktur kejiwaan di dunia. Kurva normalnya itu: orang patah hati, bersedih sejenak dan berfungsi kembali untuk “move-on”. Sisanya defiansi yang terlalu kecil untuk dipehitungkan dalam dunia yang fasih dengan diskriminasi, memuja statistika, dan dikategorikan saja pada jiwa-jiwa “sakit” yang perlu direhabilitasi di bangsal psikis.
 
3] Banyak asumsi bahwa saat putus relasi cinta, cinta akan dan perlu dibunuh. Dan banyak orang bisa membunuh cinta. Sebab mayoritas orang tenggelam penuh pada hal yang partikular. Hidup ini memang partikular, dan pengalaman perasaan cinta disejajarkan hadir (ada dan mempengaruhi individu tersebut) dari praktik ekspresi cinta yang partikular. Cara pandang dan laku dominan hidup memang demikian. Tidak terelakan kita dicengkram partikularitas, karena ia yang ada dihadapan mata. Ya.. sesederhana realitas dan makna dalam pertalian ekspresi, memeluk tanda sayang, mencium tanda cinta, dstnya itu. Sehingga fasih kita bilang: “friends dont do that” atau wajar bahwa hal yang paling sakit dari sebuah proses patah asmara adalah hilangnya partikularitas ini.
Sebagai contoh; makna-makna partikular di”cintai” yang muncul dari praktik kebiasaan. Kebiasaan ada yang memeluk dan hilang. Kebiasaan mendapat dering telpon darinya yang lenyap. Dan deret kebiasaan lain yang muncul secara partikular menciptakan bahasa “intagable” yang partikular pula, menyisip nyaman dari baunya, hangat tubuhnya, bahagia dg tingkah lakunya, dstnya. Cinta hidup dalam partikularitas itu. Banyak yang shock mengalami patah asmara karena cinta dan partikularitas menjadi satu paket. Seolah cinta itu mati. Dan ini akan menciptakan “suwung” kejiwaan yang berangsur hilang dengan substitusi aktifitas partikular. Cinta akan bersemi sekali lagi saat ia menemukan partikularitas yang lain.
Namun...  sebuah kutukan bagi mereka yang memiliki kecenderungan dominasi realitas konseptual alih-alih perseptual yang dominan. Mereka tidak dapat keluar dari partikularitas yang lenyap. Sakit hati berkepanjangan. Biasanya akan menghilang dari kehidupan. Mengalami “suwung” kejiwaan yang berangsur hilang dengan dua probabilitas hasil ekstrim. Pertama, kuatnya realitas konseptual akan melindas habis yang bersifat partikular. Mereka lepas dari kondisi “patah hati” karena masuk dalam labirin konseptual tanpa mampu menciptakan partikularitas baru untuk kembali menikmati “cinta”. Jomblo seumur hidup karena terjebak asmara yang sebenarnya sudah terlupa. Kedua, realitas konseptual tidak dapat menguat untuk menghilangkan partikularitas. Sungguh sebuah kutukan derita hidup di antara. Mereka masuk dalam labirin gegar realitas berkepanjangan konseptual dan partikular yang tidak pernah berhenti menyakiti. Spektrum diantaranya muncul dengan perilaku manusia yang bisa menjalin relasi cinta tapi kaya zombie (kosong tanpa rasa), atau merayakan beragam partikularitas cinta tanpa sadar (penuh tanpa makna), dstnya.
 
4] Ya aku tahu pasti Anda berpikir ini essensialis platonik sekali.. padahal di cultural studies selalu membongkar yang essensialis. Tapi sebagai argumen, yang anti-essensial pun essensialis, bukankah ketiadaan ujungnya bersifat tunggal? Bisa di cek pada semua pemikir anti-essensialisme yang ujungnya terjebak dalam paradoks tersebut. Simpelnya, se-posmo Deleuze pun, ujungnya “The Machine” ya cuma satu. Tetapi perlu diingat bahwa terapan filsafat dan terapan paralogisme adalah dua entitas yang berbeda.
 
]]>
<![CDATA["Kematian, Waktu, Kesendirian, dan Makna (Hilangnya) Kehidupan"]]>Fri, 03 Mar 2017 23:00:44 GMThttp://arymami.com/notes/kematian-waktu-kesendirian-dan-makna-hilangnya-kehidupanPicture
Kematian adalah hal yang menyakitkan. Buat mereka yang di tinggalkan. Aku menyaksikannya dalam kematianku sendiri. Tepat sebelum aku di’lempar’ kembali. Dimana waktu tidak lagi mengada dan semua terlipat sempurna. 

“Tidak. Belum saatnya”, ujarnya dengan senyum indah sembari melemparkanku kembali di tengah kehidupan fana. Tepat di dinginnya meja operasi UGD, penuh dengan lampu sorot yang menghantam wajahku. 



Mataku terbelalak. Tidak tepat kuingat berapa suster berbaju putih mengelilingiku. Bersorak. Monitor detak jantung telah kembali berdenyut tepat di dinding ujung kakiku. Semua tampak hablur. Tentu, selain mataku yang hanya mampu menatap disela-sela sorot yang menyengat. Semua sibuk. Giduh ruang UGD dipenuhi erangan manusia kesakitan kian membuatku kebingungan. Di mana semua tadi? Kenapa aku di sini?

‘Di mana aku?’ merupakan tanya puluhan kali berulang. “Adek di Yogya. Panti Rapih. Yogyakarta”. Tidak ada yang dapat aku cerna. “aku di mana?”. “Adek di Panti Rapih. Kota Yogya. Ingat apa yg terjadi?”. “Aku di mana?”. “Di Panti Rapih. Adik kecelakaan.”. “Apa? Di mana?”. “Adik kecelakaan. Adik namanya siapa?”. Hening. “Aku tidak tahu. Aku di mana? Namaku siapa?”. “Adik namanya Dian”. “siapa namaku?”. “Dian”. “Aku tidak tahu. Siapa namaku?”. “Dian. Tahu nama orangtua?”. “Tidak tahu”. “Ok. Diam dulu ya.. ini biar bisa dijahit..”.

Aku diam dalam kebingungan. Berlahan mengamati genangan darah yang membasahi dada dan punggungku. Jarum dan selang masuk dalam berbagai vena. Kabel menjulur dari kaki dan dada. Aku melihat berbagai potongan kaca di palet samping meja operasi. “Iya.. Hallo Bapak.. Ibu.. Iya.. Ini di UGD. Tidak apa-apa. Tidak usah khawatir. Dian akan baik-baik saja. Ini saya sedang menjahit wajahnya...”. 

Baru menyadari bahwa wajahku memang tengah disulam seorang ahli bedah. Aku menyaksikan gerakan tangan dan benang panjang yang keluar masuk daging tanpa terasa dengan kengerian. Aku mengamatinya. Tidak dapat kusaksikan wajahnya dengan masker yang tertutup. Aku mencoba meraihnya. Tubuhku tidak dapat bergerak. Hanya jemariku yang akhirnya mampu meraih sedikit bajunya. Dia berhenti sejenak, menatapku. “Dokter namanya siapa?”. “Dian akan baik-baik saja”. “Dokter namanya siapa?” aku memperkuat genggamanku. “Terimakasih... terimakasih”. Ingin kupastikan ia paham rasa syukur yang deras mengaliri tubuhku. Ia tampaknya memberikan kode pada beberapa asisten yang segera menggenggam tanganku dengan senyum hangat. “Terimakasih... dokter namanya siapa?”. Dia memintaku diam sekali lagi dan mulai memaparkan penjelasan.. 

“Ini bibir Dian hilang, jadi harus saya tarik kulit dari dalam untuk membuat bibir ya. Untungnya lidah tidak terluka. Coba di buka lagi mulutnya, saya sobek dulu dagingnya ya. Jahitan dagu nanti akan cukup berbekas, karena potongan kaca yang masuk terlalu banyak. Rahang nanti akan nyeri, karena tadi baru kami sambungkan...”

Penjelasannya kian samar. Benakku hanya dipenuhi tanya kenapa alam jadi berbeda. Dadaku mulai nyeri tak terkira. Nafas kian sulit terhirup. Dan kalimat terakhir yang kuingat di ruang UGD itu hanya “Pompa dadanya. Kasih Oxygen lagi...”. 

Rasa dinginnya luar biasa, aku menggigil. Hilang. Aku kembali terbangun kala semua tubuh dibalut perban. Dengan seorang suster yang sedang menggunting sobek baju dan celana yang kukenakan. Membersihkan dan membuang semua bukti darah yang berlimpah di sana. 

Sisa-sisa minggu di rumah sakit, hanya memori tentang lelap dan perjalanan dari satu mesin pemeriksaan ke mesin lainnya. Tidak pernah kuceritakan, dalam hari-hari itu, aku berulang bemikirkan ‘kemana dunia yang pernah kusinggahi?’. Tanpa benar mampu tuntas mengingatnya, direnggut kenikmatan morfin yang menjadikan segala hal bagai delusi.
--

Diriku belum pernah cerita tentang apa yang terjadi dalam ‘kematianku’. Aku bisa saja cerita tentang alam yang baru, tentang memasukinya dengan tubuh yang kedinginan, tentang bagaimana aku terbangun disana, tentang apa yang kutemukan di ruang pertama, tentang sosok-sosok yang kutemui, tapi untuk berkisah tentang apa yang terjadi di perjalanan alam itu.. hmmph... *nafas panjang*... mungkin tak ada kata. Aku juga tidak hendak bercerita tentangnya saat ini. Ada alasan yang rasional dan irrasional disana. 

Pertama, aku tidak berani. Tidak ada yang benar-benar bisa berkisah tentang pengalaman mati, atau dunia kematian. Itu misteri. Titik. Kedua, aku tidak cukup yakin apa itu kematian. Dalam keseharian kita, kita mengenal mati suri. Tapi mati suri juga belum tentu kematian. Bukankah itu hanya tubuh yang berhenti beroperasi? sedangkan dunia kematian itu sendiri.. entah apa yang disaji. Ketiga, peristiwa yang berlangsung di ruang operasi jauh lebih dramatis dikisahkan. Kita makhluk dramaturgi dan naratif. Dan juga lebih mudah mencerna apa yang dapat di pandang mata. Ke-empat, alasan irrasional yang mungkin paling benar; aku belum mampu menceritakannya. 

Kematian (suri)ku tidak lama. Setidaknya dalam hitungan waktu dunia yang rasional.Tidak tahu tepat berapa lama waktu aku ‘hilang’, namun nafas dan detak jantungku sudah tiada saat aku dibawa ke UGD pagi itu. Validasi atas kematianku terbenarkan dengan sendirinya; di tengah keriuhan sorak ruang operasi UGD: kabel terhubung monitor detak jantung dan oksigen yang tidak henti dipompa. Satu kalimat menegaskannya: “Tolong hubungi orang-tua-nya, sudah dapat terselamatkan dan hidup”. Singkat, padat, jelas. 

Aku sempat mati. Mati suri istilah kita. 

Konon katanya, bagi orang yang pernah mati suri, hidup akan mendadak ‘berbeda’. Sungguh kala itu memang aku masih terlalu muda untuk menganalisanya. Stereotipe yang ada juga menghentikanku memikirkannya secara mendalam atau menceritakannya. Entah kenapa ada stereotipe yang melekat bahwa mereka yang pernah mengalami mati suri akan mendadak religius. Di tengah gamblangnya diriku yang jauh dari definisi religius yang diamini, aku jelas tidak berani merusak stereotipe yang terbangun ini. 

Perjalanan ‘hidup’ orang berbeda-beda, tidak ada rumus pakem di sana. Kuanggap saja itu pengalaman sekilas, meski secara diam-diam menjadi senang menyelami cara sudut pandang orang lain atas hidupnya. Mungkin semacam katarsis dari kekaguman atas keberagamannya. Sebuah diversitas kehendak bebas dalam ‘garis perjalanannya’ (fate). Aku sengaja tidak menggunakan kata ‘nasib’, karena ada kecenderungan kita untuk melihat nasib sebagai hal yang statis. Bingkai definisi ‘nasib’ tidaklah yang seperti kita bayangkan. Setidaknya dalam kesempatan ‘ketercerabutanku’, aku cukup yakin mengatakan ‘hidup bisa menjadi banyak hal, tapi yang jelas ia tidak statis!’ Bahkan bila itu menyangkut garis nasib dalam definisi kita yang terbatas.  

Dalam kematianku, aku merupakan kelompok yang ‘beruntung’ mengalami mati suri yang menyenangkan. Di beberapa literatur tentang mati suri, banyak yang mengalami sebaliknya. Pengalamanku secara garis besar dipenuhi kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian. Beruntung? Hm... entahlah. Beruntung dan sial hanya dikotomi kita. 

Yang jelas, aku tidak paham kenapa aku perlu menyaksikan dan mengalaminya.. sebab.. yaah.. kurasa memang kotak pandora tidak sebaiknya dibuka. Yang jelas... lepas itu.. hidup memang tidak pernah sama. Hidup jadi berat cuiiiyy!!

Yang bisa kukatakan dengan pasti. Hidup (di dunia fana ini) adalah garis waktu, yang sangat singkat. Aku bisa mengatakan bahwa setiap manusia ‘diturunkan’ untuk sebuah alasan. Dan kita diberi waktu untuk mencari agar ‘siap’.   

Lepas itu... entahlah.. dalam pemaknaan yang terlempar padaku, menegaskan sekali lagi: pemaknaan yang terlempar padaku; aku hendak bertutur tentang garis waktu batas kematian dan konjungsinya... mencoba bercerita tentang apa yang ‘berbeda’ pada kesempatan hidup yang ke-dua. 

Kesempatan hidup ke-dua, andai anda punya, adakah yang akan kau lakukan berbeda?

---berlanjut---
Yogya.sleepless.170108.
]]>
<![CDATA[The Masquarade ]]>Tue, 27 Sep 2016 07:39:03 GMThttp://arymami.com/notes/the-masquaradePicture
“besok pagi di kampus?... aku baru kelar operasi. 
Ingin sekali menangis dalam pelukan seseorang. Can I?”
19:11 - 26.09.2016
 
-
Tanganku berupaya menggapai tubuhnya, namun gagal. Mencoba meraih siapa pun yang mungkin bersedia menggenggam tanganku. Tanpa hasil, kugenggam erat lipatan kain hijau pada ujung bidang meja setengah meter itu. Baru kali ini aku berada di atas meja operasi dengan sadar berteriak kesakitan dengan lantang tiga kali. Aku bayangkan bila ada orang diluar ruang operasi itu, pastinya akan bertanya-tanya macam penjaggalan apa yang sedang terjadi di dalam. Tubuhku sudah gemetar  lemas dan kedinginan dengan darah yang bercucuran dari belakang kepala. Aku hanya membayangkan ini menjadi pembedahan ala militer di medan perang. Aku hanya mampu melihat detik jam yang kian melambat berharap semua segera tuntas. Berharap mereka segera menutup dan menjahit bedahan; membayangkan mereka berkata “maaf, kita akan mengulanginya dengan bius total kali ini”. Tapi itu tidak terjadi.. kurasa ada benarnya para ahli bedah dilatih tidak mempedulikan erangan, tangis dan teriakan ‘obyek’ bedah. Mereka diharuskan tenang melakukan apapun yang harus mereka lakukan; sebagaimana mereka jelaskan pula “darurat” dalam dunia kedokteran adalah bila membicarakan detik atau menit menuju kematian. Sepanjang tanda-tanda kematian itu belum dekat, tidak jadi soal bila organ atau syaraf apa terluka - toh nanti bisa dibenerin.

Operasi ringan! Tindakan sederhana. Santai saja. – dan berapa kali aku sudah mendengar itu. Dan benar  saja – tepat 5 menit berlangsung dengan sobekan di leher yang sudah mengangga, kepanikan itu terjadi. Andai aku tak sadar, mungkin akan berbeda... tapi ini aku sadar dong... please deh... not again not again not again... hanya itu yang melintas dalam kepala, sebelum tentunya rasa spektakuler itu kualami. Dan selama ini mengira gak bakal ada rasa yang lebih heboh dari pada melahirkan seorang anak – aku menyerah salah.
 
Hari itu, waktu melesat bersama mobilitas dan kegiatan yang menjadi distraksi sempurna. Mendadak sudah pukul tiga saja. Bergegas. Berhenti makan sebisanya untuk mengisi perut yang seharian kosong sebelum beranjak ke dunia medis yang menanti. Aku tidak merasa yakin apa aku bisa atau perlu melakukan operasi yang sudah dijadwalkan hari ini. Namun karena sudah dijadwalkan, aku diminta mempersiapkan diri dan mereka berkata nanti bisa berbincang dengan dokternya di OR.
 
Aku mencoba bernegosiasi, namun tetap saja berganti dengan selembar kain hijau. Ruang preparasi itu masih diisi oleh dua orang, satu sibuk membungkus kain dan perban, sedang satunya sibuk melihat file berkas operasionalisasi bedah.
 
“mbak Dian Arymami?”
“Iya”
“Ini yang dibedah di dada ya”
Sontak terkaget. Kok bisa geser lokasi nih.  “Bukan. Di leher”, di jawabku. Paham bahwa dia perlu mempersiapkan ruang bedah yang pas untuk dokter melakukan tindak bedah padaku.
“Engga. Di dada. Ini berkasnya. Pembedahan akan kita lakukan di...”
Aku sudah tidak mendengarkan kalimatnya. Kita berdebat. Bersikekeh menuntut segera bertemu dengan dokter bedahku (yang masih bersiap diri). Gila aja! Masa beda lokasi bedah..! Dalam perdebatan tak berujung itu.. dokter bedah akhirya masuk. Dan wajah lega terlihat pada kami berdua.
 
“ini prep untuk bedah dada dok” – ujar tim bedahnya.
“yup. Bedah dada” – jawab dokterku.
 
Whaaaaattttttttt??????!!!,  tanda-tanda gak bener nih.  
 
“Tidak dok. Leher” – potongku lantang. Sudah ketakutan akan menjalani operasi yang tidak seharusnya.
“oh iya kah? Mana?... oh iya..benar.. leher” kata sembari memeriksaku sekali lagi, kemudian kembali melihat berkas tindakan yang memang terselip dibawah kertas tindakan operasi dada sebelumnya. “hmm... iya.. kita bedah aja.. Yuk masuk”
 
Yuuuk masuuukkk.... eaa.. emangnya ini warung kopi! Santai bener nih orang. Ya tentu, jam terbang pembedahan pastinya membuat dia santai. Tapi kan...
 
Ruang itu masih sepeti terakhir kuingat. Dingin, berbau disinfektan, dan terang. Ahli anastesi dan perawat sudah didalam, asyik nonton berita Ahok-Agus-Anis di televisi sambil tertawa-tawa. “Sini mbak”, ujarnya memintaku berbaring di meja operasi yang sudah dilapisi kain kasa di area pembedahan. Jantungku mulai berdegub kencang.
 
“kenapa mbak, kok gerak terus?” sang anastesi memegang kakiku. “Masnya gak nungguin mbak?”. Aku diam sejenak dan menjawab singkat “sendiri”. Matanya tertuju langsung padaku. Ada nuansa hangat disana. Dia lalu melepas penutup mulutnya, tersenyum padaku. Dan berujar tanpa suara “Santai saja, semua akan baik-baik saja”. Demikian lembut dan hangatnya, seolah waktu berjalan lebih lambat. Momennya terasa berada bersama malaikat penyelamat yang hangat, atau berada bersama seorang psikopat yang sadis. Tipis. Aku tak bisa membedakannya. Tepat saat itu, tim bedah memasuki ruangan.
 
Delapan orang. Lelaki semua, mengenakan baju serba hijaunya (masih bertanya kenapa juga sih hijau.. kan kalau sama darah gak cocok ya warnanya.. tapi siapa juga yg membicarakan keserasian warna kostum operasi). Wajah mereka semua tertutup. Sibuk berada dalam satu sisi dan menggeser peralatan bedah ke sampingku. Melihat semua pisau, dan besi-besi panjang itu membuatku bergidik. Aku diminta untuk menoleh ke kiri, mengingat leher itu yang akan menjadi titik bedah. Tepat di depanku adalah jam dinding. Tanpa banyak babibu, cairan disinfektan yang tajam dan dingin mengalir di kepala dan leherku.
 
Tubuhku mulai di tutupi dengan kain-kain hijau yang tersobek sana-sini, khusus memberi lubang untuk ruang bedah. Mungkin semacam pantat sapi putih yang memastikan fokus satu titik. Penutupan kain memastikan fokus bedah tetap di area. Mungkin juga membantu para ahli bedah untuk tidak melihat yang dibedah ini hidup dan juga manusia. Entah.. aku tidak terlalu tahu  alasannya. Tiga lembar kain. Di kepala, tubuh, dan kakiku yang sudah mulai kedinginan. Empat orang menuju bagian kepalaku, sang anastesi tentu berdiri paling dekat dengan kepala memastikan aku tidak ‘hilang’ dalam kesakitan. Satu memastikan detak jantung dan ‘organ-vital’ masih berfungsi untuk melewati operasi.
 
“Kita kasih 100ml dulu... mulai ya, aku akan menyuntikmu”. Antara berbicara dengan tim bedah dan pasien yang sepenuhnya sadar ini, ia sudah memasukan suntikan morfin pertama di belakang kepala. “hmm.. ok dok”, ujarku pasrah, gak punya banyak pilihan juga kan ya. Dengan pisau bedah masuk ke dalam leher, ia berkata “Kalau sakit nanti bilang ya”.
 
Whaaaatttt??? Kalau sakit bilang. Wait wait wait. Kok ada kaya gitu. Sakit macam mana? Emang aku benerin gigi.. Kalo sakit bilang... whaaatttt.... ini lagi motong leherku dan kalau sakit bilang...? Stress sudah mulai meningkat bersama dengan bunyi dan rasa daging yang terpotong. Aku berupaya mendeteksi, yang dimaksud sakit kaya apa ya.. ini sebenarnya dah sakit... dan sesekali aku berkata “ao ao ao”. Sakitnya meningkat. “sakit” ujarku mulai berkenalan dengan apa yang dimaksud dengan sakit. “Kasih lagi, suntik” perintah dokternya. Whaaattt... serius nih aku baru ditambah obat kalo merasa sakit?? Sang anastesi sudah mulai ditemani oleh entah asistennya yang menekan kepalaku ke dalam memastikan tidak bergerak. Aku bisa merasakan morfin menjalar hingga hangat di dada. Aku sudah mendapatkan penjelasan mengenai bedah anastesi lokal seminggu sebelumnya, dan cukup paham kenapa dosis ini diberikan secara bertahap. Penjelasan itu juga disertai dengan “saya tidak akan bohong, itu sakit, tapi lebih aman”, tapi penjelasan itu sama sekali tidak dapat menggambarkan rasa sakit yang semacam apa. Dan kini aku mulai mengalaminya dengan angkat tangan, aku gak kuat brooo....
 
“mbak bener nih gak ada yang nungguin? Sendirian aja?” – salah satu anggota tim mengguncang dadaku. Mungkin bermaksud menenangkanku yang kian tegang. Tangannya menekan tepat di tengah dada. Memastikan bahwa aku tidak makin terguncang atau meronta menggerakan leherku yang sedang ternganga. Aku baru saja mulai berpikir kenapa ia menanyakan lagi apa ada orang yang akan menantiku keluar ruang operasi, antara memikirkan bahwa ada tindakan lain yg terpaksa dilakukan atau memahami bahwa lepas ini aku akan ‘membutuhkan’ orang.  Sampai... sakit itu menyayat dengan amat sangat. Menyobek dua lapis otot itu tampaknya menyulitkan. Dengan pisau bedah yang dapat kurasakan masuk dan menarik semua syarafku, tangan kananku, kaki, dan kepala seperti dibelah. Aku paham syaraf sudah terkenai, hingga sakitnya demikian random dimana-mana. Namun tidak melebihi sakit yang masuk ke otak, kepala sebelah kanan, yang rasanya otakku sedang dicacah berlahan. Tubuhku sudah tidak dapat terima. Aku berteriak kesakitan. Aku tentu tidak terlalu dihiraukan dengan segala teriakan dan tangisku.
 
“Duh susah nih! Kenapa terselip ya? harus kita ambil bagian ini, dipercepat saja, gak papa” – duuh... seriously??? Katanya sederhana.. kenapa pake susah?
 
“Kita tambah?” – “gak dipercepat saja”. Tim bedah berdiskusi dengan segera. Saat satu anggota menekan kakiku yang sudah mulai meronta melepaskan alat deteksi detak jantung yang kian tak teratur. Lima menit selanjtnya adalah lima menit terlama. Delapan lelaki berjubah hijau itu sudah menutup semua pandanganku, hingga hanya bisa kulihat jarum tangan jam dari sela-sela tubuh. Satu memegang kakiku ke bawah, satu menekan kepalaku, satu menekan dadaku, satu menekan leherku. Dan satu kali morfin terhunjam masuk panas ke dalam kepala. Aku berteriak kesakitan, dan berupaya menggenggam apapun disisiku, berharap ada yang memegang tanganku yang sudah hampir beku dalam dingin. Tiga kali hentakan yang menghunjam kepala dengan sakit yang menjalar para benang-benang syaraf menarik seluruh otakku dari dalam, seiring dengan suara penyedot darah disisi telinga. Aku menatap detak waktu dengan lelehan air mata dan sakit yang tak terkira. – sudahkan berakhir?.... sudahkah berakhir?.. kapan berakhir? – Lima menit berjalan dengan begitu lamanya..
 
“Jahit” – “benang apa itu?” – “ya” – “ditutup aja”. Tangan-tangan besar itu mulai melepaskan tubuhku.
 
“merasa pusing”, tanya salah satu anggota tim.
“tidak.. sakit banget”, jawabku.
“sudah selesai kok” sembari mengambil lembar-lembar kain yang menutupi tubuhku. “bentar, tak usah melihat dulu. Biar kami bersihkan darahnya” ia pun menseka pundakku, punggung leherku dan punggungku dengan disinfektan. Mengambil perban dibawah tubuhku dan memasukannya dalam sampah medis, memastikan aku tidak menyaksikannya.
“seberapa sakit ini lepas morfinnya hilang?”, tanyaku.
“Ah... gak lebih sakit dari suntikan kok mbak...” aku sedikit tenang sebelum ia melanjutkan “ehm.. tapi aku juga tahu ya, soalnya aku juga belum pernah dibedah” gubraaaaaaakkk.... baiklah.
“mbak gak ada masnya di luar?”
“kenapa sih mas?”, tanyaku kembali penasaran, alih-alih ingin menggodanya tapi tak punya tenaga.
“gak papa...mungkin sebaiknya diminta”, ia mendekati ku sembari mengusap punggung dan memberikan remasan halus di pundak “gak papa kok.... bergantilah”.
 
Tidak terlalu memahami apa yang mereka maksudkan, aku kembali ke ruang ganti. Mengambil handphone dan mengirim pesan, “say, dah selesai operasinya”. Entah apa yang sebenarnya kuharap dari sebuah kalimat sederhana itu. Aku berdiam, dengan kepala yang mulai pusing. Lalu merasa kedinginan dan seluruh gambaran sakit yang kurasakan kembali masuk dalam bayangan. Seluruh rasa takut dan sakit tadi runtuh dalam air mata. Ku-usap segera, keluar untuk menyelasikan administrasi.
 
Paham, aku membutuhkan ‘seseorang’. Aku mengirim pesan, meminta sebuah pelukan. Membiarkan semua rasa tadi terpendam satu malam. Dengan semua perawakan “sok baik” yang terasah, aku pulang, menyapu rumah, menemani anak belajar, dan menanti obat bekerja membunuh sakit yang mulai kembali menjalar.
 
Satu lagi kisah medis dan sayatan untuk kenangan. Dalam rasa sakit, aku tersenyum menyapa semesta. Aku tahu kau di sana, bercanda untuk sebuah masa yang belum mampu kau sampaikan padaku. Dan tentu satu pelajaran... memotong budget operasi hingga 10juta adalah satu pengalaman yang tak bakal terlupakan! Worth it? Ah.. setidaknya aku tahu bahwa ada rasa sakit yang sedikit mendekati rasa sakit hati ditinggal ‘sendiri’.
 
 
Yogyakarta.dengansetengahkepalayangmasihkebalrasa.20160927.
 
 
 
 
 
 
 
 
 

]]>
<![CDATA[She will be Loved: Utopia Aku yang bukan Milikku]]>Thu, 22 Sep 2016 14:43:50 GMThttp://arymami.com/notes/she-will-be-loved-utopia-aku-yang-bukan-milikku
Berhadapan dengan OR (operating room) selalu saja menakutkan. Terlepas sudah berpuluh kali Anda tergeletak di atas meja dingin berbau disinfektan. Sore ini, aku kembali menyapa rasa takut itu. Tanpa benar-benar paham apa yang ditakuti dari sebuah tindakan medis yang katanya 'sangat sederhana'. Hanya akan memakan waktu satu jam, tidak lebih dan  tidak mematikan. 
Tapi ... ah... how many times have I heard that before. Dengan kutukan sejarah pengalaman penyakitan-ku, aku belajar berhadapan dengan yang anomali. I mean seriously... kadang aku heran sendiri. Berapa sih perbandingannya orang kena flu burung, atau lalat bertelur dan tumbuh dalam kulit dagingmu, atau tumor tumbuh yang menekan jantungmu, atau bulu babi hidup di telapak kakimu? Well.. tidak untukku, karena tampaknya diriku memiliki daya tarik bagi yang anomali. Namun, mengingat kata seorang teman “mon, lu kalo kena musibah itu berarti sedang dijauhkan dari musibah yang lebih besar” –  aku mencoba percaya.

Terakhir seorang dokter mengutarakan ini operasi kecil, berujung sebagai operasi yang medium (ya, entah apa istilahnya, aku bukan dokter). Tapi kala itu aku menjalani operasi usus buntu alih-alih mengambil batu empedu di lipatan hatiku (yang sampai saat ini belum terlaksana). Operasi sederhana yang seharusnya memakan waktu kurang lebih satu jam berubah menjadi tindakan beberapa jam, dengan membedah hampir 15cm perutku karena lokasi usus yang tidak seperti orang pada normalnya. Dan dokternya perlu cerita dong.. padahal aku bisa saja tak tahu apa-apa toh dalam buaian morfin sepanjang pembedahan. Jadi bagaimana mungkin aku mengamini sebuah prosedur yang ‘sederhana’, terlebih saat ini.. saat lokasinya begitu dekat dengan urat nadi nyawa. Aku tidak tahu harus menganggapnya apa, dan memilih untuk tidak memikirkannya. Namun logika dan rasa takut punya jalur yang berbeda.

Dan semua rasa itu mendadak mendorongku pada sebuah sudut lipatan diri yang sesungguhnya sudah kuupayakan terbenam. Takut memiliki cara sendiri untuk mengupas ego-ego yang tercipta.

Tentu, daripada aku bercerita tentang takutku, lebih baik bertutur tentang proses BPJS yang tidak dapat tembus untuk operasi kali ini, atau proses pembiayaan kesehatan yang berbasis 'kelas', atau komunikasi dokter-pasien yang menggunakan bahasa langit. Pada tataran kontekstual, paparan itu mungkin akan lebih berguna (bagi pembaca) untuk konteks kesehatan dan perkembangan jasa publik kita. Tapi rasanya aku sedang tak punya daya untuk meletakan rasionalitas diatas rasa. Aku sedang tenggelam di sudut terbenam. Menyapa diri otentik yang rapuh sendirian. Prosesnya, menjadikan sosok yang demikian sulit dicinta, tepat di saat paling membutuhkannya. 

Secara rasional aku paham penuh konsepsi ini hasil sejarah panjang dan kompleksitas psikologis berpangkal pada penghargaan diri yang tidak pernah tercipta. Diri yang ditempa sebagai sosok yang harus paham tanpa mengerti, sosok yang harus menyembunyikan rasa dengan segenap alasannya, sosok yang tidak pernah diberikan penjelasan kenapa. Sosok yang hanya dihargai saat ia ceria dan baik-baik saja. Hasilnya, avatar tangguh yang membalut diri otentik yang tersisihkan. Aku tanpa avatar yang tak pernah diinginkan- diri yang selalu salah, diri yang terbuang. Avatar jadi, yang kusadari perlu dikikis berlahan.

Dunia medis merupakan jalan tol menuju diri yang terkutuk itu. Dia secara cepat membuka katub diri yang harus direpresi karena pola berulang yang terus terkonformasi.

Keintimanku dengan penyakit yang ‘aneh’ telah membawa pengalaman berbagai tindakan yang tidak ‘biasa’, sejak umur belum juga dua digit; ambil contoh pembekuan telapak kaki dengan tembakan nitrogen untuk membunuh cell. Tidak ada yang menjadi drama tragis penuh derita, hanya saja perjalanan psikologis yang cukup melelahkan. Rasa takut tidak boleh mendapatkan ruang, tak juga boleh ia terjelaskan. Diri yang hanya boleh menangis saat sendirian. Sangking intimnya aku dengan penyakit, dakwa bahwa aku tidak perduli dengan nasib dan tubuhku terlalu sering menghinggap. Bahkan pada ranah yang hampir tak punya kuasa, aku terdakwa salah. Dengan berjalannya waktu, tampaknya ia menjadi ramalan yang terkabul dengan sendirinya.

Aku cukup beruntung tidak pernah terjangkit penyakit ‘serius’, meski tidak sekali dua terkena vonis hanya punya hidup beberapa bulan. Antisipasi berhadapan dengan maut, membuat lelah tak terkira. Terlebih dengan mekanisme yang telah tercipta untuk membuang diri menenangkan orang-orang yang peduli bahwa semua akan baik-baik saja. Sok ceria, meski tak tahu apa ia sendiri baik-baik saja. Hal yang semakin memperkuat kesan abai dengan nasib sendiri, lalu memantik lingkaran setan opresi manipulasi. Lelahnya tidak diperbolehkan memiliki diri sendiri. Diri yang dibuang berulang kali. Aku paham penuh bahwa tidak ada yang bermaksud demikian, namun rasa itu sudah tercipta. Diri tanpa avatar yang tak pernah dicinta. Diri ‘utuh’ku tidak pernah diterima.   

Aku pun belajar untuk menjadi diri parsial. Belajar untuk siuman dari operasi tanpa orang disisi, belajar untuk terbangun kesakitan tanpa ada satu orang pun yang tahu, belajar untuk menjawab pertanyaan ‘mbak tidak ada teman yang mengurus administrasi?’. Di asa terdalam tentu selalu rindu keutuhan, meski dunia telah mengkonfirmasi berulang bahwa itu semata utopia. Diri yang tak pernah dapat utuh dicinta. Di masa-masa ‘medis’ memanggil, aku tahu aku perlu meminta maaf atas refleks menampik upaya ‘peduli’. Ingin sekali untuk luluh dalam pelukan tanpa dakwaan, namun enggan berhadapan dengan dunia yang sekali lagi memberi bukti, meniadakan hadirku, dan meninggalkanku sendirian.  
Berasa drama ya... mungkin juga berlebihan. Tapi pengalaman medis selalu saja menghantam emosiku lebih keras dari realita. Ada penghilangan diri yang hadir seketika. Faktanya memang aku pernah dicampakan kekasih di meja operasi. Dan fakta yang tak dapat dipungkiri rasa obyektifikasi saat berhadapan dengan rangkaian prosedur kesehatan.

Bagaimana tidak merasa menjadi obyek bila terpaksa terbaring diam dan dipelajari puluhan dokter koas. Mencatat elaps detak jantung seonggok tubuh kedinginan tanpa sehelai kain, tak bisa bergerak karena selang oksigen yang memastikan pernafasan tidak cukup fleksible untukku bergerak. Atau yang masih menempati ranking pertama bagiku adalah isolasi flu burung, dimana tubuh diletakan dalam aquarium, di lokasi yang sama sekali tidak boleh kita pahami, sepanjang seminggu diamati, dan hanya bertemu orang-orang berpakaian astronaut yang silih berganti mengambil cairan dari tubuhku tanpa mau berbicara. Rasanya gila sendiri. Sepenuhnya menjadi obyek yang anomali.

Proses operasi juga sebenarnya membawa rasa yang sama. Sulit untuk tidak melihat diri sebatas obyek ‘pekerjaan’. Di ruang persiapan, tidak jarang kita bertemu dengan orang-orang yang akan 'bekerja' membedah tubuh kita. Dapat kita saksikan mereka berganti kostum, dan bermertamorfosa dari tampang manusia menjadi tampang penjagal. Sibuk mencuci tangan berulang kali dan mengenakan sarung tangan operasi. Tampak robotik. Beberapa akan mencoba berbincang mencairkan suasana dengan pasien yang sudah ketakutan. Obrolan ringan dan canda basa-basi yang penuh manipulasi. Satu-satunya pihak yang mungkin akan berbicara lebih tegas dan tidak sok menenangkan adalah sang ahli anastesi, mempertanyakan data dan menghitung mundur untuk memastikan kita tidak tiba-tiba terbangun saat tubuh kita sedang tengah terbuka dengan organ yang keluar disana-sini. 

Ruang operasi sebenarnya tidak menakutkan. Segala alat canggih disekitar saja yang memantik bayangan pembedahan, darah dan kekejaman yang menyiptakan horror dalam bayangan. Suasananya sebenarnya ceria, eaaa.... ceria dari mana??? Ya setidaknya aku sudah berulang masuk OR dimana musik di putar dan ruangan yang terang benderang dengan spot light dimana saja, serupa diskotik dengan satu warna. Toh kita hanya butuh imajinasi untuk menghidupkan suasana. Lagian, saat morfin sudah mengalir, apa sih yang dapat diingat dan dirasakan? Meski kadang aku berpikir bagaimana bila dalam tidur itu aku terjebak dalam mimpi super horor tanpa boleh dibangunkan. Terlepas dari segala keceriaan, operasi memang tetap menakutkan.

Kali ini, ruang penuh disinfektan itu akan kembali membuka pengalaman baru. Tidak akan ada ekstase morfin yang menjalar pada tiap inci tubuh. Pilihan ekonomis yang memungkinkan untuk diambil. Untuk pertama kali leher ini akan dipotong dengan diriku yang sadar dan dapat menyaksikan tiap semburan darah dan pembedahan lima centi yang katanya sederhana. Tak punya kata selain takut yang mendera, tapi pastinya akan membawa cerita.
 

Balbel.masihdenganasauntukdicinta.20160921
 
]]>
<![CDATA[Kompleksitas Abuse dalam Relasi Keintiman]]>Sun, 18 Sep 2016 05:49:05 GMThttp://arymami.com/notes/kompleksitas-abuse-dalam-relasi-keintimanTerlalu mudah berkata dan menemukan pernyataan: 'bila dalam hubungan saya mengalami kekerasan, saya akan meninggalkan relasi itu'. Faktanya tidak pernah sesederhana itu. Statistik menunjukan bagaimana tinggi angka kekerasan dalam relasi. Bahkan di Indonesia, bisa digeneralisir bahwa hampir semua orang mengalami kekerasan dalam relasi. Kenyataan yang hadir adalah: Pelaku relasi bertahan di tengah kekerasan. Kekerasan hanya terus berulang. Apapun bentuknya, frekuensinya, maupun alasannya. 
Tidak sedikit bagi pelaku kekerasan yang menyadari tindakannya dan berupaya luar biasa untuk mengendalikan melalui beragam cara untuk tidak melakukan kekerasan. Tidak sedikit pula pelaku yang mengalami kekerasan bertahan dan mengupayakan beragam cara penyelesaian. Mungkin kekerasan hanya terjadi dalam 5 tahun sekali, atau beralih bentuk kekerasan yang dinilai tidak terlalu membahayakan. Kekerasan verbal misalnya selalu dilihat lebih ringan dari kekerasan fisik, atau kekerasan psikologis seperti penelantaraan selalu dilihat lebih ringan dari kekerasan verbal. Namun, kekerasan tetaplah kekerasan dan ia terus menjadi siklus. Walker (1979) memaparkan dengan jelas siklus kekerasan ini.

Dampaknya bisa beragam tanpa prediksi dan pada hal yang paling nyata, menghabisi nyawa. Dalam keseharian, istilah kekerasan kerap dinormalisasi untuk mengganti kata abuse (indonesia: penyalahgunaan). Kekerasan sebenarnya hanya menjadi bagian kecil dari abuse dalam relasi keintiman. Kekerasan merupakan salah satu manifestasi dari bekerjanya abuse dalam relasi keintiman. Abuse dalam relasi keintiman merujuk pada penyalahgunaan relasi, dimana salah satu pelaku relasi tersebut (sengaja atau tidak sengaja) menyalah-gunakan posisi dalam relasi dengan memanfaatkan atau memperlakukan pasangannya secara tidak pantas dan tidak wajar tanpa memikirkan perasaan dan diri orang tersebut yang dapat berujung pada kekerasan fisik, seksual, atau psikologis. Abuse dapat juga diidentifikasi dari fungsinya yakni dominasi, hukuman atau kontrol atas orang lain. Abuse dapat dilakukan secara fisik, kekerasan seksual, ancaman, uang, emosi, psikologis dan spiritual untuk mendapatkan kontrol dan kondisi yang diinginkan dari pasangannya. Yang perlu digaris bawahi adalah abuse dalam relasi keintiman bukan merupakan insiden sekali yang terjadi begitu saja, namun sebuah proses sistematis untuk menjaga kuasa dan kontrol dalam relasi.

Faktor penyebab kekerasan dalam relasi sangat luas. Bersifat internal dan eksternal; mulai dari personal individu hingga ranah politik, ekonomi, sosial, budaya dan segenap lingkup kehidupan kita. Belum lagi spektrum makna subyektif dan sosial atas kekerasan yang demikian lebar. Dalam berbagai budaya, misalnya, kekerasan dirayakan bahkan diharuskan.  Dalam budaya kita yang didominasi oleh nilai patriaki misalnya, pemaksaan istri di ruang domestik semata oleh suami atau pemukulan suami pada istrinya dianggap normal dan wajar. Perilaku, cara berpikir, dan tindakan kekerasan oleh individu pada individu lainnya juga menjadi bagian dari hasil panjang pembentukan kepribadian dan adaptasi yang bersifat sangat personal. Demikian, kekerasan tidak mengenal gender, status, kelas, atau pendidikan. Semua orang dapat melakukan dan mengalami kekerasan dalam relasi keintiman.

Kompleksitas faktor penyebab menegaskan bahwa dalam tiap kasus kekerasan dalam relasi keintiman (atau IPV - Intimate Partner Violence) bersifat unik karena kompleksitas kelindan faktor psikologis, perkembangan diri dan ekpolsosbud yang tidak dapat disamakan. Keunikan ini sejajar dengan uniknya kondisi psikologis, kepribadian, perilaku, dan cara berpikir manusia yang dihasilkan dari jejaring kompleks jutaan faktor internal dan juga eksternal. Dengan demikian, setiap kasus melibatkan karakter-karakter unik yang distinktif sehingga penyelesaiannya selalu membutuhkan pemahaman dan pendekatan spesifik. Kurasa, disinilah peran para psikolog masuk.

Sangking kompleksnya, pendekatan reduksionis menjadi opsi. Informasi mengenai abuse dalam relasi dipaparkan dalam hitam dan putih. Persoalannya dikerucutkan dalam ruang ‘kekerasan’. Bingkainya binari sisi positif dan negatif, sang pelaku dan sang korban. Mayoritas informasi memaparkan bahwa pelaku kekerasan mengalami penyimpangan, cacat psikologis hingga sakit mental dan harus dihindari, sedangkan yang mengalami kekerasan merupakan pihak lemah yang perlu dibantu dan disembuhkan. Bingkai dikotomis memudahkan untuk intervensi tindakan.

​Pada tataran praktis masyarakat umum, bingkai ini telah menyelesaikan persoalan, ya pisahkan saja relasi tersebut agar kekerasan tidak terjadi! Bisa dibayangkan sulitnya untuk mensosialisasikan kompleksitas ini. Sama dengan tidak mungkin kita meminta masalah kesehatan dipahami semua orang. Cukup, sosialisasikan bila anda sakit pergilah ke dokter. Ada spesialis yang dapat menangani hal tersebut. Namun, bila kaitannya dengan persoalan psikologis, ya.. ia tidak selalu manifest seperti panas 49C atau bintik-bintik di kulit. Sosialisasi mengenai abuse pun hanya mampu memaparkan persoalan yang manifest. Bila kekerasan, penganiayaan, terjadi maka yang perlu dilakukan adalah ini. Atau informasi mengenai indikasi-indikasi kekerasan dalam relasi berderet dari A hingga Z. 

Bingkai binari telah menggiring siklus simpul mati penghindaran sebagai solusi: baik bagi pelaku yang melakukan dan yang mengalami. Nilai disematkan; buruk dan baik. Binari bingkai ini telah seolah meletakan bahwa pelaku kekerasan perlu di-isolasi, disingkirkan dan tidak mungkin dapat di'sembuh'kan. Sedangkan pelaku yang mengalami kekerasan perlu ditolong dan diselamatkan. Dominasi bingkai dikotomis pula yang akhirnya menyiptakan reaksi masyarakat saat berhadapan dengan kekerasan dalam relasi dengan pernyataan penuh keheranan; 'kok bisa tega sih?', 'gak mungkin orang normal melakukan hal sekeji itu', dan seterusnya. Dominasi binari yang kita pahami menggiring stereotipe sakit jiwa dan mental disorder yang dilekatkan pada para pelaku (bukan berarti kondisi ini tidak ada). Namun beragam stereotipe dapat kian menguburkan, mengaburkan akar isu ‘proses sistematis menjaga kuasa dan kontrol’, dan mengembangkan persoalan kekerasan dalam relasi di tengah masyarakat. Ini menjadi lingkaran setan yang menyakitkan pasangan dalam relasi, dimana pelaku dirasionalisasi harus diisolasi dan tidak dapat memiliki solusi sekaligus yang mengalami harus pergi dari relasi tersebut dan menyelamatkan diri. Bagai kotak pandora yang menafikan satu elemen yang tersisa.

Sebagaimana kita pahami, bingkai binari kekerasan telah membentuk stereotipe atas distinksi antara yang 'normal' dan yang 'anomali'; seolah dapat dibedakan dalam pematuhan kriteria stereotipe yang disusun; seolah pelaku adalah spesies diluar bingkai normal sehari-hari. Kenyataannya salah satu masalah utama yang dihadapi oleh ‘korban’, teman-teman, keluarga dan juga pelaku adalah bagaimana tidak adanya distinksi antara yang normal dan anomali. 
Picture
Faktanya adalah kita semua normal. Atau bisa dikatakan kita semua sakit. Terlebih saat kita memahami bahwa abuse adalah proses sistematis dari kuasa dan kontrol dalam relasi. Kedua pihak dalam relasi sangat mungkin untuk melakukan abuse pada pasangannya sekali waktu. Sebagai contoh roda kontrol (lihat gambar), satu dapat sedang melakukan abuse secara ekonomi (memaksa satu pasangan untuk membayar semua tagihan misalnya) dan satu melakuan abuse privilege (memaksa peran gender dalam relasi tersebut). Namun, abuse biasanya baru tersadari saat terjadi kekerasan fisik. Lalu bertanya; kenapa pelaku melakukan kekerasan dalam relasi? Apa yang membuat mereka tergerak? Apakah mereka menderita semacam penyakit? gangguan mental? Apakah yang 'normal' bisa tiba-tiba menjadi pelaku? dstnya.

Mengurai persoalan ini tidak sesederhana mengutarakan satu sakit psikologis dan satunya tidak. Pelaku kekerasan maupun yang mengalami kekerasan sebenarnya memiliki kondisi psikologis yang sama-sama tidak normal. Atau kalau bahasa para psikolog sebenarnya kita semua unik.  Pada dasarnya kita semua ‘sakit’.  Karena perilaku dan tindakan menjadi bagian dari proses panjang penyaluran dan kebutuhan (16 kebutuhan dasar manusia – belum termasuk ranah emosi otak manusia) masing-masing individu menyiptakan karakternya. Ambil contoh yang mengalami kekerasan bisa jadi tidak memiliki formasi identitas yang baik karena sepanjang masa hidupnya tidak pernah diajari batas emosional sehingga ia merasa bersalah untuk harus memperbaiki relasi (akan berada dalam hubungan penuh abuse dengan semangat positif memperbaikinya, atau  fantasi diatas realitas) atau merasa over-attachment,tidak memiliki rasa aman, atautidak dapat membedakan antara cinta dengan simpati.  Bagi yang melakukan kekerasan, bisa jadi kebutuhan dominasi atau agresi sebagai hasil panjang reaksi lingkungan atas kebutuhan dasarnya yang menyiptakan individu yang kekurangan empati, sehingga mudah melihat segala hal sebagai obyek dan bukan manusia. Contoh perilaku ke prostitusi atau perselingkuhan rekreasional merupakan indikasi atas bergeraknya kekurangan empati (untuk informasi saja, lebih banyak populasi kekurangan empati daripada kelebihan empati). Hasil semua perilaku dan tindakan merupakan perjalanan panjang yang terbentuk dari kebutuhan diri dan dinamika aksi-reaksi internal-eksternal pribadi. Intinya tidak normal dan anomali bukanlah hitam-putih dan ada proses kompleks di dalamnya.

Persoalan yang menarik dari dinamika psikologi manusia adalah saat yang kita sebut sebagai ‘karakter’ atau ‘watak’ kerap merupakan hasil dari mekanisme diri yang telah menjadi refleks. Mekanisme dalam mengelola emosi dan kebutuhan dasar manusia berjalin erat dengan kondisi eksternal kita. Faktanya kita perlu mengakui bagaimana budaya kita tidak memberikan ruang pengelolaan emosi yang ‘sehat’. Berbicara pada tataran general, data menunjukan budaya timur memiliki tingkat kesehatan mental yang lebih rendah daripada budaya barat. Karakter adalah manifestasi kebutuhan rasa aman (aman tidak mengubah diri kita). Bukankah mengerikan untuk mencoba menjadi orang lain dan mempelajari arketipe perilaku yang berbeda? Namun sangking super-canggihnya dinamika otak manusia dalam membentuk diri, hingga mampu menyiptakan realitas baru (contoh skizofrenia) dalam mengatasi isu-isu yang dihadapi dalam keseharian. Kompleksitas kekerasan dalam relasi keintiman memadukan kondisi psikologis, sejarah sosio-kultural subyektif dan konteks sosio-kultural tak dinyana merupakan kondisi nyata yang hadir demikian dekat dalam keseharian kita.

​Dalam kompleksitas ini sebenarnya menyisakan ruang sejauh mana kita menyadari interkoneksi abuse dan kekerasan. Atau sederhananya, sejauh mana masing-masing pasangan bersedia sadar psikologis, mengakui bahwa pada dasarnya semua relasi dan diri bersifat abusive, dan belajar bekerjasama dalam menyehatkan relasi. Mungkin itu agaknya utopia dan pastinya kita akan kembali menemukan (atau mengalami) keheranan-keheranan kenapa kekerasan dalam relasi keintiman terus terjadi dengan beragam analisa kausistik sana sini.    


Yogya, belakangteras. 20160914.


Tulisan ini juga terunggah di:
 http://www.kompasiana.com/arymami/kompleksitas-abuse-dalam-relasi-keintiman_57d65154b593738046156c89

]]>
<![CDATA[Gratitude: Study Journey (1)]]>Wed, 31 Aug 2016 07:00:00 GMThttp://arymami.com/notes/gratitude-study-journey-1Picture
 I couldn't treat this, like any usual forum. Speaking about shifting intimacies intertwined with schizophrenic society were things I could once only dream about. Over a decade of trying to understand love and intimacy, I felt like it was put to the test. To add to that, this was still an ongoing research - abundance of results of which coined more questions than answers. Honestly have shred me weary, to the point where I question why and what this journey is about.

I was insanely nervous; I don't know wether it was because I had to present it in English or wether I had to speak about something I had been so passionate about, or maybe a mixture of both. I was concerned that I wouldn't be able to transfer my understanding on schizophrenic society; how to give out deleuze without being deleuzian, without using terms like body without organs as his main foundation of reality, or terms such as lines of flight, delirium, and molar-unmolecular dynamics in society. Concerned about our sense and tendencies of categorizing and dissecting love to reduction denying the shades of intimacy. Afraid I wasn't able to give voice to the voiceless (no matter how the paradox it may be, still remembering spivak) to those who had shared their love journeys and lives with me. 

To my surprise the room was filled, and each person at some point took words out of me. And to my surprise the topics I was anxious about were not the ones I should be worried about. Discussions have triggered new areas in advancing this research, critics and questions enlighten me to what I should be working on. And most of all.. I was overwhelmed to so many opportunities, forums, people, and individuals who constantly thrust this study and letting me learn even more and more. And today, my heart was overflowing with gratitude for those who willingly came and immersed to what I passionately study, *your presence meant the world for me* and even more had made me fall in love with love once again, blessed by this doctoral journey, a journey that felt like a dread for quiet sometime, just halted to see rainbows and flowers on a green field.

#overwhelmed #thankyou #thankyou4yoursupport#thankyou4coming #thankyou4teachingme#skizofrenicsociety #schizosubjects #multiplerealities #doctoral #doctoraljourney

]]>
<![CDATA[Pulang Bersyarat Maaf ]]>Wed, 13 Jul 2016 11:39:07 GMThttp://arymami.com/notes/pulang-bersyarat-maaf
Picture

​​Me : “sama-sama ya.. hm.. sudah berapa pesan sama yang kau kirimkan hari ini?”
X : “hihihi.. banyak pesan.. isinya sama semua! Ini lagi silaturahmi keluarga dengan cerita yang itu2 juga...”

Me: “itu-itu jugalah yang memiliki makna”

-lebaran 6 July 2016-
Sejak semalam handphone bertaburan salam dan permohonan maaf. Manifestasi baru dari kata silaturahmi. Mungkin juga konstruksi baru nilai relasi, konstruksi keluarga dan arti. Ada rasa ironi dan tanya atas makna yang menyelonong begitu saja tiap kali aku membalas pesan. Mungkin karena kebiasaan skeptis; mungkin karena pengalaman historis; dan mungkin karena cukup luang untuk memikirkannya. Alasan terakhir paling masuk akal.

Aku menimbang makna ‘maaf’  dan makna relasi diriku dimata pengirim. Tidak dapat dipungkiri, untuk sosok2 tertentu kita akan sedikit ‘bersusah payah’ memberikan sentuhan personal; apa kabar, nama, dstnya. Bahasa akan merefleksikan nilai hubungan, kepentingan hubungan, dan juga personifikasi pengirimnya. Di tengah keberlimpahan ‘tanda’ keseharian kita, event semacam ini dapat jadi ajang uji kreatifitas  yang memang dituntut masa, hingga membuat kian sulit membaca ‘makna’, ‘nilai’, dan ‘arti’ ekspresi relasi diluar praksis ritual semata.

Terlebih setelah ekslusifitas relasi runtuh dengan berulang kali kehilangan arti melalui perbedaan makna tentang rasa. Sulit tidak bertanya-tanya berapa banyak orang lain yang sudah dikirimi ‘pesan’ dengan sapaan yang persis sama. Makna maaf dan relasi mendadak elusif.

Maaf - adalah kata singkat bersyarat. Pertama untuk meminta maaf, kita perlu merefleksi semua salah. Kedua, meminta maaf untuk sesuatu yang tidak tersadari, kita perlu merefleksikan diri kita sendiri dalam hubungannya dengan orang yang kita mohon ampunnya. Sedangkan memaafkan tidak pernah sama dengan melupakan. Memaafkan seseorang bersyarat memaafkan diri sendiri. Sejauhmana kita memaafkan diri kita sendiri atas semua sakit yang kita alami dari sosok2 tertentu. Memaafkan diri sendiri jauh lebih sulit, sebab ia meminta keiklhasan; prasyarat hadirNya. Rasa sakit sebagai sebuah ‘salah’ ini, hanya mampu dihapus olehNya.

Relasi - makna itu hanya ada pada rangkaian historikal struktur ikatan sosial (lihat Freud, Strauss, Derrida). Ia selalu bersifat familial, mengakar. Termanifestasi dan resiprokal dalam ritual yang direproduksi berulang. Orang tidak akan mampu memproduksi makna tanpa rangkaian pengalaman historis yang ditanam – tidak ada yang bisa bermakna kalau tak ada kenangan. Subyektifitas (makna yang diciptakan secara personal) pun takkan memiliki arti yang bernilai, tanpa kebertautan dan konfirmasi jejaring makna di tataran sosial sekitarnya.

Seperti paparan Bung Saleh, seorang teman yang menggunakan istilah ‘imaji-imaji’ masa kecil (historis) yang membawa kita pulang (praksis) dan bahkan imaji-imaji ini yang berperan (arti) mengembalikan kondisi fitrah (nilai).

Singkat kata, ‘kebermaknaan’ hanya muncul saat arti bersyarat historis berjajar dengan nilai yang manifestasi dalam praksis kenyataan sosial. Satu dan lainnya tidak dapat saling alfa, kecuali hendak berujung delusi atau manipulasi. Faktanya kita tidak sendirian di dunia.

Mengeja relasi; struktur makna familial paling kasat mata termanifestasi dalam keluarga. Rangkai historis hubungan darah merupakan kondisi riil yang tak dapat digoyah dengan subyektifitas makna.  Mau jumpalitan juga, yang riil tersebut mengemuka arti membingkai makna.

Tidak rumit melihat kebermaknaan relasi. Bahkan pada begitu banyak teman-teman yang sedang dilanda syndrom lebaran (mempertanyakan makna berujung kecemasan ‘pulang’ penuh rasa sebagai lian). Praksis riil akan mengemukakan arti dan kebermaknaan. Sesederhana siapa yang dapat riil ada disekitar Anda. Sesederhana menekan nomer telpon untuk bicara. Segamblang spontanitas yang mengada tanpa pernah mampu mengubah makna.

Tepat disini, rasanya ingin secara ajaib pulang kedalam kepelukan keluarga. Menjadi bagian dari mayoritas orang yang tersita dengan aktifitas lebaran; bertemu, makan opor, atau menghabiskan waktu ‘hangat’ bersama. Mengikuti trend mengunggah foto keluarga dengan ucapan indah di dalamnya. Andai mengikuti unggah foto live, maka aku akan berada diantara tumpukan buku tua dengan secangkir kopi dan roti bakar. Tampaknya tak elok untuk sebuah nuansa lebaran.

Lebaran ini aku sendiri. Rasanya cukup lama aku bergulat dengan konsepsi makna ‘pulang'. Terdampar datar dalam kekosongan. Tentu kondisi tidak selalu seperti ini. Kali pertama aku menangis seharian. Lalu.. entah tepat kapan aku kehilangan makna ‘pulang’ diikuti dengan lenyapnya air mata pada peluk, maaf, dan pertemuan. Saat kekosongan yang kurasa baru saja berlahan terisi. Mendadak disambar alfa. Direnggutnya percaya, cinta, pulang, keluarga. Aku bersiap menyapa kekosongan dengan sedikit kebaruan, tanpa anak semata wayang.

Namun semesta selalu memiliki lipatan tak terduga. Untuk entah setelah berapa tahun lamanya, aku berderai air mata dengan sedikit rasa hangat di dada. Saat semua mungkin disibukan dengan berkumpul bersama yang tercinta, semesta mengajaku bertemu sosok yang melemparkanku kembali pada deretan lipatan persitiwa 19 tahun silam. Mengemukakan sebuah kerja yang tak kasat mata; pada tiap langkah, tiap peristiwa, sepanjang tahun demi tahun. Sisi berbeda dari perjalanan panjang yang ‘menyesakan’ seolah baru dibuka di depan mata. Semesta menyapa, mengingatkan kosong itu tak pernah ada.
 
Yogya. Sleepless. 070716.
Maaf-atas-salah.
Maaf-bila-belum-memaafkan.
#pleaseletmesleep #lebaran #maaf #pulang
]]>
<![CDATA[Keterputusan Kekerasan Seksual  ]]>Fri, 10 Jun 2016 09:31:29 GMThttp://arymami.com/notes/keterputusan-kekerasan-seksual
“I still dont understand how educated people still do not undertand
that when they joke about sexuality, sex, social identity, relationship status
- they objectify and discriminate”
DA (FB, 25 Mei 2916)
 
Pada pertengahan-akhir Mei 2016 masyarakat Indonesia telah dikepung wacana horor dan teror kekerasan seksual. Segenap pihak reaktif bersuara, melontarkan opini, menawarkan sudut pandang, dan bahkan berbagai petuah bagaimana menghindari kekerasan seksual; “Bunuh saja” “Gantung” “Salahnya anak ditinggal kerja” “Berantas alkohol dan pornografi” “Kebiri” “Harus ada effek jera!”. Semua tampak chaotic dan tidak masuk akal. Seolah alpha atas kekerasan seksual sebagai hasil dari politik seks yang menyejarah. Saya kehilangan kata menganggapi fenomena tersebut, hingga kuotasi di atas merupakan satu-satunya kalimat “frustrasi” yang dapat saya ketikan di akun FB saya saat itu. Selebihnya saya hanya tertegun dalam geram mengikuti parade normalisasi patalogi aksi-reaksi semua pihak masyarakat sambil mual, muntah, dan tertekan sendiri. Enggan memikirkan bagaimana logical falacy bisa begitu menjamur di tengah masyarakat.
Sayangnya itu tidak bertahan lama. Saat seorang kawan menghubungi untuk berpartisipasi dalam diskusi mengenai kekerasan seksual yang marak, saya terpaksa memikirkannya. Saya tak mampu menolak permintaan kawan satu ini (dan kalau Anda mengenalnya, Anda pun akan merasakan hal yang sama.. sebut saja dia memiliki aura persuasi yang tidak biasa). Yang terlintas di kepala saya, hanya.. kebingungan dengan segala keterputusan yang ada. Ditengah tumpukan refrensi tema ini yang terpaksa menggeser buku-buku tentang keintiman, nama Deleuze dan Gauttari (D&G) mengintip di sudut meja. Dan yang memukau tentang D&G adalah cara memandang fenomena sebagaimana adanya (as is). Seolah memberikan tanda.. Terinspirasi oleh karyanya yang sebagaimana adanya, saya memulai dengan ‘as is’: Kebingungan.
 
 
Ketidaksadaran: Feminisme sebagai Keseharian
 
Kekerasan seksual tidak pernah sekedar aksi kekerasan seksual. Kekerasan seksual merupakan ekspresi politik seksual - dimana ada dominasi gender yang difungsikan untuk mempertahankan status quo. Kekerasan seksual tidak pernah semata kekerasan, namun tindakan seksual dimana seksualitas itu sendiri merupakan bentuk kekuasaan. Maka membicarakan konsep kekerasan seksual tidak dapat lepas dari membicarakan rangkaian tema politik seksualitas, konstruksi seksual, relasi kuasa, dan ketimpangan relasi gender.
 
Saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memikirkan bagaimana persoalan yang seluas dan sekompleks itu dapat dipaparkan secara sederhana dalam waktu yang demikian singkat. Permintaan kawan persuasif saya adalah membahas konsep (berarti membicarakan ranah teoritik!) dengan tujuan diskusi adalah mencari akar persoalannya! Whuiiiihhhh.. beraaaaatnyaaa! Belum lagi saya diapit oleh dua narasumber (Komisioner Komnas Perempuan & Aktifis gender) yang jelas memiliki limpahan data, jam terbang, dan luasnya wawasan mengenai topik yang hendak didiskusikan. Apa pula yang bisa saya sampaikan untuk memberikan kontribusi dalam persoalan ini? Apapun itu, saya paham intinya sesederhana gabungan tiga kata ‘relasi-kuasa-gender’. Namun tidak ada yang sederhana dari perkembangan inter-relasi kerja tiga konsep itu (baca:feminisme). Rasanya tak sanggup.
 
Seseorang yang seumur hidupnya belajar mengenai feminisme pun tidak akan benar-benar katam berbagai aliran pemikiran feminisme dari radikal hingga postmo, apa lagi saya? Mengamini (baca: merasa mengalami hal yang sama) seperti yang dikatakan mbak Dewi, (dengan bahasa saya sendiri) membaca Simone de Beauvoir (sosok pemikir feminisme eksistensialis) aja gak tuntas-tuntas, nih MacRobie (sosok pemikir post-feminisme) dah bikin buku baru aja.
 
Lagian memaparkan pemikiran memaparkan pemikiran, teori, konsep-konsep megah yang ada didalam buku-buku babon itu, rasanya percuma. Saya yakin semua juga sudah paham gender itu apa dan relasi kuasa gender apa. Faktanya.. Kita mudah dan fasih bicara tentang kekerasan, tentang seks, tentang seksualitas, bahkan gender...  meski aksi-reaksi di tengah masyarakat jadi tidak masuk akal.
 
Semua konsep dan teori yang saya bayangkan perlu untuk dipaparkan, tampak tidak tepat untuk disampaikan. Saya benar-benar kebingungan dan merasa tak memiliki kata untuk dapat memaparkan bekerjanya ketimpangan relasi kuasa gender secara kontekstual dalam menanggapi kekerasan seksual.
 
Mayoritas fasih bicara tentang kekerasan, tentang seks, tentang seksualitas, bahkan gender, namun senantiasa gagal saat harus meletakannya dalam lanskap hubungan kuasa dan relasi sosial. Bahkan nuansa enggan akan muncul saat bicara relasi kuasa gender. Jujur deh... siapa tidak enggan, saat bicara interkoneksi relasi kuasa dengan fenomena sosial? Terlepas dari segala jenis ketimpangan (berbasis gender) yang mengemuka, terasa, dan berkelanjutan, ada sebentuk normalisasi untuk menghindar, mengabaikan, dan bungkam saat bicara relasi kuasa gender.
 
Fakta normalisasi ini telah membuat mayoritas dari kita kesulitan untuk meletakan fenomena sosial dalam persepsi ketubuhan berbasis gender dalam dinamika relasi kuasa kehidupan sosial. Jujur (penuh malu) saya pun merasa enggan membedah relasi kuasa gender. Tidak hanya enggan tapi merasa begitu tak berdaya mengurai berlahan kompleksitasnya.
 
Merenung, merefleksi, mengkritisi dan mencaci diri atas ketidak berdayaan ini... saya menyadari.. Seluruh kebingungan dan ke-enggan-an itu sendiri adalah bukti konkrit opresi hasil dari politik seksualitas! Kita semua sudah di’arah’kan untuk terbungkam merasionalisasikan kondisi terkait gender kita.
 
Frustrasi tak memiliki kata (dan juga logika) adalah realitas yang faktual. Hasil dari proses panjang politik seks. Contoh paling sederhana, adalah penggunaan kata ‘saya’ dan ‘aku’ yang dihilangkan dalam keseharian kita. Kita tidak pernah diajarkan melihat identitas orang sebagai orang itu sendiri – ‘dia anaknya si A, dia itu suami dari si B,’ dst. Dalam proses ini pula subyektifitas dihilangkan. Disini sebenarnya tidak perlu memahami rangkaian konsep dan sejarah pemikiran panjang tentang bekerjanya ketimpangan relasi gender.
 
Intisari feminisme adalah pada penyadaran atas ketimpangan. Anda tidak perlu katam pemikiran untuk menyadari ketimpangan. Faktanya tidak ada feminisme yang tidak kontekstual pada era dan kondisi sosial dimana ia dilahirkan. Mengetahui ketimpangan, tidak membutuhkan wawasan teoritik bak disertasi. Anda bisa berupaya menghindarinya, mengabaikannya, menafikannya, tapi anda tidak mampu menghilangkannya, sebab anda pasti akan merasakanya. Tidak ada yang tuna rasa pada ketimpangan. Namun fakta bahwa ketimpangan tersebut tidak tampak berhubungan dengan seksualitas dan gender, adalah bukti konkrit bekerjanya politik seks.
 
Ada persoalan mendasar ketika semua orang sudah paham tentang gender, namun seolah tidak terhubung sama sekali dengan praktek keseharian kehidupan sosial. Alfa bahwa feminisme merupakan bagian keseharian yang erat dengan identitas diri sendiri.
 
Darurat Kekerasan Seksual
 
Belum lama ini kita masuk dalam kondisi “Darurat Kekerasan Seksual!” – secara kontekstual, publik dan negara bereaksi karena dipantik oleh kekerasan. Kejahatan. Pembunuhan. Kasus Eno menjadi puncaknya (tidak perlu saya paparkan kembali apa yg terjadi disini). Dan kita melihat seluruh pihak terlibat secara emosional dan menyerukan kemarahan dan tuntutan atas keadilan! Keadilan.
 
Kita bereaksi atas kejahatan, pembunuhan, aksi ‘biadab’ kemanusiaan. Semua bereaksi atas kekerasan dan kejahatan. Tapi andai pembunuhan dan aksi ketidakmanusiaan tersebut tidak terjadi.. dan kita ditinggalkan dengan aksi kekerasan seksual. Akankah ditanggapi? Faktanya kekerasan seksual tidak pernah jadi masalah! Kasus semacam itu selalu lenyap dan tidak dianggap penting. Apa perlu bukti? Kasus YY itu sempat hilang lho dari masyarakat kalau tidak dipaksa kembali masuk media. Kasus kekerasan di JIS tahun 2014? Pemerkosaan masal pada Mei 98? Apa kasus budak seksual 65? Kejahatan dan kekerasan seksual hanya mengalami peningkatan, tanpa ada upaya untuk menumpasnya.
 
Jadi darurat kekerasan seksual?! Darurat kekerasan apa bener darurat kekerasan seksual? Makna darurat ini apa bagi siapa?
 
Darurat! yang diserukan para feminis (penggerak keseteraan seksualitas dan gender) karena negara tidak hadir menanggapi kerja kekerasan berbasis prasangka gender, etnisitas, suku, ras, agama, aliran politik yang dapat termanifestasi kekerasan dan kejahatan seksual.
 
Darurat! yang diserukan publik adalah untuk kejahatan, pemerkosaan dan pembunuhan. Kontekstual, negara bereaksi menanggapi tuntutan efek jera dan keadilan. Kontekstual hanya terpantik karena terlibatnya ‘anak-anak’ (ada konstruksi berbeda untuk status ‘anak’, ‘anak perempuan’, dan ‘anak lelaki). Tapi darurat kekerasan seksual?
 
Andai memang ini bicara tentang darurat kekerasan seksual, andai masyarakat memang begitu tergerak dan terhubung dengan persoalan kekerasan seksual...Bagaimana mungkin ada viral meme yang bermain dengan kata “Masih banyak cangkul”!
 
Kekerasan seksual tidak pernah dianggap penting! Pada tataran hukum kita sekalipun kekerasan seksual selalu kesulitan naik keranah hukum (contoh: pemerkosaan dalam pernikahan, pelecehan lelaki kepada lelaki, kekerasan seksual tanpa penetrasi, atau penetrasi tanpa ketubuhan). Seksual – Seks – Seksualitas itu tidak pernah dipahami sebagai hal yang signifikan. Seksualitas dan gender selalu diabaikan. Dan disepelekan. Subyektifitas dan identitas telah lenyap dalam praktek keseharian. Seluruh pengetahuan, pemahaman tentang relasi gender tidak berkaitan dengan praktik dan implementasi keseharian. Mengendap dalam budaya. Dan satu hal tentang budaya adalah normalisasi dan ketidaksadaran dalam menyiptakan cara pandang. Masyarakat tidak memiliki kesadaran (lelaki dan perempuan) berperan dalam politik seks dan memproduksi kekerasan seksual itu sendiri.
 
Cara pandang mengenai seks berinti pada dua hal: essensialisme (melihat seks itu sebagai bagian kodrati dengan demikian ajeg) dan konstruksi (melihat seks itu sebagai bagian dari ciptaan masyarakat dengan demikian dinamis).
 
Saat seks dilihat sebagai hal alamiah, maka pemerkosaan itu terjadi karena lelaki memiliki penis (yang dapat tegang) dan perempuan memiliki vagina (berlubang). Seks sebagai hal alamiah dilihat secara heteroseksual (lelaki dan perempuan), dimana lelaki senantiasa ngaceng saat memiliki hasrat pada ke-elokan perempuan (yang memiliki lubang). Maka cara pandang seks sebagai hal yang alamiah ini menghasilkan ‘pemerkosaan sebagai hal yang wajar’, sudut pandang ‘tutupi tubuh kalian wahai para perempuan’, ‘jangan biarkan anak-anak perempuan sendirian’, dan kebiri untuk sebuah proses biologis tidak terjadi pe-ngaceng-an (yang sebenarnya tidak ada hubungannya).
 
Kekerasan seksual dilihat dari sudut pandang alamiah adalah Mitos! Seluruh sejarah modern telah memaparkan kekerasan seksual tidak pernah sekedar persoalan tubuh dan seks.
 
Saat seks dipandang sebagai konstruksi, maka seks dipercaya sebagai operasionalisasi hal yang alamiah. Operasionalisasi ini menjadi bagian dari konstruksi budaya. Sebagai contoh bagaimana maskulinitas dilekatkan pada sosok laki-laki dan feminitas dilekatkan pada sosok perempuan. Bahwa mengoperasikan kelaki-lakian maupun keperempuanan mengikuti bentukan budaya yang diciptakan. Maka cara pandang konstruksi, identitas ‘alamiah’ diwujudkan melalui simbol-simbol kultural. Misalnya lelaki itu maskulin tidak boleh menangis, harus kaya dan sukses secara ekonomi, maka ketidakmampuan/ketidakberhasilan untuk mengambil simbolisasi akan termanifestasi melalui kekerasan. Saat di India terjadi gerakan perempuan bekerja, maskulinitas lelaki ‘terganggu’ dan menghasilkan pemerkosaan masal sebagai bagian dari mengambil nilai maskulinitasnya kembali. Tidak berbeda dengan kasus YY di Bengkulu. Sebagai konstruksi maka seksualitas selalu berubah sesuai jaman. Seks menjadi dinamis sesuai konteksnya. Bila jaman dulu perempuan memiliki feminitas yang sempurna dengan diselir oleh raja, itu pun memiliki konteksnya.
 
Kekerasan seksual dilihat dari sudut padang konstruksi menyesuaikan dengan dinamika perkembangan masyarakat. Bila maskulinitas dan feminitas dibekukan, maka kekerasan seksual semakin terduplikasi jenis dan jumlahnya karena dinamika seksualitas yang berlangsung di peradaban. Hasil pembekuan adalah keterputusan logika sebagai bagian dari konstruksi budaya yang menjadi hal mendasar dalam berlangsungnya fenomena kekerasan seksual.
 
Seks sebagai konstruksi sosial inilah yang memenuhi sosialisasi pemahaman tentang gender. Saat gender mainstreaming dijadikan MDG, yang diharapkan masuk dalam tataran pemahaman dan sistem sosial. Kita mendapatkan kesetaraan gender hanya sebagai wacana. Kondisi kebingungan perempuan menikah atau mengejar karir membuktikan ini. Faktanya tataran praktis dunia karir menghilangkan kebutuhan ‘menjadi perempuan’ – menyediakan ruang menyusui sebagai ‘ibu’ misalnya (ibu saya tekankan sebagai konstruksi sosial juga) atau bagaimana laki-laki yang merawat anak disepelekan oleh publik. Cara pandang alamiah dan pembekuan seksualitas terus berlangsung, tanpa menyadari menghidupkan budaya relasi gender penuh ketimpangan.
 
Persoalan tentang ‘cara pandang’ adalah hal yang kompleks. Proses berpikir dan konstruksi realitas tidak mampu lepas dari kekuatan bekerjanya budaya. Prostitusi merupakan contoh yang menarik mengenai cara pandang alamiah yang dipertahankan. Bahwa konstruksi maskulinitas adalah dapat ‘tidur dengan banyak perempuan’ (cara pandang alamiah ‘ngaceng’) banyak lelaki yang terus berdatangan pada prostitusi (atau sekarang lebih populer dengan selubung karaoke, pijat, dan spa). Seks dipandang terpisah sebagai kebutuhan ‘alamiah lelaki’ yang tidak berhubungan dengan konstruksi relasi kuasa. Konstruksi itu pun bergerak di para perempuan, bahwa perempuan penjaja seks itu berbeda dengan perempuan bukan penjaja seks, kemudian menormalisasi bahwa “lelaki memang begitu”. 'Pembelian' seks adalah bagian dari penguatan relasi kuasa gender dilepaskan dengan rasionalisasi seks sebagai kebutuhan dan penyedia seks sebagai profesional yang dibayar. Seksualitas bukan sesuatu yang diperjual-belikan! Semua seksualitas yang dikomoditi-kan merupakan intervensi identitas dan hak asasi manusia. Pembelian seks setara dengan perdagangan seksualitas yang mengintervensi hak menjadi manusia yang hakiki.  Tidak pahamkah kita bahwa terus menghidupkan ketimpangan dan memupuk kekerasan? Kekerasan yang diserukan sebagai ‘hal yang terlalu menyakitkan buat kita semua’.
 
Seluruh proses bekerjanya relasi ketimpangan gender bisa terputus. Bahwa dengan beberapa ratus ribu orang yang menikmati seks menghidupkan kekerasan seksual, dan membunuh ‘identitas’ tidak saling terkait. Tidak menyadari politik seks bekerja. Sama terputusnya dengan orang yang sibuk bicara kesetaraan sembari membuat meme mendiskriminasi dan menstereotype seksualitas. Atau anak yang mengenakan baju “mantanmu bekas kimcilku” sembari menyerukan hentikan kekerasan seksual.
 
Disini, sedih mengetahui bahwa gender dipahami sebagai pembedaan dan bukan perbedaan.
 
Keterputusan sebagai Konstruksi Budaya
 
Ada keterputusan pemahaman mengenai gender dan politik seks dalam implementasi keseharian masyarakat. Secara faktual semua orang enggan bicara gender (yang makin tidak jelas), kita bisa mudah menemukannya dalam candaan orang dalam mendiskriminasi dan membingkai seksualitas –perempuan, gay, lesbian, ayah feminis, dstnya. Terlalu banyak yang malas berkomentar, menghindari, atau mengabaikan dengan bercanda mengenai persoalan ini. Bahkan perempuan! Andai anda masih mengira bahwa feminisme berarti sama dengan perempuan dan bukan ketimpangan.
 
Pergerakan kesetaraan gender telah hancur dengan proses industrialisasi budaya, yang membutuhkan differensiasi sebagai alat untuk dia hidup ditengah masyarakat. Backlash, yang sempat diutarakan Faludi telah sempurna saat ini. Backlash yang sebenarnya sempat muncul pada 1920, untuk menekan posisi perempuan di ruang publik (konteks politik saat itu) ketika melihat posisi perempuan membahayakan (baca:menggoyahkan sistem dengan perubahan). Kini melemahkan ideologi persamaan gender dikuatkan untuk membedakan seksualitas melalui budaya. Bayangkan saja berapa banyak film yang sudah bicara mengenai ‘sedihnya perempuan tidak bahagia saat berada dipuncak karir saat tak memiliki lelaki disampingnya’! Seluruh nilai telah dipaparkan dengan menyiptakan differensiasi untuk kebingungan memilih feminitas dan maskulinitas, sekaligus menghilangkan nilai itu sama sekali. McRobie menyebutkan ‘dis-artikulasi’, dimana tidak lagi ada nilai yang diperjuangkan identitas seksual tertentu. Alhasil masyarakat masuk dalam kegamangan dan stress tingkat akut (faktual sih semua anak muda kita mengalami gelombang kegalauan). Hasil dari kegamangan? – Kekerasan.
 
Ditengah era digital, kita masuk dalam sebuah tantangan baru. Kita terus mendorong realitas tanda sebagai opresi diversitas ketimpangan gender ada, dan terus mengada. Dimana budaya telah menggulirkan ketidaksadaran atas keterputusan logika dan fenomena. Kekerasan dan kekerasan seksual telah menjadi pola pikir, perilaku, dan budaya dalam keseharian kita. Ditengah ketidaksadaran ini, atau tepatnya ditengah bergulirnya budaya tidak sadar yang normalisasi kekerasan dan diskriminasi seksual, hanya sedih yang membayangi. Sudah dapat dipastikan.. jenis dan jumlah kekerasan seksual akan terus terduplikasi. Kesedihan yang sama dengan perppu kebiri (bukan pada jenis tindak hukumnya) namun legetimasi negara dalam menghidupkan logical fallacy -‘sesat pikir’ mengenai cara pandang seks pada masayrakat.
 
Yogya. 10 Juni 2016. 
]]>