<![CDATA[arymami - NOTES]]>Mon, 08 Jul 2019 23:13:56 -0700Weebly<![CDATA[Time, death, and imagination]]>Mon, 08 Jul 2019 18:56:17 GMThttp://arymami.com/notes/time-death-and-imagination

There are no death.- quoted.
Every since childhood, I had always wished for death. This may seem sick at all levels of rationals, psychology and science; but it was the only consistent wish that lasted to this point. My first memory of that thought was when I was about four years old. And no, there are no rational conditions that may possibly lead to this condition. I had a pretty cheerfull childhood, surrounded by a whole intact family, endless financial support, we were tight with stories shared, there was never one dinner left without sitting on the dinner table together, and all that grand family life usually depicted in the media of a happy healthy family lifestyle. This was really no condition where death would enter the mind of any normal child, none the less that of a four year old.
In my younger years I had at least five identical repeated dreams, with exact happenings and endings. Ones I can remember and narate perfectly. It was as if it came in waves for certain years. One exact dream lasted for 3 years, another for another 3 years, and so on. This made it really hard to not remember every detail of it. In first grade art classes,  when every child drew scenery or happy families, whilst I repeatedly drew the apocalypes of the world ending. It was basically a reflection and the exact picture of what i saw in my dreams.
Death was a wish that came without source. And dont get me wrong, I wasn’t depressed or anything of the such. It wasn’t something wished in sadness or in excitement. It was just there. Its like when someone asked if you’d like burgers or pizza for lunch, when you’re not all that hungry and lightly say without too much consideration a choice of the two. In the same notion, I would answer death. Yet I was a cheerful child, full of life.
I never really thought about it all back then. There was really nothing much to think of as a child. Teenage years was a different story. As moments unfold and begin to understand the world; stress, challenges, problems, and so on. The idea was thought in a more comphrehensive state. It continued as a young adult, adult, and to the obvious to this moment as I’m basically writting about it. The death wish was basically consistent among the years. But, no. I am NOT suicidal, if that question crossed your mind as you are reading this. Not that there were moments where I didn’t wish it so badly that I didn’t try once, twice or trice, but I was and am not suicidal.
Death wasn’t something you could pick up everytime you wish to. It would be a waste of time and absolutely useless trying to do so. A few NDE (near death experince or in bahasa mati suri) that I had experienced basically firmed that sense. If its not your time, it just isn’t. And we dont get to choose our time (this applies in all sense of human experience).
The living and the dead are not endings and beginings. May be this was the underlying believe that never gave me the suicidal state. Death doesnot end any agony or any problems you endure. I know this seems quite off from many references, but seriously, have you ever imagined that when in death your soul endure the same undesired complexities as when you were living, just that you wont be in a body? That would really be bomber dont you think?. The body in many senses are gifts of heaven as you endure your soul journey. A journey in which you cannot accelerate, cut, speed, or drop. You just have to go through it until it’s dued, even if it takes a million lifetime. And this is not a biased religious based argument, isnt all religion states where in a certain intrepretation we were given a chance to live again and again.
So why does death constantly cross my mind? Its not that I’m excited to die or something. Its not something I look forward to, as I feel that it’d just be another agony in a different dimension. The death wish is not a wish to not live. The thing is, I do not see life and death as opposing conditions. Being alive doesnot merely state are not dead, nor is dead stating you are not alive. Dead or alive just refers to the kind of medium in a journey you like or not have to finish. And I guess, it came to concious and awareness at an early age that the journey is getting too weary. I was just tired of being alive or dead. Tired of embracing it all. And embracing is not even a choice. We have to embrace all conditions to the fullest, or this journey just never ends. Living and death are both equally rejoiced. Timeless infinity only seems blissfull to those who hasnt yet endured them.
Having thoughts of death, does not mean that I do not mourn of death. Loss will always be detested and an agony, of the living. Its not something we could skip, erase or deny. Loosing someone dear is encruiciating in every aspect. And it is an agony, we all share and emphatize.
It is death that gives life meaning, and as the opposite also applies, it is living that gives death meaning. It’s all very scary in many ways, because the thing is.. its not about life or death.. it is always about between the two continums. The walk, the journey between the two points. The challenges we choose to take, and the patience we merely need to embrace.
 Sleepless, belakangteras, 09.07.19

<![CDATA[Kelamin dan Kemanusian: Dua Cangkir Kopi, Sepotong Cinta, Satu Senja]]>Thu, 23 May 2019 07:10:58 GMThttp://arymami.com/notes/kelamin-dan-kemanusian-dua-cangkir-kopi-sepotong-cinta-satu-senja..gw bener-bener gak paham, baru aja dia itu bareng ceweknya, lalu pergi pijet plus ama bo cewek lain. I dont get it. Ada gitu orang yang memperlakukan pacarnya kaya gitu ?”

.. aku meliriknya. terdiam. ekspresi datar. Meneguk dalam kopi yang tersaji.

“lu diem aja. Buat gw ga masuk akal. Comm’on man... what kinda human does that? It’s disrespectful. Lu yang expert relasi..  menurut lu gimana?”.
Aku menghela nafas panjang. Mendadak kelelahan. Relasi adalah topik yang sudah kuhindari sejak ujian terbuka dan sekian tahun babak belur meresapi kisah percintaan, perselingkuhan dan asmara.  Sebagai “pengamat”, ada sesak yang luar biasa, mendapati segala pengetahuan tidak cukup untuk membawa perubahan untuk memanusiakan manusia dan  berujung frustrasi yang berlebihan. Sebagai “personal”, ada sesak yang luar biasa, memahami perlakuan serupa, tidak hanya saat berjauhan tapi juga tepat lepas pertemuan. Paham penuh rasanya, mengalami dampak kompleksitas psikis dan sakitnya diperlakukan demikian, berulang.

Hening. Berharap topik bergeser. “harusnya kamu lebih bisa menjawab itu, lu yang cowok”, sanggahku sambil lalu. Dia hanya menatapku tajam, menanti jawaban. Aku menghela nafas panjang. Menanti rasa yang mendadak bergerak tak karuan menata diri. Menghimpun tenaga untuk menyampaikan yang immaterial, tanpa ekspektasi dipahami.
Tanpa tanda-tanda berubahnya topic, aku meresponnya.
 “..kau tahu.. ada hal-hal yang tidak dapat diterima otak manusia dan secara otomatis mengarahkan perilaku kita? Semacam basic operating system yg alamiah. Misalnya, sulit buat kita menerima kalau anak kecil dianiaya, atau pembully-an, atau sulitnya menerima tindakan genocide ras dan etnis. Secara alamiah otak manusia tidak dapat menerima dan terganggu dengan ketidakadilan. Itu alamiah dan terbukti secara ilmiah. Manusia akan menghindari semua perilaku yang menyalahi keadilan manusia lain. Buku The Moral Gene, memaparkannya dg sangat manis, bila kau pernah membacanya”.

“Kau mau menggunakan argumentasi moralitas untuk mendasari kalimat sederhana atas..  you don't do things like that to people you love?".

“Engga, bukan moralitas, tapi kerja logika. Meski moralitas adalah kata kunci yang menegaskan hubungan seks dan manusia. Sebagaimana dipaparkan oleh Darwin dalam The Decents of Man (1871). Aktifitas seks buat manusia adalah pilihan. Bukan kehilafan, bukan kebosanan, bukan juga berbagai argumentasi berbasis kebutuhan psikologis dan biologis. Semua aktifitas seks bagi manusia adalah pilihan, bersama dengan rasionalitas dan konsekuensi yg menjadi bagian dari pilihan itu. Tapi aku tidak membicarakan moralitas. Ini tentang struktur logika yang putus terhadap keadilan yang bermuara dari penyalahgunaan kuasa. Sedangkan kalimat “you dont do things like that yo people you love”.. ya.. ada benarnya... bila kau percaya cinta hanya hidup di ruang tanpa kuasa, ala Giddens. Hanya saja kalimat itu, terlampau abstraktif dan serat kultur. Pertama kita perlu membedakan tiga hal spesifik yang dipaparkan disini: cinta, seks, dan relasi cinta. Saling berkelindan sekaligus terpisah.  

Berapa sering kau dengar cowok bilang cinta dan seks adalah dua hal yang terpisah? Bukan dalam upaya membenarkan apapun, tapi.. itu memang dua hal yang terpisah. Love is.. something that can just be out there not connected to daily things we do. Seks adalah aktifitas kebutuhan biologis semua orang. Dalam konteks industri rekreasi berhubungan dengan seks, itu juga sepenuhnya berbeda. Sebagaimana bisnis, ada pasar hasrat, ada profesi, ada kebutuhan. Dalam sudut pandang industri hasrat manusia, kita mendapatkan pasar dengan berbagai profesi gigolo, prostitutes, dan beragam bentuk tempat rekreasinya. Itu semua hal yang dapat dilihat secara atomistik. Tapi, kalau bicara kita adalah relasi, sebagai mana tadi temen lu pacaran dan lalu cari bo atau pergi ke industri rekreasi seks, maka basisnya adalah relasi. Cinta, sebagaimana orang sering menggunakannya sebagai dasar perilaku, sebenarnya tidak berhubungan. Bicara data saja, alasan terjadinya perselingkuhan itu, bukan karena seorang dalam ikatan relasi itu tidak mencintai pasangannya. Perilaku tidak setia terhadap pasangan, dalam bentuk apapun – keintiman seksual, keintiman wacana, keintiman psikis, apapun – tidak pernah karena orang itu tidak mencintai pasangannya. Bukan itu. Perilaku itu ada karena orang itu tidak menghargai pasangannya. Di sinilah ia menjadi serta kultural. Lebih lanjut sebenarnya, bukan sekedar tidak menghargai pasangannya, tapi tidak menghargai relasinya. Andai mau dihubungkan dengan cinta, jalurnya masih panjang; urutan rasionalitasnya dapat diawali dari tidak menghargai, melahirkan tidak ada percaya, mengakibatkan berhentinya keterbukaan, melahirkan hambatan komunikasi,  dan sampai pada titik hilangnya ruang emosi cinta untuk bisa berkembang, dan... well... secara menyesatkan banyak orang merangkumnya dengan berkata kalau cinta tidak akan begitu. Karena itu pula sangat berbeda bentuk relasi yang umumnya kita tahu, dengan konsep polyamori yang memastikan ruang dialogis itu ada. Jadi sulit untuk untuk bilang itu masalah cinta, bisa jadi temen lu ngomong ama ceweknya kalo dia mau ngent*t cewek lain, dan itu berarti bukan soal cinta karena masih membuka ruang dialogis itu”

“So this is about respect?”

“Well.. you said it your self in the begining. Its disrepectful. Tapi.. di sinilah sebetulnya menjadi kompleks. Kembali pada tesis awal bahwa secara natural, otak manusia otomatis tidak menerima perilaku yang melanggar keadilan. Hanya saja di dalam masyarakat, kita fasih membagi manusia dalam beragam kategori, dan dalam kategori-kategori inilah relasi kuasa bermain untuk membenarkan apa yang adil dan tidak adil. Dalam relasi cinta heteronormatif ekslusif sebagaimana konteks yang kita bicarakan saat ini, maka makna superstruktur masyarakat yang patriakal, memberikan ruang kuasa lebih pada laki-laki daripada perempuan. Ini merupakan privilase yang dimiliki lelaki, namun sejauh mana lelaki itu menggunakan privilase dari relasi kuasa itu meletakan elemen penghargaan atas manusia lain. Hanya saja, terlalu banyak privilase yang dikuatkan dengan beragam normalisasi, bahkan disalahgunakan untuk menciptakan identitas maskulinitas. Normal untuk lelaki tidur dengan banyak perempuan, atau normal untuk lelaki bermain tangan, hingga keharusan untuk mencapai indikator-indikator itu semata untuk menjadi lelaki... you know.. things like that. Dan dipandang sangat tidak normal bila kebalikannya. Normalisasi yang sering hadir juga muncul dalam argumentasi kebutuhan dan sudut pandang atas seks bagi lelaki berbeda, atau praktik ini ok sepanjang pasangan tidak tahu. Tidak banyak lelaki yang bisa keluar dari stereotype itu. Dan tidak banyak orang yang bisa menahan untuk tidak menyalahgunakan kuasa privilasenya. Dan sayang menurutku, yang seharusnya menjadi hal yang normal, masyarakat kita malah sibuk memuji karakter yang bisa, tidak menyalahgunakan privilasenya. You know... kaya pejabat yang bisa potong antrian tapi memilih ngantri, kita anggap sebagai hal yang wow banget padahal.. thats basically how ‘adil’ works dengan tidak menyalahgunakan kuasa.  Jadi.. dalam kompleksitas ini, faktanya sederhana, ini masalah penyalahgunaan privilase relasi kuasa dan sejauh mana orang tersebut menghargai pasangannya setara atau tidak setara sebagai manusia atau jatuh dalam obyektifikasi dan meletakan perempuan sebagai second sex secara harafiah. Ini, bila bicara relasi; karena bagaimanapun relasi memiliki elemen saling menghargai. Bila mau tetap ‘adil’ sederhananya jangan masuk dalam relasi, sehingga tidak perlu ada penyalahgunaan kuasa. Mungkin hal ini tidak dia sadari, mungkin dia sadari. Tapi bicara tentang struktur makna begitu rumit, karena itu masalah keseluruhan sudut pandang realitas yang dibangun oleh masyarakat, dan akan kembali pada dua elemen penting, pertama karakter orang tersebut keluar dari stereotipe dan yang kedua, bila percaya dengan otomatisnya otak kemanusian, itu masalah logika makna dan sangat berkaitan dengan tingkat kecerdasan orang tersebut. Komentar terakhir cuma sarkas.. tapi begitulah.. itu komentarku”.

Aku meneguk sisa kopi di cangkir yang tersaji, sembari memperhatikan sahabat lelakiku mengangguk-angguk. Ia membiarkanku menikmati jeda dari gejolak kemuakan, sebelum kemudian memecah hening sembari menatapku tajam.
“Hmm... bila semua otak manusia tidak menerima ketidakadilan, maka, kenapa kamu.. atau perempuan pada umumnya di sini, menerima segala ketidakadilan itu. Relasi cinta macam apa yang dibangun?”

Aku menatapnya nanar. Entah tertangkap sebagai lelah, marah atau sebagai mana yang kurasa sedih yang mendadak menyeruak di hati. “Well... “ menghela nafas panjang. “to be honest... i am wondering the same thing.. tapi aku hidup di masyarakat ini.” Dia memincingkan mata.  “Sebentar, sebelum lu protes.. jawaban buat pertanyaanmu panjang bro dan kopiku sudah habis. Tapi soal relasi cinta macam apa.. singkatnya, sebuah relasi, iya.. tapi cinta.. mungkin bukan di situ tempatnya”.

Senja menyambut kita, dan percakapan itu luruh dalam langkah kesibukan ibu kota.
Jakarta, Februari 2019
<![CDATA[Catatan Melawan Kanker]]>Tue, 23 Apr 2019 09:43:34 GMThttp://arymami.com/notes/catatan-melawan-kankerSeharusnya, aku bergegas mengetik kisah Kinara-kinari yang sudah mendekati tenggat waktu pekerjaan. Tapi seperti biasa, semakin banyaknya tumpukan pekerjaan yang dekat dengan tenggat waktu pekerjaan, malah tidak disentuh dan beralih mengerjakan hal lain. Hahaha... aku tidak tahu apa ini juga terjadi pada orang lain. Kinara-Kinari, adalah simbol cinta dan kebersamaan, dan dalam perenungan itu.. aku terbawa pada gambaran ayah-ibuku. Sepasang suami-istri yang bisa dibilang memberikan contoh kebersamaan yang terlampau tinggi dan ideal untuk diwujudkan. Ayahku masih saja memberikan ibuku bunga ditengah umur anak-anaknya sudah mendekati angka 4! Bersama asam-garamnya, mereka mewujudkan kebersamaan, romantisme dan cinta yang sulit untuk tertandingi. Semacam Kinara-Kinari dalam wujud manusia.  Ya.. alih-alih mengerjakan yang seharusnya kukerjakan.. pikiranku terbawa pada ayah-ibuku yang kini sedang berada di IGD.. sembari melihat satu draft buku disamping laptop... buku tulisan ayahku “Esok Matahari Bersinar: Catatan Melawan Kanker”.

Dalam jangka waktu dua setengah tahun lepas pensiun dini, sudah tiga buku dihasilkan; “Nandur Ngunduh: Dari Pemikiran ke Aksi Perubahan” (2017), “Di Penghujung Lorong Kehidupan” (2018), dan “Esok Matahari Bersinar: Catatan Perjuangan Melawan Kanker” (2019).

Ayahku memang sosok yang selalu produktif, idealis, dan karakternya penuh dengan integritas dengan semboyan yang tampaknya sudah melekat berbunyi “kontribusi publik”.

Buku pertamanya berbagi mengenai pemikiran dan aksi pemberdayaan masyarakat, yang mewarnai hampir seluruh karirnya di lembaga internasional dalam wilayah kerja Afrika dan Asia. Buku tekstual ini mudah dicerna dan aplikatif untuk digunakan publik dalam hal pemberdayaan masyarakat. Buku kedua dan buku ke-tiga bersifat lebih personal yang berpusat pada perjalanan kehidupan dengan belahan jiwanya melawan kanker. Mama, telah bebas kanker payudara sekian dekade lalu, kini kali kedua ia berjuang melawan kanker kedua kalinya di tulang dan deretan organ lainnya.  

Permintaan untuk memberikan catatan maupun testimoni pada draft buku ke dua maupun ketiga, hingga kini belum mampu kusanggupi. Mungkin karena diriku menjadi bagian dari cerita, mungkin karena terlalu dekat, mungkin karena terlampau emosional; catatan akan terasa terlampau sempit sedangkan testimoni akan terasa terlalu dangkal. Selain, tentunya kita (anak-anaknya) memiliki subyektifitas dan kisah pengelaman sendiri dari peristiwa yang saling mengikat; yang mungkin suatu ketika akan kami tuliskan.

Kelahiran buku-buku ini memiliki sejarah, motivasi dan harapan tersendiri. Aku tidak akan menceritakan semuanya, khusus untuk yang terakhir.. aku tahu bahwa “Catatan Melawan Kanker” bukan sekedar berbagi pengalaman, namun hadir dari sebuah kegelisahan atas minimnya referensi mengenai orang-orang terdekat, keluarga, dan lingkar dalam orang yang melawan kanker dan berjuang bersama melawan kanker. Semangat mengetik papa diawal telah diwarnai oleh kegelisahan itu, dan dalam banyak jalan yang mungkin tak tampak aku selalu mengagumi semangatnya.  Meski aku belum benar-benar tuntas membacanya, mungkin buat teman-teman disana yang mengalami hal serupa, semoga buku ini dapat memberi semangat bahwa anda tidak sendiri.

Masih dalam bayangan Kinara-Kinari.. tampaknya aku harus bergegas mengerjakan tangungan.

​Belakang teras, 23.04.2019
Bila Anda tertarik, buku-buku tersebut dapat diperoleh dari penerbitnya di Yayasan Peneleh, atau bisa pesan saja disini. Dengan harga.. yang nanti saya akan tanyakan ke penerbit. Namun, khusus untuk buku ke-dua, sayangnya masih menjadi dokumen keluarga yang dipertimbangkan akses publiknya.  
<![CDATA[Kala Dulu, Kini dan Depan : Kenikmatan Menghilangkan Realitas]]>Tue, 01 Jan 2019 19:53:03 GMThttp://arymami.com/notes/kala-dulu-kini-dan-depan-kenikmatan-menghilangkan-realitasTahun Baru. Sudah hampir 3 tahun tanpa kreasi. Tidak lagi ada catatan pendek yang terlempar dan tersimpan di alam maya. Tidak ada lagi wacana yang terpantik dalam ruang-ruang imajiner yang menggoda. Dalam perbandingan kala dulu, ada perbedaan yang drastis. Dulu, hampir setiap minggu ada sebuah catatan. Lalu berhenti begitu saja. Kata, wacana, atau mungkin juga sebagian jiwa lenyap entah kemana. Aku mengalami masa di mana bahkan diam pun kehilangan makna.

Aku pernah bertanya 5 tahun yang lalu mengenai diamnya para manusia diumur “tanggung” (tak tua tak muda itu). Bingung membayangkan apa mereka terlalu sibuk, terlalu larut dalam keseharian, terlalu lelah, atau sudah selesai dengan berbagai hal yang perlu diperbincangkan. Sampai pada titik ini, aku sendiri tidak bisa memastikan; tapi aku memiliki satu tesis; yang ijinkan aku paparkan melalui refleksi diri. Padaku:
Tulisan terakhir yang kubuat adalah disertasi. Tulisan personal terakhir yang kubuat adalah kata pengantar disertasi. Lepas itu... tidak ada lagi. Selain tentu tulisan dalam tuntutan pekerjaan yang tidak memiliki “nyawa”. Pada tataran manifest, tidak menulis membuatku merasa rugi perlu membayar hosting dan domain setiap tahun tanpa berkontribusi berbagi dan menumpuk ide.

Tidak membaca tidak menulis; mungkin benar adanya. Lepas mendapatkan gelar berlebihan “agung” itu, aku juga tidak membaca buku teks selain untuk sekedar fungsional bila diperlukan. Ada sejenis.. “gegar” dan malu dengan kesadaran bahwa kita tak tahu apa-apa, dan juga dampak melihat semua tulisan sendiri sebagai sampah. Perilaku orang terhadap “gelar” itu juga tidak membantu; terlalu banyak yang berasumsi bahwa gelar itu menjadi sertifikasi bahwa sosok tersebut menjadi encyclopedia berjalan; yang membuat sedih kala harus mengecewakan orang.

Buku yang kubaca dalam beberapa bulan terakhir hanya novel, sejarah, dan buku-buku yang sama sekali tidak berhubungan dengan pengembangan pengetahuan dalam bidang “ilmu”ku. Aku membaca dan belajar Perikanan sebagai contoh, yang membuatku merasa nyaman tidak memahami sama sekali kalimat yang tertulis di sana.  Perasaan itu jauh lebih baik daripada membaca hal yang kupahami, lalu geram. Geram yang sebenarnya diwarnai oleh kemarahan pada diri sendiri. Biasanya hanya di rentang pendulum pendapat berbasis keangkuhan ego: ‘kaya gitu aja di tulis’ dan ‘kenapa bukan aku yang menulis ini’ ; baik keduanya berimbas pada mikir tiada henti. Tidak nyaman rasanya. Lalu, insting manusia untuk menjauhi ketidaknyamaan bekerja tanpa disadari; lari. Aku akui, aku lari dari segala bentuk stimulan yang dapat membuatku melakukan refleksi.

Beberapa sosok “bijak” telah memaparkan mengenai post-traumatic doktoral. Hal yang sebaiknya tidak dibicarakan mengingat populasi doktoral masih terlalu kecil dan semangat pendidikan itu perlu dijaga. Tidak terlalu penting juga, karena toh katanya akan lewat dengan sendirinya; baik karena kerinduan atau tamparan substil kehidupan. Aku juga enggan memikirkannya. Buat apa? Yang ada di depan di jalani saja. Hidup perlu ditata, olah raga teratur, rutinitas yang terjaga. Yang membuat nyaman dipelihara. Yang menyesakan, hilangkan. Toh kita adalah perangkat biologis yang adaptif, belajar sembari menanti waktu. Tanpa disadari, pengalaman dan perjalanan mengarahkan dan mengajak menuju titik nihilis. “Hoooraaa!”, seperti kata Al Pacino. Mungkin ini syndrom umur tanggung. Lari adalah kata kerja yang melingkupi karakter dewasa (baca: tampak bahagia, stabil, dan tertata).

Semua berjalan baik-baik saja. Hidup lho... mau apa? Mimpi-mimpi darah muda seperti kata Rhoma, sudah hilang ditelan pengalaman pahit kehidupan.. hahaha... atau tepatnya; hidup sudah mengajari cara memilih realitas. Menjawab sepenuhnya tanya Deleuze; how might one live?  

Pelarianku yang nikmat, sejenak berhenti (buktinya aku menulis ini). Semua karena kebetulan bersua dengan Hans-Georg Gadamer, seorang murid  Martin Heidegger, yang intinya memaparkan bagaimana makna mengikat realitas. Contohnya; perbedaan sahabat dan kenalan, yang hadir karena kita mengikat makna. Proses mengikat makna dalam interaksi itu sendiri menciptakan nilai untuk mengada, bila kita tidak mengikat makna maka sosok sahabat itu juga akan tetap sekedar seorang kenalan. Gadamer membedah filsafat hermeneutika; hal-hal terkait makna atau lebih lanjut bagaimana manusia memahami kemengadaannya. Duh... berat! Ada hal-hal nyata yang lebih penting dihadapi; seperti memperbaiki atap rumah di tengah musim hujan.

Tapi di situlah intinya; dalam hening sejenak, bukankah kita semua sibuk mengimunisasi diri dari realitas makna? Banyak ketidaknyamanan di sana, terlebih dalam umur yang tanggung ini. Segala ketidaknyamanan yang timbul darinya sudah terlampau jumud. Menormalisasi adalah perjalanan panjang yang tanpa tersadari menjelma menjadi ‘zona nyaman’ yang sebenarnya tidak memiliki kenyamanan selain adanya konsistensi dan prediksi yang sama untuk menjadi peganggan. Faktanya, sekadar imunisasi untuk menjauhi perubahan (baik itu pikiran, emosi maupun konsekuensi riil dari aksi). Refleksi makna terlalu menggelikan, pertanyaan akan makna bisa mudah dihilangkan.  

Bila ini dilihat sebagai fenomena kontekstual, maka; ada keterpaksaan yang membingkai kekinian tanpa henti. Mengikat makna, membaca masa lalu untuk masa depan terlampau mewah di tengah tuntutan roda kapitalisme tidak memberikan ruang refleksi untuk bekerjanya IQ yang mengendap di kepala manusia. Dan seperti keterlenaan disrupsi dan kerja  apik industrialisasi pada kehidupan keseharian manusia, jejaring kultur turut mendorong kemandekan perkembangan kehidupan dengan keterputusan dan lompatan makna tiada henti. Fasih membungkus kemandekan ‘berkreasi, berpikir dan berbuat’ dengan materialisme kesibukan yang memukau, tanpa isi. Tapi toh tak ada yang peduli.. toh buat apa menyiksa diri. “Jangan lupa bahagia” jargonnya. Dan siapa yang tidak bahagia? Merengkuh hidup dan hari ini; terlepas bahwa kita semua sibuk hidup (survive) dan sengaja dengan keras hati melupa untuk mengada dalam hidup (to exist).

Entah apa semua itu akan berubah saat umur sudah senja dengan tubuh yang renta tanpa daya selain segudang nostalgia, kala disinggahi tanya; “apa yang sudah aku lakukan dalam hidupku?”.

Aku ingat kalimat dalam pengantar buku Yuval Noah Harari (2018) yang nendang“In a world deluge by irrelevant information, clarity is power.” Kalimat cadas! Tapi bisa jadi itu salah. Kurasa saat ini irrelevance itu sendirilah yang menjadi clarity, menjadi kebenaran, menjadi kekuatan. Kita sibuk menjadi irrelevant untuk mengada yang tiada. Bukankah kita masih sibuk bertanya kala waktu menyapa dengan deadline; apa saja yang sudah kulakukan selama ini? Sebelum kembali larut dalam berbagai kesibukan yang tidak mampu merangkai arti.

Belakang Teras, 2 Januari 2019.

Selamat Tahun Baru. Jangan lupa untuk selalu jatuh cinta. Doaku untuk tak lupa mengikat makna yang menyusun arti, seperti cinta yang hanya butuh sekumpulan imajinasi.
<![CDATA[Gratitude:Study Journey (2)]]>Sun, 30 Jul 2017 09:02:36 GMThttp://arymami.com/notes/gratitudestudy-journey-2Picture
Mendapatkan gelar doktor. Lalu apa? 
Kala menjalani studi.. ungkapan "normal" yang sering kali terdengar adalah nanti saat kelar, maka kau akan lega, beragam kesempatan baru akan terbuka, doktoral adalah sebuah tiket "lain" kehidupan.. dan tentu saat sampai di sana aku mendapatkan begitu banyak ungkapan selamat dan ratusan pesan apresiasi dapat mencapai titik pendidikan yang masih belum dapat dinikmati semua orang. Banyak nasehat dan pesan yang akan didengar kala berupaya menyelesaikan sebuah tahap pembelajaran. Bagiku, sepanjang berjuang menulis "suara" yang kuanggap perlu didengar, aku hanya membayangkan dan tidak sabar mengungkapkan kelak pada titik kelulusan: "I did it" dengan rasa yang aku asumsikan lega tiada tara.  Aku bahkan telah mempersiapkan berbagai foto perjalanan dengan pose "liberasi" sepanjang aku menulis disertasi, pas untuk sebuah caption :"I did it", suatu ketika nanti. Satu tahap sudah terlewati, sekali lagi. Yeaaay! Seharusnya gembira dan excited! Tapi hingga saat ini, aku hanya mampu menghela nafas panjang.

Rasanya campur aduk. Overwhelmed, mungkin adalah kata yang tepat. Sehingga semua tampak "surreal", memantik introspeksi yang tak sederhana. Surreal.. memahami bahwa setelah lebih dari 20 tahun pendidikan ternyata aku bahkan belum melangkah pada anak tangga pertama sebuah perjalanan akademik. Surreal memahami bahwa setiap tahap baru memang membutuhkan versi diri yang baru. Surreal memahami ada "tugas" berbeda dalam upaya manusia menanusiakan manusia. Surreal menemukan begitu banyak kegembiraan tertuju padaku yang mendadak memantik tanya mendalam tentang bahagiaku. Berasumsi bahwa selama ini ia menjadi bagian dari perjalanan studi dan raihan akademik. Bertanya-tanya apa selama ini aku pernah benar-benar memperhatikannya, atau bahkan apa sudah mulai melangkah meraihnya? Mengupas domino "menuntaskan sebuah janji" mendapatkan "tiket" mendadak meledak keberbagai arah. Cerita untuk lain waktu. 

Kali ini aku hanya ingin berbagi rasa syukur dan terima kasih yang sempat tertuang dalam pengantar disertasi. Sekaligus mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak terhingga buat semua pihak yang mungkin tidak tersebut dan telah bersedia menjadi bagian dari perjalanan ini.   - Yogya.30.07.17


Untuk sebuah janji, Limbo dan mimpi-mimpi 

yang tak menyentuh bumi
Masih segar teringat kala upaya menguntai pikiran dalam ratusan halaman harus terpaksa dibuang, atau sekian banyak tulisan yang tidak cukup layak dimasukan. Menuliskan penelitian ini, sebagaimana saya yakin semua mahasiswa yang sedang menuliskan tugas akhir, merupakan sebuah perjalanan panjang yang emosional. Tema pilihan penelitian ini yang demikian rekat di hati juga tidak membantu. Pada awal tahun 2015, saat saya menemukan diri saya terjerat kesedihan dalam kehidupan partisipan penelitian saya, saya kira saya benar-benar sudah salah memilih tema!

Penelitian etnografis dalam mengulik subjektivitas memang memiliki tantangan tersendiri. Menuliskan arus dinamika rasa dengan berbagai analisa, sempat meletakan saya dalam konsekuensi arus-arus kontestasi personal yang sayangnya (bila ada) tidak sempat saya perhatikan dalam beragam kuliah tentang metodologi. Tidak terhitung banyaknya jam berderai air mata, amarah, dan belum lagi deretan penyakit fisik yang sebenarnya bersifat psikosomatis dalam upaya untuk menyuarakan yang “terbungkam”. Tetapi, saya beruntung berada di tengah kumpulan civitas akademika yang luar biasa. Tak henti tim promotor saya meyakinkan setiap kali saya “patah” bahwa yang menjadikan seseorang layak disebut dengan gelar tertentu bukanlah karena sebuah tulisan, namun sebuah proses belajar dalam meraihnya. Sampai pada titik ini, saya baru memahami bahwa pesan itu bukan sekedar jorgan “semangat” namun menegaskan bahwa gelar ini baru awal dari sebuah proses yang masih begitu panjang ke depan. 

Saya bersujud syukur bahwa pengalaman yang saya dapatkan dari penelitian ini bukan sekedar tualang intelektual namun sebuah “pelajaran” tentang kehidupan. Penelitian ini telah membawa saya ke tempat-tempat yang tidak pernah saya duga dan bertemu dengan begitu banyak orang luar biasa; tanpa pamrih bersedia membagi sepotong hidup mereka yang telah “menyentuhku” lebih dari yang mereka tahu.

Kata pertama hingga kata terakhir dalam disertasi ini, tidak akan pernah tuntas tanpa dukungan sosok-sosok imanen dan transenden. Dengan segala rasa syukur, saya ungkapan terimakasih sedalam-dalamnya pada:
  1. Untuk yang tidak terlihat, Semesta dan energi dunia.
  2. Tim Promotor saya, Dr. Wening Udasmoro dan Dr. Rata Noviani yang tak lelah mendorong dan membimbing saya dalam kembara intelektual.
  3. Tim Penilai; Dr. Budiawan, Dr. Dewi Candraningrum, dan Prof. Dr. Faruk HT yang telah bersedia terlibat dalam “mendewasakan” pengalaman serta karya ini.
  4. Tim Penguji; Dr. Budi Irawanto, Dr. Wiwik Sushartami, dan Prof. Heru Nugroho yang bersedia mendorong dan membuka berbagai perspektif baru penelitian ini.
  5. Keluarga batih Ari, yang tanpa mereka aku tidak terlempar disini. Papa Arijanto, Mama Eny Sulistiary, Mbak Ari ‘Mona’ Kamayanti, dan Arinanda ‘Movic’ Pamungkas. Tentu juga Dhanik, Maudy, Damar, Jillan Namira, dan Aziz Ahmad.  
  6. Muhamad Sulhan, untuk dialektika yang tak pernah tuntas dan ribuan hal yang tidak dapat terdefinisikan.
  7. Redik Brasiano, untuk menjadi satu-satu orang yang memahami caraku berpikir, dan Steve N., untuk kemengadaannya dalam hidupku.
  8. Maulin Niam, yang bersedia membagi waktu, ilmu dan tenaga dalam langkah-langkah “krusial” perjalanan ini. 
  9. Budhy Komarul Zaman, yang tanpanya tidak pernah akan ada perjalanan merasionalisasikan rasa dan memantik segala penasaraan dalam telaah cinta.
  10. Para MesisAngels; Syaifa Tania, Mashita Fandia, Lidwina Mutia, dan Mufthi Nurlatifa yang senantiasa bersedia menampung segala sedihku, bahagiaku, dan berjalan bersamaku. 
  11. Keluarga besar Kajian Budaya dan Media, yang sejak perkenalan kita telah membuatku jatuh hati, merasa pulang, dan merasa hidup.
  12. Mereka yang suatu ketika menyentuh, terjalin, berkelindan melipat kenangan dan pelajaran dalam jalan hidupku; Mas Hatta, Ragil ‘Nang’ Gde Pembanyun, Nuktoh ‘Kasan’ Kurdi, Dipa Pragyan Joshi.
  13. Mas Wendratama yang tidak lelah mengajariku tentang bahasa, Mas Dhanan Arditya yang bersedia meluangkan waktu kreativitasnya dan jajaran teman-teman komunikasi 98 yang tidak dapat saya sebut satu per satu.
  14. Mbak Yenni, Mbak Nova, Mas Agus dan jajaran malaikat tanpa sayap yang memungkinkan karya ini sampai pada garis finis.
  15. Para Galaurators, Mas Andy Faizal, Mas Guntur, Mas Ardianindro Yuwono, Mas Edwi, Mas Fajun, Mas “Bams” Sukma Wijaya, Mbak Desi dan Mbak Yusida “Ayus”, teman seperjuangan yang tanpa mereka, doktoral takkan terasa sama.
  16. Keluarga DIKOM UGM, Mbak Rahayu, Mbak Novi Kurnia, Mas Kusridho ‘Dodi’ Ambardi, Mas Adam ‘Levine’ Sukarno, Mas Widodo, Mas Nyarwi, Bang Abrar, Mbak Gilang, Mbak Lisa, Mbak Rajiyem, Mbak Achnia, Mas Irham, Mas Dandit, Mbak Pulung ‘Uci’ S, Mbak Hermin Indah Wahyuni, Mas Ngurah, Mas Syafrizal, Mas Wawan, Mas Subari, Mbak Okta, Mbak Artis, Mbak Fitri, Mas Massageng, Mas Anung, Mas Adi, Mas Anung, Mas Ateng, Mas’ad, Mas Gunawan, dan yang selalu mengajari untuk tegap berdiri “Mas Prof. Nunung Prajarto”.
  17. Jogja Salsa Community! Yang tanpa henti senantiasa menyentakan kembali semangat loyo dan memberikan saput ceria dalam proses penelitian ini.
  18. Mereka yang telah memberikan inspirasi tanpa mereka sadari, Bapak Ong, Bapak Suwarno Serad, Yudhi Hermanu, Mas Peye, Saleh Abdullah, Romo Haryatmoko, terimakasih untuk waktu, pertemuan, percakapan, dan tukar pikiran. Dunia memang memiliki beragam perspektif, pijakan, dan melampaui yang mampu disentuh oleh pengetahuan.
  19. Informan dan partisipan penelitian saya, para penjuang cinta, para pahlawan jiwa, yang telah bersedia berbagi sepotong hidupnya. Anda memberikan pelajaran yang demikian berharga buat saya.
  20. Kelompok bimbingan skripsi yang bersama Anda saya menemukan berbagai semangat baru, pertemanan, dan proses pembelajaran yang menyenangkan.
  21. Semua pihak dan berbagai nama yang sayangnya tidak dapat saya sebut satu per satu dalam proses menyelesaikan karya ini.
Terakhir saya ingin ucapkan rasa terimakasih dan permohonan maaf terdalam untuk Mirza Dradjat, jiwa dan nafasku yang tak henti berkata “Ibu bisakah berhenti membaca?” untuk tetap berselimut sabar dan penuh kerjasama.
Yogyakarta, 15 Juni 2017

<![CDATA[Juni dan Rindu untukmu]]>Sat, 10 Jun 2017 07:00:00 GMThttp://arymami.com/notes/juni-dan-rindu-untukmu​“Damn! I really really miss him. Damn! F@$^! #%@$!(#&%@#%!!”. Segala umpatan lainnya mengikuti bersama sesak hampa yang tidak tertahankan, dan kenangan yang menusuk di depan mata. Menghela nafas, hampir putus asa. “Ngapain sih gw putus segala?!. Pleeeease remind me again”
“You want a future and he cannot give that”, ungkapnya lempeng.
“Hm.. Ya true.” Future? Future apaan? Hidup gak punya struktur kok membutuhkan masa depan. I really miss him.  “Okay.. Still not working. Give me another reason.”                       
 “He deceived you all this time, feeding dreams he apparently won't do. He just want to stay this way, his comfort zone, while you want more. ”
“Lied. True. Broken promises. True.”. Jeda. Menghela dalam rasionalisasi. “Still not working. Hit me again.”
“You want to put an end to their pain.”                       
“You cannot accept the reality that you will be hurting someone else forever!” 
“Yup. Binggo!”
“Did I do good?”
“Yeah. That does it. Hope it last... for a bit.”
 (percakapan dini hari, bulan Juni)
​Juni. Dan patah hati!
Duh ironi. Ini bulan Juni lho. JUNI. J-u-n-i. Juni. Dan ya...
All great things happen in June. And need I not say: all queens are born in June!
Bulan yang selalu membawa semacam nuansa riang. Bulan penuh keajaiban. Bulan perubahan. Pesta dan Liburan. Bulan dengan langit paling sempurna. Dimana musim panas mulai menyapa dan dingin malam mulai bertamu. Juni. Aih, Juni yang istimewa.
Sapardi saja melantunkan ‘tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni.. tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni.. tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni”. Yah! Ini Juni. Dan Juniku yang ajaib tersisip dengan perihnya kekosongan di rongga dada dan lelehan airmata.  Ada rindu yang memilih pergi.. tanpa kata (ah... sedih deh jadinya).
Sejujurnya aku lantak tanpa aksara. (lalu ini nulis apa coba?). Demikian lantaknya, aku tak bisa berkisah, tak bisa tidur, tak juga bisa makan. Yah untungnya bulan puasa, jadi tidak harus berhubungan dengan pertanyaan kenapa bisa menghilangkan 3kg dalam satu minggu berjalan. Aku tidak punya daya. Seolah jiwaku telah mati dan tak mampu diresusitasi. Disjuncture realitas nyata dengan realitas psikis telah mengakibatkan semua menjadi sebaran ontis yang tidak mampu mengontologis. 
Aku hanya bisa mengutip kalimat Sapardi; “tak ada yang lebih tajam dari seru jam dinding itu!”. 
Aku jarang menemukan cinta. Dan dengan umurku yang hampir menginjak 40 (mayday mayday mayday.. ship is going down!!!), aku baru jatuh cinta dua kali. Ini bukan berarti aku tidak memiliki relasi keintiman. Aku jarang jatuh cinta tapi kerap jatuh hati. Dengan demikian juga memiliki “wall of fame: the man I loved before”, yah.. namanya juga Gemini, mau gimana lagi?.
Bagiku jatuh cinta sangat berbeda dengan jatuh hati. Jatuh hati merupakan sejenis entitas infatious love maupun entitas passionate love kata Strenberg. (harus banget ya mengutip konsep? Cerita kaya orang normal aja bisa gak sih?). Putus dari relasi semacam ini tidak pernah mengakibatkan patah hati, sebab ia hanya bersifat partikular. Maknaya hanya hadir dalam peristiwa. Ia hanya mengakibatkan sakit hati. Putusnya relasi infatious love atau passionate love hanya membutuhkan substitusi. Ada sedih pasti.. dan segala ketidaknyamanan sebagai bagian dari transisi dan perubahan. Siapa sih manusia yang nyaman dengan perubahan? Keberadaan sang kekasih mudah lenyap dan hilang begitu saja. Menyisakan kenangan (bila ada) yang lucu-lucu. Paling lama tujuh hari juga udah gandeng lelaki lainnya (OhmaihGod... perempuan macam apa aku ini?!). Tapi .. itu bukan love. Love yang tanpa embel-embel istilah di depannya.
Dalam definisi subyektifku; aku baru berani mengatakan cinta saat ada kebertautan jiwa. Semacam indera ke-6 yang terpantik hidup begitu saja; merasa dan tahu saat dia sedang mengalami apa, sedih, bingung, bahkan nakal. Perlu dicatat ini tidak lalu bersifat resiprokal. Ya normal-lah... tidak semua rasa itu resiprokal. Tapi saat indera ke-6 ini sudah bekerja, aku tahu aku sudah jatuh cinta, terlepas dia mencintaiku atau tidak. Dan saat aku jatuh cinta, aku jatuh hati setiap harinya. When I fall, I fall deep. Sudah. Gitu aja.
Sulit bicara tentang fabrikasi pengalaman patah hati dan kelindan rasa. Bahkan sekedar upaya katarsis implisit sebagaimana ciri khas para akademisi yang berbalut dengan puluhan teori pun tak mampu kujalani.. (duh mbak... sadarkan kalo disertasi anda ini tentang cinta?? Hellooo...?).
Pendekatan untuk patah hati (ya ellah... “pendekatan”, harus banget gitu teoritik?!) yang dominan diberlakukan di masyarakat senantiasa bersifat behavioural. Strategi “normal” putus asmara biasanya diwarnai dengan sejenis permusuhan untuk tidak bicara, tidak bertemu, dan tidak saling peduli. Mungkin itu juga kenapa ia disebut “putus”  karena praktik keintimannya dihilangkan begitu saja. Semacam perayaan ketunggalan ego yang dipertontonkan. Lalu membawa simpulan: “waktu yang akan menyembuhkanmu”.
Pendekatan ini cenderung manjur untuk mayoritas orang. Ini hanya perkara statistika yang menciptakan kurva normal cara “move-on”. Tapi tidak untuk sebagian kecil lainnya. Struktur kejiwaan yang mempengaruhi kecenderungan untuk melihat realitas, bagaimanapun menjadi pintu dan berpengaruh pada subyektifitas cinta. Struktur kejiwaan manusia yang berbeda-beda (lihat footnote 1) bertalian dengan pengalaman  patah hati (lihat footnote 2). Dominasi populasi atas struktur kejiwaan juga secara general membingkai cara orang memperlakukan cinta (lihat footnote 3). Sebagai orang yang terhimpun hanya dalam 0,08% dari jenis struktur kejiwaan spesifik di populasi dunia (data 2014), diriku telah terjun dalam labirin neraka, yang akan berhadapan dengan rasa sakit hati sepanjang sisa hidupnya.. (yaelaah mbaknya... please deh!).
Tentu setiap relasi keintiman cinta memiliki keunikan makna dan pengalaman tersendiri, sehingga definisi cinta menjadi elusif, subyektif dan menciptakan kompleksitas relasi rasa. Kutukan bagi struktur kejiwaan manusia yang didominasi oleh realitas konseptual alih-alih perseptual dalam menjalankan praktik keintiman relasi cinta. Makna jadi tidak pernah hadir secara kontekstual dengan apa yang di depan mata namun harus melalui konsepsi yang sudah tersusun rapi di kepala. Mungkin itu yang membuatku jarang sekali jatuh cinta. Satu buket bunga tidak akan membuatku melihat itu cinta, kecuali datang dari orang yang sudah masuk secara konseptual di kepala. Sulit mungkin dibayangkan bahwa relasi keintiman pertamaku kandas karena benturan konsepsi tentang kewarganegaraan (Gila cyiin... lu putus karena Pancasila??!).
Aku tidak terlalu fasih menghadapi patah hati. Imbas dari putusnya relasi cinta. Mungkin karena aku jarang jatuh cinta. Bahkan bisa dikata diriku demikian perawan dengan hal terkait cinta (wooo yaa... wajar saja kalo skripsi-thesis-disertasi tentang asmara jadi lama banget garapnya!. Saranku kalimat ini dihilangkan saja sebelum para penguji membaca dan kau menggali kuburmu sendiri tak memiliki kompetensi bab relasi cinta. Pertimbangkan!).
Bagiku patah hati tidak masuk akal untuk ada dalam relasi cinta. Yang ada.. paling sakit hati, tapi itu persoalan yang sangat berbeda.
Cinta untuk seseorang tidak pernah putus, patah, atau mati. Yang dapat putus hanya relasinya: the practice, the act of loving, the particular. Bagiku, cinta merupakan hal universal. Menyatu dengan Semesta. Yang universal selalu menyatu. Tunggal (lihat footnote 4). Saling mencintai tidak dapat tidak berkembang menuju sifat universal itu. Itu berlawanan dengan sifat entitas cinta itu sendiri.
Partikularitas praktik relasi hadir untuk memenuhi sifatnya yang universal. Mengembangkan cinta yang memang tidak dapat statis. Sepanjang partikularitas itu tercipta, cinta akan menemukan jalannya. Tapi tidak sebaliknya. Partikularitas adalah prasyarat atasnya. Menciptakan makna khas relasi cinta bagi tiap pasangan.
Yang universal tak pernah hilang, tak mampu dibunuh, tak pernah statis, tidak pernah takut dan tak juga mampu menyakiti (baik orang yang terlibat dalam relasi maupun yang tidak). Sebagai hal yang universal cinta lepas dari “diri”, lebih besar dari diri, tidak dapat berkontestasi dengan entitas universal lainnya. Hal ini yang mungkin juga dapat menjelaskan kenapa relasi polyamori jauh lebih kuat bertahan dibanding jenis relasi extradyadic lainnya, karena tidak ada nilai universal yang tercederai.
Bila cinta menyapa, ia menetap selamanya untuk berkembang sesuai sifatnya. Kehadirannya dapat melampaui hal-hal yang bersifat partikular (praktis tataran); intinya sosok yang dicinta mau membunuh kek, mukulin kek, selingkuh kek, atau apapun, itu gak sama sekali tidak pernah mengubah cinta. Mau kaya apa juga ujungnya “I love you anyway”, sepanjang cinta tidak statis dan partikularitasnya mengada. Cinta selalu menemukan cara berkembang menuju universalitas melalui partikularitas yang tercipta. Tidak masuk akal menghilangkan partikularitas bila cinta memang ada. Kecuali terjadi semacam force majoure (ini ngomongin cinta lho kak... bukan perjanjian) yang memaksa praktiknya hilang. Tetapi tidak kemudian putus cinta, sebab yang universal masih mengada dan akan beralih menuju lainnya. Relasi cinta hanya ditangguhkan dan sakit hati hadir karena lenyapnya partikularitas itu. Patah hati atau putusnya relasi cinta hanya terjadi saat cinta tidak dapat memenuhi sifat universalitas, yang silogismenya sama dengan tidak adanya cinta.
Enggan untuk mengatakan bahwa aku patah hati kali ini. Terlebih setelah fabrikasi kelindan jiwa setelah 246 tempat baru dan 2500 hari bersama. Meski semua makna mengerucut pada hilangnya cinta yang dipaksa statis melawan sifat entitasnya. Memandangnya menghilangkan syarat utama berlangsungnya relasi cinta; menghapus upaya bersama untuk tidak pernah menyerah. Melihatnya melangkah pergi jauh dalam diam sebelum kata “sudah” tereja. Menyaksikannya memilih bahasa yang lebih lantang dari kata-kata.
Juni yang lantak tanpa jiwa. Tapi ini bulan Juni dengan langit yang paling sempurna. Bulan para Gemini yang ceria. Dan aku tak punya aksara mengutarakan perih di dada. Selain betapa aku merindumu, cinta.
Yogyakarta, 100617.

1] Dari sudut pandang struktur kejiwaan; ada ragam konsepsi psikis, yang kemudian menciptakan hanya 16 jenis spektrum karakter struktur olah data manusia yang mempengaruhi keberfungsian diri melalui cara hidup, cara padang, dan olah rasa individu tersebut (sebut saja konsepsi kejiwaan). Subyektifitas, imbas dan cara mengatasi patah hati pun jadi beragam: ada diri yang belum putus saja sudah bersedih dan tidak lagi berfungsi (tampak kaya orang mau mati), ada yang putus tetapi sama sekali tidak sedih dan tetap tidak dapat berfungsi (kaya orang gila), ada yang sama sekali tidak bersedih dan terus berfungsi seolah tidak terpengaruhi (seolah bukan manusia), ada yang sedih banget tapi dapat berfungsi seolah tidak terjadi apa-apa (kaya orang tanpa hati), dan probablititas seterusnya dari 16 struktur spektrum kognisi.
2] Pendekatan “perayaan ego” dalam patah asmara biasanya manjur untuk banyak orang. Ini sepenuhnya karena dominasi dari populasi jenis struktur kejiwaan di dunia. Kurva normalnya itu: orang patah hati, bersedih sejenak dan berfungsi kembali untuk “move-on”. Sisanya defiansi yang terlalu kecil untuk dipehitungkan dalam dunia yang fasih dengan diskriminasi, memuja statistika, dan dikategorikan saja pada jiwa-jiwa “sakit” yang perlu direhabilitasi di bangsal psikis.
3] Banyak asumsi bahwa saat putus relasi cinta, cinta akan dan perlu dibunuh. Dan banyak orang bisa membunuh cinta. Sebab mayoritas orang tenggelam penuh pada hal yang partikular. Hidup ini memang partikular, dan pengalaman perasaan cinta disejajarkan hadir (ada dan mempengaruhi individu tersebut) dari praktik ekspresi cinta yang partikular. Cara pandang dan laku dominan hidup memang demikian. Tidak terelakan kita dicengkram partikularitas, karena ia yang ada dihadapan mata. Ya.. sesederhana realitas dan makna dalam pertalian ekspresi, memeluk tanda sayang, mencium tanda cinta, dstnya itu. Sehingga fasih kita bilang: “friends dont do that” atau wajar bahwa hal yang paling sakit dari sebuah proses patah asmara adalah hilangnya partikularitas ini.
Sebagai contoh; makna-makna partikular di”cintai” yang muncul dari praktik kebiasaan. Kebiasaan ada yang memeluk dan hilang. Kebiasaan mendapat dering telpon darinya yang lenyap. Dan deret kebiasaan lain yang muncul secara partikular menciptakan bahasa “intagable” yang partikular pula, menyisip nyaman dari baunya, hangat tubuhnya, bahagia dg tingkah lakunya, dstnya. Cinta hidup dalam partikularitas itu. Banyak yang shock mengalami patah asmara karena cinta dan partikularitas menjadi satu paket. Seolah cinta itu mati. Dan ini akan menciptakan “suwung” kejiwaan yang berangsur hilang dengan substitusi aktifitas partikular. Cinta akan bersemi sekali lagi saat ia menemukan partikularitas yang lain.
Namun...  sebuah kutukan bagi mereka yang memiliki kecenderungan dominasi realitas konseptual alih-alih perseptual yang dominan. Mereka tidak dapat keluar dari partikularitas yang lenyap. Sakit hati berkepanjangan. Biasanya akan menghilang dari kehidupan. Mengalami “suwung” kejiwaan yang berangsur hilang dengan dua probabilitas hasil ekstrim. Pertama, kuatnya realitas konseptual akan melindas habis yang bersifat partikular. Mereka lepas dari kondisi “patah hati” karena masuk dalam labirin konseptual tanpa mampu menciptakan partikularitas baru untuk kembali menikmati “cinta”. Jomblo seumur hidup karena terjebak asmara yang sebenarnya sudah terlupa. Kedua, realitas konseptual tidak dapat menguat untuk menghilangkan partikularitas. Sungguh sebuah kutukan derita hidup di antara. Mereka masuk dalam labirin gegar realitas berkepanjangan konseptual dan partikular yang tidak pernah berhenti menyakiti. Spektrum diantaranya muncul dengan perilaku manusia yang bisa menjalin relasi cinta tapi kaya zombie (kosong tanpa rasa), atau merayakan beragam partikularitas cinta tanpa sadar (penuh tanpa makna), dstnya.
4] Ya aku tahu pasti Anda berpikir ini essensialis platonik sekali.. padahal di cultural studies selalu membongkar yang essensialis. Tapi sebagai argumen, yang anti-essensial pun essensialis, bukankah ketiadaan ujungnya bersifat tunggal? Bisa di cek pada semua pemikir anti-essensialisme yang ujungnya terjebak dalam paradoks tersebut. Simpelnya, se-posmo Deleuze pun, ujungnya “The Machine” ya cuma satu. Tetapi perlu diingat bahwa terapan filsafat dan terapan paralogisme adalah dua entitas yang berbeda.
<![CDATA["Kematian, Waktu, Kesendirian, dan Makna (Hilangnya) Kehidupan"]]>Fri, 03 Mar 2017 23:00:44 GMThttp://arymami.com/notes/kematian-waktu-kesendirian-dan-makna-hilangnya-kehidupanPicture
Kematian adalah hal yang menyakitkan. Buat mereka yang di tinggalkan. Aku menyaksikannya dalam kematianku sendiri. Tepat sebelum aku di’lempar’ kembali. Dimana waktu tidak lagi mengada dan semua terlipat sempurna. 

“Tidak. Belum saatnya”, ujarnya dengan senyum indah sembari melemparkanku kembali di tengah kehidupan fana. Tepat di dinginnya meja operasi UGD, penuh dengan lampu sorot yang menghantam wajahku. 

Mataku terbelalak. Tidak tepat kuingat berapa suster berbaju putih mengelilingiku. Bersorak. Monitor detak jantung telah kembali berdenyut tepat di dinding ujung kakiku. Semua tampak hablur. Tentu, selain mataku yang hanya mampu menatap disela-sela sorot yang menyengat. Semua sibuk. Giduh ruang UGD dipenuhi erangan manusia kesakitan kian membuatku kebingungan. Di mana semua tadi? Kenapa aku di sini?

‘Di mana aku?’ merupakan tanya puluhan kali berulang. “Adek di Yogya. Panti Rapih. Yogyakarta”. Tidak ada yang dapat aku cerna. “aku di mana?”. “Adek di Panti Rapih. Kota Yogya. Ingat apa yg terjadi?”. “Aku di mana?”. “Di Panti Rapih. Adik kecelakaan.”. “Apa? Di mana?”. “Adik kecelakaan. Adik namanya siapa?”. Hening. “Aku tidak tahu. Aku di mana? Namaku siapa?”. “Adik namanya Dian”. “siapa namaku?”. “Dian”. “Aku tidak tahu. Siapa namaku?”. “Dian. Tahu nama orangtua?”. “Tidak tahu”. “Ok. Diam dulu ya.. ini biar bisa dijahit..”.

Aku diam dalam kebingungan. Berlahan mengamati genangan darah yang membasahi dada dan punggungku. Jarum dan selang masuk dalam berbagai vena. Kabel menjulur dari kaki dan dada. Aku melihat berbagai potongan kaca di palet samping meja operasi. “Iya.. Hallo Bapak.. Ibu.. Iya.. Ini di UGD. Tidak apa-apa. Tidak usah khawatir. Dian akan baik-baik saja. Ini saya sedang menjahit wajahnya...”. 

Baru menyadari bahwa wajahku memang tengah disulam seorang ahli bedah. Aku menyaksikan gerakan tangan dan benang panjang yang keluar masuk daging tanpa terasa dengan kengerian. Aku mengamatinya. Tidak dapat kusaksikan wajahnya dengan masker yang tertutup. Aku mencoba meraihnya. Tubuhku tidak dapat bergerak. Hanya jemariku yang akhirnya mampu meraih sedikit bajunya. Dia berhenti sejenak, menatapku. “Dokter namanya siapa?”. “Dian akan baik-baik saja”. “Dokter namanya siapa?” aku memperkuat genggamanku. “Terimakasih... terimakasih”. Ingin kupastikan ia paham rasa syukur yang deras mengaliri tubuhku. Ia tampaknya memberikan kode pada beberapa asisten yang segera menggenggam tanganku dengan senyum hangat. “Terimakasih... dokter namanya siapa?”. Dia memintaku diam sekali lagi dan mulai memaparkan penjelasan.. 

“Ini bibir Dian hilang, jadi harus saya tarik kulit dari dalam untuk membuat bibir ya. Untungnya lidah tidak terluka. Coba di buka lagi mulutnya, saya sobek dulu dagingnya ya. Jahitan dagu nanti akan cukup berbekas, karena potongan kaca yang masuk terlalu banyak. Rahang nanti akan nyeri, karena tadi baru kami sambungkan...”

Penjelasannya kian samar. Benakku hanya dipenuhi tanya kenapa alam jadi berbeda. Dadaku mulai nyeri tak terkira. Nafas kian sulit terhirup. Dan kalimat terakhir yang kuingat di ruang UGD itu hanya “Pompa dadanya. Kasih Oxygen lagi...”. 

Rasa dinginnya luar biasa, aku menggigil. Hilang. Aku kembali terbangun kala semua tubuh dibalut perban. Dengan seorang suster yang sedang menggunting sobek baju dan celana yang kukenakan. Membersihkan dan membuang semua bukti darah yang berlimpah di sana. 

Sisa-sisa minggu di rumah sakit, hanya memori tentang lelap dan perjalanan dari satu mesin pemeriksaan ke mesin lainnya. Tidak pernah kuceritakan, dalam hari-hari itu, aku berulang bemikirkan ‘kemana dunia yang pernah kusinggahi?’. Tanpa benar mampu tuntas mengingatnya, direnggut kenikmatan morfin yang menjadikan segala hal bagai delusi.

Diriku belum pernah cerita tentang apa yang terjadi dalam ‘kematianku’. Aku bisa saja cerita tentang alam yang baru, tentang memasukinya dengan tubuh yang kedinginan, tentang bagaimana aku terbangun disana, tentang apa yang kutemukan di ruang pertama, tentang sosok-sosok yang kutemui, tapi untuk berkisah tentang apa yang terjadi di perjalanan alam itu.. hmmph... *nafas panjang*... mungkin tak ada kata. Aku juga tidak hendak bercerita tentangnya saat ini. Ada alasan yang rasional dan irrasional disana. 

Pertama, aku tidak berani. Tidak ada yang benar-benar bisa berkisah tentang pengalaman mati, atau dunia kematian. Itu misteri. Titik. Kedua, aku tidak cukup yakin apa itu kematian. Dalam keseharian kita, kita mengenal mati suri. Tapi mati suri juga belum tentu kematian. Bukankah itu hanya tubuh yang berhenti beroperasi? sedangkan dunia kematian itu sendiri.. entah apa yang disaji. Ketiga, peristiwa yang berlangsung di ruang operasi jauh lebih dramatis dikisahkan. Kita makhluk dramaturgi dan naratif. Dan juga lebih mudah mencerna apa yang dapat di pandang mata. Ke-empat, alasan irrasional yang mungkin paling benar; aku belum mampu menceritakannya. 

Kematian (suri)ku tidak lama. Setidaknya dalam hitungan waktu dunia yang rasional.Tidak tahu tepat berapa lama waktu aku ‘hilang’, namun nafas dan detak jantungku sudah tiada saat aku dibawa ke UGD pagi itu. Validasi atas kematianku terbenarkan dengan sendirinya; di tengah keriuhan sorak ruang operasi UGD: kabel terhubung monitor detak jantung dan oksigen yang tidak henti dipompa. Satu kalimat menegaskannya: “Tolong hubungi orang-tua-nya, sudah dapat terselamatkan dan hidup”. Singkat, padat, jelas. 

Aku sempat mati. Mati suri istilah kita. 

Konon katanya, bagi orang yang pernah mati suri, hidup akan mendadak ‘berbeda’. Sungguh kala itu memang aku masih terlalu muda untuk menganalisanya. Stereotipe yang ada juga menghentikanku memikirkannya secara mendalam atau menceritakannya. Entah kenapa ada stereotipe yang melekat bahwa mereka yang pernah mengalami mati suri akan mendadak religius. Di tengah gamblangnya diriku yang jauh dari definisi religius yang diamini, aku jelas tidak berani merusak stereotipe yang terbangun ini. 

Perjalanan ‘hidup’ orang berbeda-beda, tidak ada rumus pakem di sana. Kuanggap saja itu pengalaman sekilas, meski secara diam-diam menjadi senang menyelami cara sudut pandang orang lain atas hidupnya. Mungkin semacam katarsis dari kekaguman atas keberagamannya. Sebuah diversitas kehendak bebas dalam ‘garis perjalanannya’ (fate). Aku sengaja tidak menggunakan kata ‘nasib’, karena ada kecenderungan kita untuk melihat nasib sebagai hal yang statis. Bingkai definisi ‘nasib’ tidaklah yang seperti kita bayangkan. Setidaknya dalam kesempatan ‘ketercerabutanku’, aku cukup yakin mengatakan ‘hidup bisa menjadi banyak hal, tapi yang jelas ia tidak statis!’ Bahkan bila itu menyangkut garis nasib dalam definisi kita yang terbatas.  

Dalam kematianku, aku merupakan kelompok yang ‘beruntung’ mengalami mati suri yang menyenangkan. Di beberapa literatur tentang mati suri, banyak yang mengalami sebaliknya. Pengalamanku secara garis besar dipenuhi kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian. Beruntung? Hm... entahlah. Beruntung dan sial hanya dikotomi kita. 

Yang jelas, aku tidak paham kenapa aku perlu menyaksikan dan mengalaminya.. sebab.. yaah.. kurasa memang kotak pandora tidak sebaiknya dibuka. Yang jelas... lepas itu.. hidup memang tidak pernah sama. Hidup jadi berat cuiiiyy!!

Yang bisa kukatakan dengan pasti. Hidup (di dunia fana ini) adalah garis waktu, yang sangat singkat. Aku bisa mengatakan bahwa setiap manusia ‘diturunkan’ untuk sebuah alasan. Dan kita diberi waktu untuk mencari agar ‘siap’.   

Lepas itu... entahlah.. dalam pemaknaan yang terlempar padaku, menegaskan sekali lagi: pemaknaan yang terlempar padaku; aku hendak bertutur tentang garis waktu batas kematian dan konjungsinya... mencoba bercerita tentang apa yang ‘berbeda’ pada kesempatan hidup yang ke-dua. 

Kesempatan hidup ke-dua, andai anda punya, adakah yang akan kau lakukan berbeda?

<![CDATA[The Masquarade ]]>Tue, 27 Sep 2016 07:39:03 GMThttp://arymami.com/notes/the-masquaradePicture
“besok pagi di kampus?... aku baru kelar operasi. 
Ingin sekali menangis dalam pelukan seseorang. Can I?”
19:11 - 26.09.2016
Tanganku berupaya menggapai tubuhnya, namun gagal. Mencoba meraih siapa pun yang mungkin bersedia menggenggam tanganku. Tanpa hasil, kugenggam erat lipatan kain hijau pada ujung bidang meja setengah meter itu. Baru kali ini aku berada di atas meja operasi dengan sadar berteriak kesakitan dengan lantang tiga kali. Aku bayangkan bila ada orang diluar ruang operasi itu, pastinya akan bertanya-tanya macam penjaggalan apa yang sedang terjadi di dalam. Tubuhku sudah gemetar  lemas dan kedinginan dengan darah yang bercucuran dari belakang kepala. Aku hanya membayangkan ini menjadi pembedahan ala militer di medan perang. Aku hanya mampu melihat detik jam yang kian melambat berharap semua segera tuntas. Berharap mereka segera menutup dan menjahit bedahan; membayangkan mereka berkata “maaf, kita akan mengulanginya dengan bius total kali ini”. Tapi itu tidak terjadi.. kurasa ada benarnya para ahli bedah dilatih tidak mempedulikan erangan, tangis dan teriakan ‘obyek’ bedah. Mereka diharuskan tenang melakukan apapun yang harus mereka lakukan; sebagaimana mereka jelaskan pula “darurat” dalam dunia kedokteran adalah bila membicarakan detik atau menit menuju kematian. Sepanjang tanda-tanda kematian itu belum dekat, tidak jadi soal bila organ atau syaraf apa terluka - toh nanti bisa dibenerin.

Operasi ringan! Tindakan sederhana. Santai saja. – dan berapa kali aku sudah mendengar itu. Dan benar  saja – tepat 5 menit berlangsung dengan sobekan di leher yang sudah mengangga, kepanikan itu terjadi. Andai aku tak sadar, mungkin akan berbeda... tapi ini aku sadar dong... please deh... not again not again not again... hanya itu yang melintas dalam kepala, sebelum tentunya rasa spektakuler itu kualami. Dan selama ini mengira gak bakal ada rasa yang lebih heboh dari pada melahirkan seorang anak – aku menyerah salah.
Hari itu, waktu melesat bersama mobilitas dan kegiatan yang menjadi distraksi sempurna. Mendadak sudah pukul tiga saja. Bergegas. Berhenti makan sebisanya untuk mengisi perut yang seharian kosong sebelum beranjak ke dunia medis yang menanti. Aku tidak merasa yakin apa aku bisa atau perlu melakukan operasi yang sudah dijadwalkan hari ini. Namun karena sudah dijadwalkan, aku diminta mempersiapkan diri dan mereka berkata nanti bisa berbincang dengan dokternya di OR.
Aku mencoba bernegosiasi, namun tetap saja berganti dengan selembar kain hijau. Ruang preparasi itu masih diisi oleh dua orang, satu sibuk membungkus kain dan perban, sedang satunya sibuk melihat file berkas operasionalisasi bedah.
“mbak Dian Arymami?”
“Ini yang dibedah di dada ya”
Sontak terkaget. Kok bisa geser lokasi nih.  “Bukan. Di leher”, di jawabku. Paham bahwa dia perlu mempersiapkan ruang bedah yang pas untuk dokter melakukan tindak bedah padaku.
“Engga. Di dada. Ini berkasnya. Pembedahan akan kita lakukan di...”
Aku sudah tidak mendengarkan kalimatnya. Kita berdebat. Bersikekeh menuntut segera bertemu dengan dokter bedahku (yang masih bersiap diri). Gila aja! Masa beda lokasi bedah..! Dalam perdebatan tak berujung itu.. dokter bedah akhirya masuk. Dan wajah lega terlihat pada kami berdua.
“ini prep untuk bedah dada dok” – ujar tim bedahnya.
“yup. Bedah dada” – jawab dokterku.
Whaaaaattttttttt??????!!!,  tanda-tanda gak bener nih.  
“Tidak dok. Leher” – potongku lantang. Sudah ketakutan akan menjalani operasi yang tidak seharusnya.
“oh iya kah? Mana?... oh iya..benar.. leher” kata sembari memeriksaku sekali lagi, kemudian kembali melihat berkas tindakan yang memang terselip dibawah kertas tindakan operasi dada sebelumnya. “hmm... iya.. kita bedah aja.. Yuk masuk”
Yuuuk masuuukkk.... eaa.. emangnya ini warung kopi! Santai bener nih orang. Ya tentu, jam terbang pembedahan pastinya membuat dia santai. Tapi kan...
Ruang itu masih sepeti terakhir kuingat. Dingin, berbau disinfektan, dan terang. Ahli anastesi dan perawat sudah didalam, asyik nonton berita Ahok-Agus-Anis di televisi sambil tertawa-tawa. “Sini mbak”, ujarnya memintaku berbaring di meja operasi yang sudah dilapisi kain kasa di area pembedahan. Jantungku mulai berdegub kencang.
“kenapa mbak, kok gerak terus?” sang anastesi memegang kakiku. “Masnya gak nungguin mbak?”. Aku diam sejenak dan menjawab singkat “sendiri”. Matanya tertuju langsung padaku. Ada nuansa hangat disana. Dia lalu melepas penutup mulutnya, tersenyum padaku. Dan berujar tanpa suara “Santai saja, semua akan baik-baik saja”. Demikian lembut dan hangatnya, seolah waktu berjalan lebih lambat. Momennya terasa berada bersama malaikat penyelamat yang hangat, atau berada bersama seorang psikopat yang sadis. Tipis. Aku tak bisa membedakannya. Tepat saat itu, tim bedah memasuki ruangan.
Delapan orang. Lelaki semua, mengenakan baju serba hijaunya (masih bertanya kenapa juga sih hijau.. kan kalau sama darah gak cocok ya warnanya.. tapi siapa juga yg membicarakan keserasian warna kostum operasi). Wajah mereka semua tertutup. Sibuk berada dalam satu sisi dan menggeser peralatan bedah ke sampingku. Melihat semua pisau, dan besi-besi panjang itu membuatku bergidik. Aku diminta untuk menoleh ke kiri, mengingat leher itu yang akan menjadi titik bedah. Tepat di depanku adalah jam dinding. Tanpa banyak babibu, cairan disinfektan yang tajam dan dingin mengalir di kepala dan leherku.
Tubuhku mulai di tutupi dengan kain-kain hijau yang tersobek sana-sini, khusus memberi lubang untuk ruang bedah. Mungkin semacam pantat sapi putih yang memastikan fokus satu titik. Penutupan kain memastikan fokus bedah tetap di area. Mungkin juga membantu para ahli bedah untuk tidak melihat yang dibedah ini hidup dan juga manusia. Entah.. aku tidak terlalu tahu  alasannya. Tiga lembar kain. Di kepala, tubuh, dan kakiku yang sudah mulai kedinginan. Empat orang menuju bagian kepalaku, sang anastesi tentu berdiri paling dekat dengan kepala memastikan aku tidak ‘hilang’ dalam kesakitan. Satu memastikan detak jantung dan ‘organ-vital’ masih berfungsi untuk melewati operasi.
“Kita kasih 100ml dulu... mulai ya, aku akan menyuntikmu”. Antara berbicara dengan tim bedah dan pasien yang sepenuhnya sadar ini, ia sudah memasukan suntikan morfin pertama di belakang kepala. “hmm.. ok dok”, ujarku pasrah, gak punya banyak pilihan juga kan ya. Dengan pisau bedah masuk ke dalam leher, ia berkata “Kalau sakit nanti bilang ya”.
Whaaaatttt??? Kalau sakit bilang. Wait wait wait. Kok ada kaya gitu. Sakit macam mana? Emang aku benerin gigi.. Kalo sakit bilang... whaaatttt.... ini lagi motong leherku dan kalau sakit bilang...? Stress sudah mulai meningkat bersama dengan bunyi dan rasa daging yang terpotong. Aku berupaya mendeteksi, yang dimaksud sakit kaya apa ya.. ini sebenarnya dah sakit... dan sesekali aku berkata “ao ao ao”. Sakitnya meningkat. “sakit” ujarku mulai berkenalan dengan apa yang dimaksud dengan sakit. “Kasih lagi, suntik” perintah dokternya. Whaaattt... serius nih aku baru ditambah obat kalo merasa sakit?? Sang anastesi sudah mulai ditemani oleh entah asistennya yang menekan kepalaku ke dalam memastikan tidak bergerak. Aku bisa merasakan morfin menjalar hingga hangat di dada. Aku sudah mendapatkan penjelasan mengenai bedah anastesi lokal seminggu sebelumnya, dan cukup paham kenapa dosis ini diberikan secara bertahap. Penjelasan itu juga disertai dengan “saya tidak akan bohong, itu sakit, tapi lebih aman”, tapi penjelasan itu sama sekali tidak dapat menggambarkan rasa sakit yang semacam apa. Dan kini aku mulai mengalaminya dengan angkat tangan, aku gak kuat brooo....
“mbak bener nih gak ada yang nungguin? Sendirian aja?” – salah satu anggota tim mengguncang dadaku. Mungkin bermaksud menenangkanku yang kian tegang. Tangannya menekan tepat di tengah dada. Memastikan bahwa aku tidak makin terguncang atau meronta menggerakan leherku yang sedang ternganga. Aku baru saja mulai berpikir kenapa ia menanyakan lagi apa ada orang yang akan menantiku keluar ruang operasi, antara memikirkan bahwa ada tindakan lain yg terpaksa dilakukan atau memahami bahwa lepas ini aku akan ‘membutuhkan’ orang.  Sampai... sakit itu menyayat dengan amat sangat. Menyobek dua lapis otot itu tampaknya menyulitkan. Dengan pisau bedah yang dapat kurasakan masuk dan menarik semua syarafku, tangan kananku, kaki, dan kepala seperti dibelah. Aku paham syaraf sudah terkenai, hingga sakitnya demikian random dimana-mana. Namun tidak melebihi sakit yang masuk ke otak, kepala sebelah kanan, yang rasanya otakku sedang dicacah berlahan. Tubuhku sudah tidak dapat terima. Aku berteriak kesakitan. Aku tentu tidak terlalu dihiraukan dengan segala teriakan dan tangisku.
“Duh susah nih! Kenapa terselip ya? harus kita ambil bagian ini, dipercepat saja, gak papa” – duuh... seriously??? Katanya sederhana.. kenapa pake susah?
“Kita tambah?” – “gak dipercepat saja”. Tim bedah berdiskusi dengan segera. Saat satu anggota menekan kakiku yang sudah mulai meronta melepaskan alat deteksi detak jantung yang kian tak teratur. Lima menit selanjtnya adalah lima menit terlama. Delapan lelaki berjubah hijau itu sudah menutup semua pandanganku, hingga hanya bisa kulihat jarum tangan jam dari sela-sela tubuh. Satu memegang kakiku ke bawah, satu menekan kepalaku, satu menekan dadaku, satu menekan leherku. Dan satu kali morfin terhunjam masuk panas ke dalam kepala. Aku berteriak kesakitan, dan berupaya menggenggam apapun disisiku, berharap ada yang memegang tanganku yang sudah hampir beku dalam dingin. Tiga kali hentakan yang menghunjam kepala dengan sakit yang menjalar para benang-benang syaraf menarik seluruh otakku dari dalam, seiring dengan suara penyedot darah disisi telinga. Aku menatap detak waktu dengan lelehan air mata dan sakit yang tak terkira. – sudahkan berakhir?.... sudahkah berakhir?.. kapan berakhir? – Lima menit berjalan dengan begitu lamanya..
“Jahit” – “benang apa itu?” – “ya” – “ditutup aja”. Tangan-tangan besar itu mulai melepaskan tubuhku.
“merasa pusing”, tanya salah satu anggota tim.
“tidak.. sakit banget”, jawabku.
“sudah selesai kok” sembari mengambil lembar-lembar kain yang menutupi tubuhku. “bentar, tak usah melihat dulu. Biar kami bersihkan darahnya” ia pun menseka pundakku, punggung leherku dan punggungku dengan disinfektan. Mengambil perban dibawah tubuhku dan memasukannya dalam sampah medis, memastikan aku tidak menyaksikannya.
“seberapa sakit ini lepas morfinnya hilang?”, tanyaku.
“Ah... gak lebih sakit dari suntikan kok mbak...” aku sedikit tenang sebelum ia melanjutkan “ehm.. tapi aku juga tahu ya, soalnya aku juga belum pernah dibedah” gubraaaaaaakkk.... baiklah.
“mbak gak ada masnya di luar?”
“kenapa sih mas?”, tanyaku kembali penasaran, alih-alih ingin menggodanya tapi tak punya tenaga.
“gak papa...mungkin sebaiknya diminta”, ia mendekati ku sembari mengusap punggung dan memberikan remasan halus di pundak “gak papa kok.... bergantilah”.
Tidak terlalu memahami apa yang mereka maksudkan, aku kembali ke ruang ganti. Mengambil handphone dan mengirim pesan, “say, dah selesai operasinya”. Entah apa yang sebenarnya kuharap dari sebuah kalimat sederhana itu. Aku berdiam, dengan kepala yang mulai pusing. Lalu merasa kedinginan dan seluruh gambaran sakit yang kurasakan kembali masuk dalam bayangan. Seluruh rasa takut dan sakit tadi runtuh dalam air mata. Ku-usap segera, keluar untuk menyelasikan administrasi.
Paham, aku membutuhkan ‘seseorang’. Aku mengirim pesan, meminta sebuah pelukan. Membiarkan semua rasa tadi terpendam satu malam. Dengan semua perawakan “sok baik” yang terasah, aku pulang, menyapu rumah, menemani anak belajar, dan menanti obat bekerja membunuh sakit yang mulai kembali menjalar.
Satu lagi kisah medis dan sayatan untuk kenangan. Dalam rasa sakit, aku tersenyum menyapa semesta. Aku tahu kau di sana, bercanda untuk sebuah masa yang belum mampu kau sampaikan padaku. Dan tentu satu pelajaran... memotong budget operasi hingga 10juta adalah satu pengalaman yang tak bakal terlupakan! Worth it? Ah.. setidaknya aku tahu bahwa ada rasa sakit yang sedikit mendekati rasa sakit hati ditinggal ‘sendiri’.

<![CDATA[She will be Loved: Utopia Aku yang bukan Milikku]]>Thu, 22 Sep 2016 14:43:50 GMThttp://arymami.com/notes/she-will-be-loved-utopia-aku-yang-bukan-milikku
Berhadapan dengan OR (operating room) selalu saja menakutkan. Terlepas sudah berpuluh kali Anda tergeletak di atas meja dingin berbau disinfektan. Sore ini, aku kembali menyapa rasa takut itu. Tanpa benar-benar paham apa yang ditakuti dari sebuah tindakan medis yang katanya 'sangat sederhana'. Hanya akan memakan waktu satu jam, tidak lebih dan  tidak mematikan. 
Tapi ... ah... how many times have I heard that before. Dengan kutukan sejarah pengalaman penyakitan-ku, aku belajar berhadapan dengan yang anomali. I mean seriously... kadang aku heran sendiri. Berapa sih perbandingannya orang kena flu burung, atau lalat bertelur dan tumbuh dalam kulit dagingmu, atau tumor tumbuh yang menekan jantungmu, atau bulu babi hidup di telapak kakimu? Well.. tidak untukku, karena tampaknya diriku memiliki daya tarik bagi yang anomali. Namun, mengingat kata seorang teman “mon, lu kalo kena musibah itu berarti sedang dijauhkan dari musibah yang lebih besar” –  aku mencoba percaya.

Terakhir seorang dokter mengutarakan ini operasi kecil, berujung sebagai operasi yang medium (ya, entah apa istilahnya, aku bukan dokter). Tapi kala itu aku menjalani operasi usus buntu alih-alih mengambil batu empedu di lipatan hatiku (yang sampai saat ini belum terlaksana). Operasi sederhana yang seharusnya memakan waktu kurang lebih satu jam berubah menjadi tindakan beberapa jam, dengan membedah hampir 15cm perutku karena lokasi usus yang tidak seperti orang pada normalnya. Dan dokternya perlu cerita dong.. padahal aku bisa saja tak tahu apa-apa toh dalam buaian morfin sepanjang pembedahan. Jadi bagaimana mungkin aku mengamini sebuah prosedur yang ‘sederhana’, terlebih saat ini.. saat lokasinya begitu dekat dengan urat nadi nyawa. Aku tidak tahu harus menganggapnya apa, dan memilih untuk tidak memikirkannya. Namun logika dan rasa takut punya jalur yang berbeda.

Dan semua rasa itu mendadak mendorongku pada sebuah sudut lipatan diri yang sesungguhnya sudah kuupayakan terbenam. Takut memiliki cara sendiri untuk mengupas ego-ego yang tercipta.

Tentu, daripada aku bercerita tentang takutku, lebih baik bertutur tentang proses BPJS yang tidak dapat tembus untuk operasi kali ini, atau proses pembiayaan kesehatan yang berbasis 'kelas', atau komunikasi dokter-pasien yang menggunakan bahasa langit. Pada tataran kontekstual, paparan itu mungkin akan lebih berguna (bagi pembaca) untuk konteks kesehatan dan perkembangan jasa publik kita. Tapi rasanya aku sedang tak punya daya untuk meletakan rasionalitas diatas rasa. Aku sedang tenggelam di sudut terbenam. Menyapa diri otentik yang rapuh sendirian. Prosesnya, menjadikan sosok yang demikian sulit dicinta, tepat di saat paling membutuhkannya. 

Secara rasional aku paham penuh konsepsi ini hasil sejarah panjang dan kompleksitas psikologis berpangkal pada penghargaan diri yang tidak pernah tercipta. Diri yang ditempa sebagai sosok yang harus paham tanpa mengerti, sosok yang harus menyembunyikan rasa dengan segenap alasannya, sosok yang tidak pernah diberikan penjelasan kenapa. Sosok yang hanya dihargai saat ia ceria dan baik-baik saja. Hasilnya, avatar tangguh yang membalut diri otentik yang tersisihkan. Aku tanpa avatar yang tak pernah diinginkan- diri yang selalu salah, diri yang terbuang. Avatar jadi, yang kusadari perlu dikikis berlahan.

Dunia medis merupakan jalan tol menuju diri yang terkutuk itu. Dia secara cepat membuka katub diri yang harus direpresi karena pola berulang yang terus terkonformasi.

Keintimanku dengan penyakit yang ‘aneh’ telah membawa pengalaman berbagai tindakan yang tidak ‘biasa’, sejak umur belum juga dua digit; ambil contoh pembekuan telapak kaki dengan tembakan nitrogen untuk membunuh cell. Tidak ada yang menjadi drama tragis penuh derita, hanya saja perjalanan psikologis yang cukup melelahkan. Rasa takut tidak boleh mendapatkan ruang, tak juga boleh ia terjelaskan. Diri yang hanya boleh menangis saat sendirian. Sangking intimnya aku dengan penyakit, dakwa bahwa aku tidak perduli dengan nasib dan tubuhku terlalu sering menghinggap. Bahkan pada ranah yang hampir tak punya kuasa, aku terdakwa salah. Dengan berjalannya waktu, tampaknya ia menjadi ramalan yang terkabul dengan sendirinya.

Aku cukup beruntung tidak pernah terjangkit penyakit ‘serius’, meski tidak sekali dua terkena vonis hanya punya hidup beberapa bulan. Antisipasi berhadapan dengan maut, membuat lelah tak terkira. Terlebih dengan mekanisme yang telah tercipta untuk membuang diri menenangkan orang-orang yang peduli bahwa semua akan baik-baik saja. Sok ceria, meski tak tahu apa ia sendiri baik-baik saja. Hal yang semakin memperkuat kesan abai dengan nasib sendiri, lalu memantik lingkaran setan opresi manipulasi. Lelahnya tidak diperbolehkan memiliki diri sendiri. Diri yang dibuang berulang kali. Aku paham penuh bahwa tidak ada yang bermaksud demikian, namun rasa itu sudah tercipta. Diri tanpa avatar yang tak pernah dicinta. Diri ‘utuh’ku tidak pernah diterima.   

Aku pun belajar untuk menjadi diri parsial. Belajar untuk siuman dari operasi tanpa orang disisi, belajar untuk terbangun kesakitan tanpa ada satu orang pun yang tahu, belajar untuk menjawab pertanyaan ‘mbak tidak ada teman yang mengurus administrasi?’. Di asa terdalam tentu selalu rindu keutuhan, meski dunia telah mengkonfirmasi berulang bahwa itu semata utopia. Diri yang tak pernah dapat utuh dicinta. Di masa-masa ‘medis’ memanggil, aku tahu aku perlu meminta maaf atas refleks menampik upaya ‘peduli’. Ingin sekali untuk luluh dalam pelukan tanpa dakwaan, namun enggan berhadapan dengan dunia yang sekali lagi memberi bukti, meniadakan hadirku, dan meninggalkanku sendirian.  
Berasa drama ya... mungkin juga berlebihan. Tapi pengalaman medis selalu saja menghantam emosiku lebih keras dari realita. Ada penghilangan diri yang hadir seketika. Faktanya memang aku pernah dicampakan kekasih di meja operasi. Dan fakta yang tak dapat dipungkiri rasa obyektifikasi saat berhadapan dengan rangkaian prosedur kesehatan.

Bagaimana tidak merasa menjadi obyek bila terpaksa terbaring diam dan dipelajari puluhan dokter koas. Mencatat elaps detak jantung seonggok tubuh kedinginan tanpa sehelai kain, tak bisa bergerak karena selang oksigen yang memastikan pernafasan tidak cukup fleksible untukku bergerak. Atau yang masih menempati ranking pertama bagiku adalah isolasi flu burung, dimana tubuh diletakan dalam aquarium, di lokasi yang sama sekali tidak boleh kita pahami, sepanjang seminggu diamati, dan hanya bertemu orang-orang berpakaian astronaut yang silih berganti mengambil cairan dari tubuhku tanpa mau berbicara. Rasanya gila sendiri. Sepenuhnya menjadi obyek yang anomali.

Proses operasi juga sebenarnya membawa rasa yang sama. Sulit untuk tidak melihat diri sebatas obyek ‘pekerjaan’. Di ruang persiapan, tidak jarang kita bertemu dengan orang-orang yang akan 'bekerja' membedah tubuh kita. Dapat kita saksikan mereka berganti kostum, dan bermertamorfosa dari tampang manusia menjadi tampang penjagal. Sibuk mencuci tangan berulang kali dan mengenakan sarung tangan operasi. Tampak robotik. Beberapa akan mencoba berbincang mencairkan suasana dengan pasien yang sudah ketakutan. Obrolan ringan dan canda basa-basi yang penuh manipulasi. Satu-satunya pihak yang mungkin akan berbicara lebih tegas dan tidak sok menenangkan adalah sang ahli anastesi, mempertanyakan data dan menghitung mundur untuk memastikan kita tidak tiba-tiba terbangun saat tubuh kita sedang tengah terbuka dengan organ yang keluar disana-sini. 

Ruang operasi sebenarnya tidak menakutkan. Segala alat canggih disekitar saja yang memantik bayangan pembedahan, darah dan kekejaman yang menyiptakan horror dalam bayangan. Suasananya sebenarnya ceria, eaaa.... ceria dari mana??? Ya setidaknya aku sudah berulang masuk OR dimana musik di putar dan ruangan yang terang benderang dengan spot light dimana saja, serupa diskotik dengan satu warna. Toh kita hanya butuh imajinasi untuk menghidupkan suasana. Lagian, saat morfin sudah mengalir, apa sih yang dapat diingat dan dirasakan? Meski kadang aku berpikir bagaimana bila dalam tidur itu aku terjebak dalam mimpi super horor tanpa boleh dibangunkan. Terlepas dari segala keceriaan, operasi memang tetap menakutkan.

Kali ini, ruang penuh disinfektan itu akan kembali membuka pengalaman baru. Tidak akan ada ekstase morfin yang menjalar pada tiap inci tubuh. Pilihan ekonomis yang memungkinkan untuk diambil. Untuk pertama kali leher ini akan dipotong dengan diriku yang sadar dan dapat menyaksikan tiap semburan darah dan pembedahan lima centi yang katanya sederhana. Tak punya kata selain takut yang mendera, tapi pastinya akan membawa cerita.

<![CDATA[Kompleksitas Abuse dalam Relasi Keintiman]]>Sun, 18 Sep 2016 05:49:05 GMThttp://arymami.com/notes/kompleksitas-abuse-dalam-relasi-keintimanTerlalu mudah berkata dan menemukan pernyataan: 'bila dalam hubungan saya mengalami kekerasan, saya akan meninggalkan relasi itu'. Faktanya tidak pernah sesederhana itu. Statistik menunjukan bagaimana tinggi angka kekerasan dalam relasi. Bahkan di Indonesia, bisa digeneralisir bahwa hampir semua orang mengalami kekerasan dalam relasi. Kenyataan yang hadir adalah: Pelaku relasi bertahan di tengah kekerasan. Kekerasan hanya terus berulang. Apapun bentuknya, frekuensinya, maupun alasannya. 
Tidak sedikit bagi pelaku kekerasan yang menyadari tindakannya dan berupaya luar biasa untuk mengendalikan melalui beragam cara untuk tidak melakukan kekerasan. Tidak sedikit pula pelaku yang mengalami kekerasan bertahan dan mengupayakan beragam cara penyelesaian. Mungkin kekerasan hanya terjadi dalam 5 tahun sekali, atau beralih bentuk kekerasan yang dinilai tidak terlalu membahayakan. Kekerasan verbal misalnya selalu dilihat lebih ringan dari kekerasan fisik, atau kekerasan psikologis seperti penelantaraan selalu dilihat lebih ringan dari kekerasan verbal. Namun, kekerasan tetaplah kekerasan dan ia terus menjadi siklus. Walker (1979) memaparkan dengan jelas siklus kekerasan ini.

Dampaknya bisa beragam tanpa prediksi dan pada hal yang paling nyata, menghabisi nyawa. Dalam keseharian, istilah kekerasan kerap dinormalisasi untuk mengganti kata abuse (indonesia: penyalahgunaan). Kekerasan sebenarnya hanya menjadi bagian kecil dari abuse dalam relasi keintiman. Kekerasan merupakan salah satu manifestasi dari bekerjanya abuse dalam relasi keintiman. Abuse dalam relasi keintiman merujuk pada penyalahgunaan relasi, dimana salah satu pelaku relasi tersebut (sengaja atau tidak sengaja) menyalah-gunakan posisi dalam relasi dengan memanfaatkan atau memperlakukan pasangannya secara tidak pantas dan tidak wajar tanpa memikirkan perasaan dan diri orang tersebut yang dapat berujung pada kekerasan fisik, seksual, atau psikologis. Abuse dapat juga diidentifikasi dari fungsinya yakni dominasi, hukuman atau kontrol atas orang lain. Abuse dapat dilakukan secara fisik, kekerasan seksual, ancaman, uang, emosi, psikologis dan spiritual untuk mendapatkan kontrol dan kondisi yang diinginkan dari pasangannya. Yang perlu digaris bawahi adalah abuse dalam relasi keintiman bukan merupakan insiden sekali yang terjadi begitu saja, namun sebuah proses sistematis untuk menjaga kuasa dan kontrol dalam relasi.

Faktor penyebab kekerasan dalam relasi sangat luas. Bersifat internal dan eksternal; mulai dari personal individu hingga ranah politik, ekonomi, sosial, budaya dan segenap lingkup kehidupan kita. Belum lagi spektrum makna subyektif dan sosial atas kekerasan yang demikian lebar. Dalam berbagai budaya, misalnya, kekerasan dirayakan bahkan diharuskan.  Dalam budaya kita yang didominasi oleh nilai patriaki misalnya, pemaksaan istri di ruang domestik semata oleh suami atau pemukulan suami pada istrinya dianggap normal dan wajar. Perilaku, cara berpikir, dan tindakan kekerasan oleh individu pada individu lainnya juga menjadi bagian dari hasil panjang pembentukan kepribadian dan adaptasi yang bersifat sangat personal. Demikian, kekerasan tidak mengenal gender, status, kelas, atau pendidikan. Semua orang dapat melakukan dan mengalami kekerasan dalam relasi keintiman.

Kompleksitas faktor penyebab menegaskan bahwa dalam tiap kasus kekerasan dalam relasi keintiman (atau IPV - Intimate Partner Violence) bersifat unik karena kompleksitas kelindan faktor psikologis, perkembangan diri dan ekpolsosbud yang tidak dapat disamakan. Keunikan ini sejajar dengan uniknya kondisi psikologis, kepribadian, perilaku, dan cara berpikir manusia yang dihasilkan dari jejaring kompleks jutaan faktor internal dan juga eksternal. Dengan demikian, setiap kasus melibatkan karakter-karakter unik yang distinktif sehingga penyelesaiannya selalu membutuhkan pemahaman dan pendekatan spesifik. Kurasa, disinilah peran para psikolog masuk.

Sangking kompleksnya, pendekatan reduksionis menjadi opsi. Informasi mengenai abuse dalam relasi dipaparkan dalam hitam dan putih. Persoalannya dikerucutkan dalam ruang ‘kekerasan’. Bingkainya binari sisi positif dan negatif, sang pelaku dan sang korban. Mayoritas informasi memaparkan bahwa pelaku kekerasan mengalami penyimpangan, cacat psikologis hingga sakit mental dan harus dihindari, sedangkan yang mengalami kekerasan merupakan pihak lemah yang perlu dibantu dan disembuhkan. Bingkai dikotomis memudahkan untuk intervensi tindakan.

​Pada tataran praktis masyarakat umum, bingkai ini telah menyelesaikan persoalan, ya pisahkan saja relasi tersebut agar kekerasan tidak terjadi! Bisa dibayangkan sulitnya untuk mensosialisasikan kompleksitas ini. Sama dengan tidak mungkin kita meminta masalah kesehatan dipahami semua orang. Cukup, sosialisasikan bila anda sakit pergilah ke dokter. Ada spesialis yang dapat menangani hal tersebut. Namun, bila kaitannya dengan persoalan psikologis, ya.. ia tidak selalu manifest seperti panas 49C atau bintik-bintik di kulit. Sosialisasi mengenai abuse pun hanya mampu memaparkan persoalan yang manifest. Bila kekerasan, penganiayaan, terjadi maka yang perlu dilakukan adalah ini. Atau informasi mengenai indikasi-indikasi kekerasan dalam relasi berderet dari A hingga Z. 

Bingkai binari telah menggiring siklus simpul mati penghindaran sebagai solusi: baik bagi pelaku yang melakukan dan yang mengalami. Nilai disematkan; buruk dan baik. Binari bingkai ini telah seolah meletakan bahwa pelaku kekerasan perlu di-isolasi, disingkirkan dan tidak mungkin dapat di'sembuh'kan. Sedangkan pelaku yang mengalami kekerasan perlu ditolong dan diselamatkan. Dominasi bingkai dikotomis pula yang akhirnya menyiptakan reaksi masyarakat saat berhadapan dengan kekerasan dalam relasi dengan pernyataan penuh keheranan; 'kok bisa tega sih?', 'gak mungkin orang normal melakukan hal sekeji itu', dan seterusnya. Dominasi binari yang kita pahami menggiring stereotipe sakit jiwa dan mental disorder yang dilekatkan pada para pelaku (bukan berarti kondisi ini tidak ada). Namun beragam stereotipe dapat kian menguburkan, mengaburkan akar isu ‘proses sistematis menjaga kuasa dan kontrol’, dan mengembangkan persoalan kekerasan dalam relasi di tengah masyarakat. Ini menjadi lingkaran setan yang menyakitkan pasangan dalam relasi, dimana pelaku dirasionalisasi harus diisolasi dan tidak dapat memiliki solusi sekaligus yang mengalami harus pergi dari relasi tersebut dan menyelamatkan diri. Bagai kotak pandora yang menafikan satu elemen yang tersisa.

Sebagaimana kita pahami, bingkai binari kekerasan telah membentuk stereotipe atas distinksi antara yang 'normal' dan yang 'anomali'; seolah dapat dibedakan dalam pematuhan kriteria stereotipe yang disusun; seolah pelaku adalah spesies diluar bingkai normal sehari-hari. Kenyataannya salah satu masalah utama yang dihadapi oleh ‘korban’, teman-teman, keluarga dan juga pelaku adalah bagaimana tidak adanya distinksi antara yang normal dan anomali. 
Faktanya adalah kita semua normal. Atau bisa dikatakan kita semua sakit. Terlebih saat kita memahami bahwa abuse adalah proses sistematis dari kuasa dan kontrol dalam relasi. Kedua pihak dalam relasi sangat mungkin untuk melakukan abuse pada pasangannya sekali waktu. Sebagai contoh roda kontrol (lihat gambar), satu dapat sedang melakukan abuse secara ekonomi (memaksa satu pasangan untuk membayar semua tagihan misalnya) dan satu melakuan abuse privilege (memaksa peran gender dalam relasi tersebut). Namun, abuse biasanya baru tersadari saat terjadi kekerasan fisik. Lalu bertanya; kenapa pelaku melakukan kekerasan dalam relasi? Apa yang membuat mereka tergerak? Apakah mereka menderita semacam penyakit? gangguan mental? Apakah yang 'normal' bisa tiba-tiba menjadi pelaku? dstnya.

Mengurai persoalan ini tidak sesederhana mengutarakan satu sakit psikologis dan satunya tidak. Pelaku kekerasan maupun yang mengalami kekerasan sebenarnya memiliki kondisi psikologis yang sama-sama tidak normal. Atau kalau bahasa para psikolog sebenarnya kita semua unik.  Pada dasarnya kita semua ‘sakit’.  Karena perilaku dan tindakan menjadi bagian dari proses panjang penyaluran dan kebutuhan (16 kebutuhan dasar manusia – belum termasuk ranah emosi otak manusia) masing-masing individu menyiptakan karakternya. Ambil contoh yang mengalami kekerasan bisa jadi tidak memiliki formasi identitas yang baik karena sepanjang masa hidupnya tidak pernah diajari batas emosional sehingga ia merasa bersalah untuk harus memperbaiki relasi (akan berada dalam hubungan penuh abuse dengan semangat positif memperbaikinya, atau  fantasi diatas realitas) atau merasa over-attachment,tidak memiliki rasa aman, atautidak dapat membedakan antara cinta dengan simpati.  Bagi yang melakukan kekerasan, bisa jadi kebutuhan dominasi atau agresi sebagai hasil panjang reaksi lingkungan atas kebutuhan dasarnya yang menyiptakan individu yang kekurangan empati, sehingga mudah melihat segala hal sebagai obyek dan bukan manusia. Contoh perilaku ke prostitusi atau perselingkuhan rekreasional merupakan indikasi atas bergeraknya kekurangan empati (untuk informasi saja, lebih banyak populasi kekurangan empati daripada kelebihan empati). Hasil semua perilaku dan tindakan merupakan perjalanan panjang yang terbentuk dari kebutuhan diri dan dinamika aksi-reaksi internal-eksternal pribadi. Intinya tidak normal dan anomali bukanlah hitam-putih dan ada proses kompleks di dalamnya.

Persoalan yang menarik dari dinamika psikologi manusia adalah saat yang kita sebut sebagai ‘karakter’ atau ‘watak’ kerap merupakan hasil dari mekanisme diri yang telah menjadi refleks. Mekanisme dalam mengelola emosi dan kebutuhan dasar manusia berjalin erat dengan kondisi eksternal kita. Faktanya kita perlu mengakui bagaimana budaya kita tidak memberikan ruang pengelolaan emosi yang ‘sehat’. Berbicara pada tataran general, data menunjukan budaya timur memiliki tingkat kesehatan mental yang lebih rendah daripada budaya barat. Karakter adalah manifestasi kebutuhan rasa aman (aman tidak mengubah diri kita). Bukankah mengerikan untuk mencoba menjadi orang lain dan mempelajari arketipe perilaku yang berbeda? Namun sangking super-canggihnya dinamika otak manusia dalam membentuk diri, hingga mampu menyiptakan realitas baru (contoh skizofrenia) dalam mengatasi isu-isu yang dihadapi dalam keseharian. Kompleksitas kekerasan dalam relasi keintiman memadukan kondisi psikologis, sejarah sosio-kultural subyektif dan konteks sosio-kultural tak dinyana merupakan kondisi nyata yang hadir demikian dekat dalam keseharian kita.

​Dalam kompleksitas ini sebenarnya menyisakan ruang sejauh mana kita menyadari interkoneksi abuse dan kekerasan. Atau sederhananya, sejauh mana masing-masing pasangan bersedia sadar psikologis, mengakui bahwa pada dasarnya semua relasi dan diri bersifat abusive, dan belajar bekerjasama dalam menyehatkan relasi. Mungkin itu agaknya utopia dan pastinya kita akan kembali menemukan (atau mengalami) keheranan-keheranan kenapa kekerasan dalam relasi keintiman terus terjadi dengan beragam analisa kausistik sana sini.    

Yogya, belakangteras. 20160914.

Tulisan ini juga terunggah di: