<![CDATA[arymami - TRAVEL]]>Wed, 12 Dec 2018 06:37:22 -0800Weebly<![CDATA[Tanjung Puting : Rumah para Orangutan]]>Sun, 17 Apr 2016 06:24:14 GMThttp://arymami.com/travel/tanjung-puting-rumah-para-orangutanPicture
Pada sebuah pagi yang cerah di Africa Timur, anak-anak SD itu mendengarkan kisah tentang  keindahan hutan tropis dan rumah para orangutan. Eksotisme jantung Borneo yang demikian signifikan sebagai keseimbangan ecosystem dunia begitu memukau. Seolah keberadaannya bak mitos dalam benak kita semua. Sejak hari itu, Tanjung Puting menjadi mimpi.

Dan... setelah lebih dari 20 tahun.. mimpi itu terwujud!

Picture

WOW. aku tidak punya kata untuk mendeskripsikan rasanya. Selain, bahagia. Setiap langkah dan hembusan nafas saat itu berasa dipenuhi keajaiban. Ini langka cuii... mimpi kok kejadian.. tapi Yes. Dreams do come true!
Dan yang menarik tentang menjalani mimpi yang sudah demikian lama disimpan... apapun kondisinya, semua terasa Sempurna.

Pagi itu, tubuhku rasanya remuk. Aku tidak dapat tidur semalam. Dan rasionalitas mengatakan aku akan segera tumbang dihajar angin speed boat sepanjang dua jam. Ada ngantuk yang menjalar pada tiap sendi tubuhku. Namun, ia lenyap begitu saja saat kami mulai menyebrangi lautan. Aku dipenuhi dengan keterpesonaan. Seolah ada aliran kehidupan yang mendadak mengisi penuh kegembiraan.

Kami mulai masuk ke dalam area taman nasional. Ada hangat yang menjalar, terlepas hujan yang mengguyur perjalanan. Aku menanti penuh antisipasi semua cerita dan kisah yang pernah kudengar suatu ketika. Ada rasa kembali ‘pulang’, entah karena kisah-kisah yang melekat atau karena tumbuh besar di lingkungan taman nasional. Namun senantiasa ada bahagia bersinggungan dengan persoalan perlindungan habitat asli lingkungan dan makhluk hidup. Mengingat masa-masa berdiam di savana menanti perburuan antelop oleh singa-singa Afrika.

Disini tentu berbeda. Bukan lapangan luas yang kering, namun sungai dan pepohonan yang lebat. Warna sungainya mengagumkan, ia hitam dan memantulkan refleksi dengan sempurna. Warna yang gelap itu terjadi karena akar-akar disekelilingnya. Ia begitu tenang dan legam, hingga rasanya ingin nyebur saja untuk berenang. Namun.. itu dilarang. Setidaknya setelah ada orang mati karena dimakan buaya.

Tanjung puting merupakan area penelitian dan konservasi orangutan yang telah diinisiasi oleh Dr Galdikas, sejak 1971. Hingga kini, tanjung puting bukan sebuah tempat wisata melainkan tempat studi kehidupan flora dan fauna.  Hamparan laboratorium biologis ini dipenuhi oleh pepohonan tinggi, jejaring mangrove, dan para binatang hutan tropis, telah lama dikenal sebagai “the eden garden” di seluruh manca negara.  

Memasukinya, kami perlu memahami dan menghargai kehidupan para satwa, cukup tahu untuk tidak mengganggu mereka maupun lingkungannya. Hingga saat ini sudah ditemukan macan tutul, beruang, babi hutan, ular, buaya, berbagai jenis monyet, burung, dan tentu orangutan, yang mencapai 6000 ekor dalam populasi pada tahun 2014.

Kami menuju ke Camp Leakey, lokasi utama konservasi dan penelitian. Disini orangutan banyak yang menjalani rehabilitasi (baik karena kebakaran hutan, penyakit, penyekapan, dan prostitusi – ada lho, orangutan yang disekap untuk melayani hasrat para lelaki). Mereka disembuhkan untuk kembali dilepaskan ke alam habitatnya. Bagi orangutan yang telah bersentuhan dengan rehabilitasi, mereka tidak takut dengan manusia. Tidak akan lari, dan tidak akan merasa terganggu dengan kehadiran kita.

Tepat di tempat kami menyandarkan kapal, seekor orangutan telah menanti kita, berjemur disana. Jantungku langsung berdetak lebih cepat. Namanya ‘Siswi’. Semua orangutan disana memiliki nama, dan wajah dan kelakuan mereka pun berbeda satu sama lain. Siswi merupakan ratunya. Ia juga terkenal nakal dan iseng. Kita tidak mau bermain-main dengan orangutan, kekuatan mereka bisa meremukan tubuh kita. Kami berjalan melewatinya berlahan, berharap tidak akan mengganggunya. Takut tiba-tiba dibanting!.

Melewati jalan kayu di tengah mangrove untuk masuk ke area camp leakey. Menemukan pusat studi dan berbagai informasi mengenai orangutan. Sepanjang perjalanan kita bisa menemukan berbagai bekas sarang diatas pepohonan tempat orangutan tidur. Mereka tidak akan tidur di sarang yang sama, sehingga mereka akan membuat sarang setiap harinya di tempat yang berbeda. Atau setidaknya dengan daunan yang baru. Orangutan merupakan binatang teretorial yang individualis. Mereka tidak hidup berkelompok. Setiap teretori akan ada satu raja. Dan di area yang kita kunjungi, Tom merupakan rajanya. Dia sangat langka untuk dapat ditemukan dalam sekali kunjungan. Namun.. hari itu bak mimpi yang memang sedang dijalani, kami beruntung dapat hadir menyaksikan nuansa ke’ngeri’an dihadapannya.

Berjalan masuk ke area utama, kami dapat menyaksikan keindahan beragam pepohonan. Tentu ia merupakan hutan yang masih dalam penyembuhan. Tepat di pusat utama ‘feeding zone’ untuk para orangutan yang menjalani rehabilitasi ini. Kami dapat menemukan orangutan bergelantungan pucuk pohon dalam kejauhan. Excited. Aku terpukau.

Mendekati waktu makan, orangutan mulai berdatangan dari segala arah. Bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya sembari membawa anak di perut atau punggung mereka. Babi-babi hutan pun berlarian disekitar situ. Oh ya... dan pulau ini dipenuhi dengan kupu-kupu! Dan tentu nyamuk dan semut. Kakiku sudah memar dan perih karena salah melangkah ke sarang semut.

Kami menanti disana. Tiba-tiba, sesosok tubuh yang kekar, besar, berbulu berjalan kearah kita. “Make way, make way” peringatan disampaikan dengan hati-hati. Dadaku dipenuhi arus rasa takut dan gembira. Pejantan, Raja teretori itu hadir di hadapanku. Tubuhnya dua kali manusia, berbulu kekar dan besar berjalan dengan arogansi tanpa mempedulikan siapapun disekitarnya. Ketakutan tentu, gila gede banget, belum lagi taring-taringnya.  Tatapannya tajam membuat bergidik. Kami semua bergeser memberi ruang, menjaga jarak. Dia duduk dengan gagahnya, hampi seolah dia sudah terlatih untuk berpose pada puluhan lensa camera yang membidiknya.

Tanpa kita sangka, Tom sedang birahi. Betapa memukau sekaligus ngeri, melihat “animal instict” berlangsung depan mata. Ia dengan gesit memanjat ke pucuk pepohonan, meraung, dan mencari betina. Dalam attraksi kebutuhan alam ini, dengan satu kaki ia mematahkan pohon setinggi 15 meter. Dalam panik dan ketakutan kami tentu berlari menyelamatkan diri dari tumbangnya pohon itu. Ia melompat ke bawah dengan mencengkram betina yang sedang membawa anak digendongannya. Ditengah runtuhan pohon diantara semak, suara Tom bergelegar disekitar kita. Mak... ala dicengkram nuansa horor. Tuntas sudah, dan betina yang hanya 3 kali lebih kecil dari tubuh Tom, berjalan sempoyongan.

Di tengah feeding zone, raja menguasai lokasi. Kami dikelilingi oleh puluhan orangutan yang menanti giliran dan ijin dari rajanya dari atas pohon-pohon. Ditemani babi-babi hutan yang menanti sisa kulit buah-buahan dan puluhan lagi kupu-kupu yang berterbangan. Sungguh memukau dan indah. Tanpa terasa waktu telah bergeser lebih cepat.
Dalam langkah menuju ke kapal. Ada rasa tenang yang menyelimuti tiba-tiba, betapa nyata dapat hidup dengan harmoni dengan fauna. Tak dapat dielakan signifikansi area ini bagi dunia. Seluruh kisah masa kecil itu telah tersaksikan dengan mata sendiri. Hanya satu kata untuk merangkumnya – bahagia.

Yeah... aku beruntung bisa meniliknya. Bahkan menyombong pada teman-teman SD yang bertebaran di berbagai wilayah dunia, aku sudah sampai disana. Ya.. setidaknya tidak omong kosong lah.. kalau aku orang Indonesia. Aku pasti akan kembali lagi..
 
 
Pangkalanbun.terimakasihuntukmimpiyangterwujud.7042016
#orangutan #kalteng #tanjungputing #saveorangutan #heartofborneo #borneo #kalimantan

]]>
<![CDATA["Sepotong Pontianak dan satu pertanyaan tentang Cinta"]]>Thu, 07 Apr 2016 00:50:50 GMThttp://arymami.com/travel/sepotong-pontianak-dan-satu-pertanyaan-tentang-cinta


​​Panas! Adalah impresi pertama yang kudapatkan saat semesta membawaku melangkah ke kota khatulistiwa. Seseorang mendeskripsikannya dengan... satu sisi ada matahari, disisi lain ada bumi, nah.. diantaranya ada Pontianak! Demikianlah ia dengan panasnya. Sayangnya.. dengan panas yang demikian betah, tak ada satu pun solar cell yang aku temui sebagai medium memanfaatkan SDA yang tak ada habisnya ini. 
​Ya.. ini kali pertama aku datang ke kota ini. Kota bagian barat pulau eksotis Borneo.  Jangan tanya kenapa eksotis, aku rasa itu semata karena diriku dipenuhi gambaran Borneo sejak kecil melalui buku-buku SD di Africa, sebagai jantung dunia. Dan kata eksotis itu melekat begitu saja. 

Ada rasa kegembiraan, kecemasan, dan deg-degan... Rasanya seperti masih berumur 6 tahun di hari sebelum ulangtahun menanti dengan penuh harap akan mendapat hadiah apa. Ya.. kurang lebih begitu.. a sense of wonder of what to come and what to encounter. 

Perjalanan ke tempat-tempat baru.. selalu saja membawa rasa-rasa semacam itu. Terlebih saat kita melakukan perjalanan sendiri. Ya... orang selalu berkata travelling paling enak kalau bersama seseorang, karena bahagia memang tak ada arti tanpa terbagi.. some people arent so lucky tough. I for one.  Perjalanan sendiri.. hm.. membawa desakan aliran rasa disekujur tubuh yang sedikit berbeda. Tapi, yakinlah.. selalu ada cerita yang punya greget saat pergi sendirian. 

Aku sempat tergoda untuk menghubungi sosok yang kutemui terakhir kali aku di Bali dalam perjalanan soloku, untuk terbang kesini dan mengalami kota yang sama-sama baru ini berdua. Entah kenapa... namun dipenuhi keraguan. Bukankah sudah kutinggalkan kisah itu di Bandara? Hingga terik itu menyengat pertama kali di Bandara Internasional Supaido, aku tidak menghubunginya. Bandara ini besar dan aneh.. OK.. aneh.. karena kami turun dari pesawat dan tidak ada pintu masuk ke Bandara!

Seperti anak hilang, tentunya aku mengikuti saja langkah penumpang lain. Sambil menerka-nerka kemana mereka berjalan, melewati beberapa ruang dan lorong. Hingga masuk ke bandara melalui pintu samping dekat sabuk bagasi. Tidak ada tanda petunjuk apapun. Pintu itu lebih tepat sebagai pintu pegawai, tidak terbuka dan kita semua tiba-tiba nongol disamping pengambilan bagasi. Sebagai pendatang baru.. aku mengambil waktu sejenak untuk mengamati sekitarku, dengan dua tujuan: pertama mencari tempat pemesanan taxi dan mencari tempat merokok. Yang terakhir kurasa menjadi lebih mendesak. Sembari menyerap ‘budaya’ baru disekitarku. 

Tidak ada transportasi umum di kota ini! Sehingga aku perlu berjalan kaki kesana kemari. Ya.. Anda bisa saja menyewa mobil dengan harga 800ribu per hari, bila ingin berpergian. Phew.. mahal yaaa. Untungnya aku juga suka jalan kaki.. selain memang sehat (yaellaaaaah).. tapi dengan demikian aku pun bisa mampir-mampir beli jajan yang ‘unik’. Tidak ada taxi yang nongkrong, tidak ada ojek, dan ya.. apalagi mengharap transportasi publik dengan aplikasi online. Alasannya.. terjalin erat dengan budaya, ekonomi, dan politik di wilayah tersebut. Cerita untuk lain waktu. 

Ini perjalanan yang penuh dengan tanda tanya. Ya.. akhir-akhir ini memang begitu. Semua hanya dijalani untuk satu tujuan: pengambilan data. Menjawab satu tanya tentang Cinta. Bagaimana caranya.. entahlah. Dilakukan saja. Dengan ketidak pahaman.. tidak ada rencana perjalanan yang matang, aku tidak pernah kesini, tidak memiliki operasionalisasi transportasi, tidak ada saudara atau teman disini, dan hanya punya satu nomer telpon dari sosok yang belum pernah kujumpai. Aku tidak membayangkan apa yang hendak kujumpai disini, dan aku tidak memikirkannya. Seolah siap untuk menerima apapun saja. Mungkin semacam kekosongan yang siap untuk diisi. Bisakah aku hidup disini?, juga sebuah pertanyaan yang lekat padaku beberapa bulan ini.. mencari tempat baru untuk membangun mimpi. 

Kurasa aku harus berterimakasih pada disertasi ini. Pertanyaan penelitian ini telah membawaku keberbagai tempat, bertemu dengan berbagai orang, mendapatkan teman-teman baru, dan jujur... mengisiku dengan berbagai kepingan hidup yang membuat tiap hari kian penuh dengan makna (cerita untuk lain waktu). Ini penelitian yang mahal! Secara finansial memang begitu, terlebih saat tidak ada sponsor dan harus membongkar tabungan sendiri. Tapi entah kenapa.. dengan menyusutnya angka 6 digit tiap minggu, aku merasa jauh lebih ‘kaya’ dari sebelumnya.  Ya.. mungkin tinggal menanti saja saat realitas dunia menamparku. Hahaha..

Anyhow... ada satu nama, satu percakapan, dan satu pertanyaan. Dengan lebih dari 48 jam aku disini, aku membayangkan akan banyak waktu untuk mengembara dengan diriku sendiri. Tapi apalah perjalanan tanpa kejutan? Aku membiarkan semesta melakukan pekerjaannya. Dan waktuku dipenuhi dengan percakapan tiada henti – dan lebih banyak lagi pertanyaan yang menanti jawaban.

Budayanya memukauku. Tepatnya karena membutuhkan pemahaman konteks atas data yang kutemukan disini. Tanpa berencana, telah kuhabiskan waktu bercakap dengan penjaga parkir, anak-anak muda yang menghabiskan waktu di warung-warung kopi, pekerja bangunan, para polisi dan provost yang bersedia meluangkan waktu berbincang, serta perkumpulan anak-anak SD komunitas ‘bikers’ yang menghabiskan maghrib berattraksi di jalanan kosong. 

Dalam kembaraku, aku meraba tentang cinta dimata mereka. Satu istilah elusif yang katanya universal. Sesungguhnya aku sendiri berharap ia memang suatu hal yang universal, dan di dalam hati enggan untuk menerima bahwa tesis itu patah sedikit demi sedikit. Satu-satunya yang universal tentang cinta hanyalah rasa jatuh cinta (yang sangat neurologis dan mungkin bertahan 6-12 bulan lamanya), sisanya hanyalah kompleksitas karakter, struktur makna realitas, dan budaya yang telah membingkai ekspresi-ekspresi rasa. Tapi mungkin memang manusia hanya mampu merasa yang telah diajarkan saja. Sulit untuk lepas dari konsep tabula rasa .. dan ya tentu itu bisa diperdebatkan dalam filsafat realitas tanpa henti.

Apakah cinta selalu terikat dengan kata bahagia? Mayoritas dari kita mengasumsikan begitu, dengan alfa melihat ideologi yang melekat secara sosiohistori. Sejauhmana cinta itu menjadi bagian reflektif dalam memahami realitas dan diri? Atau ia hanya menjadi salah satu bagian dari kehidupan dan interaksi manusia semata? Pentingkah cinta dalam kehidupan personal? Sudah banyak dari kita yang enggan memikirkannya.. dan dengan sebuah alasan yang beragam tentunya. Sejauhmana budaya itu memprogram ‘rasa’ manusia? Bedakah cinta bagi orang padang, orang dayak, orang madura, orang bali, orang jawa? Apa yang membuat bertahan dan tidak bertahannya relasi dan sejauhmana jaringan sosial berjalin dengan jejaring emosi manusia? Bagaimana konsep umur, masa depan, dan kematian mempengaruhi ekspresi cinta? 
– Satu tanya tentang cinta, dan kudapati beribu cerita. Konsep yang tampak elusif ini membaur dengan keseharian yang sebenarnya sama elusifnya. Hanya obligasi keseharian saja yang menyiptakan batas fakta dan memudahkan mengamini yang nyata. Betapa banyak yang merindukan masalah rasa juga masalah nyata; hingga pilihan perselingkuhan, seks, polyamori, memberikan batas semu yang tepat untuk menyatukan keduanya. Nyata sekaligus tidak.  Penuh cerita sekaligus hening tanpa kata.

Dari untai cerita, aku menemukan tempat ini kaya ‘rasa’ meski kehilangan ‘kata’ karena tersekat budaya. Hal ini tidak ada hubungannya dengan fasihnya karakteristik campuran melayu yang lugas dan ekspresif dengan cerita. Ekspresifitas kerap menyembunyikan lebih banyak makna. Aku terkagum dengan multikulturisme yang lebur sekaligus cerita tajam mengenai benturan nilai antar etnis. Politik yang... yaah.. politik. Kota ini merindu ruang ekspresi. Hingga kuliner menjadi satu-satunya katup pelepasan. Dan yes... makanan disini memang luar biasa. Ada kesenjangan ekonomi dan nuansa komoditisasi nilai ‘uang’ yang kuat diberbagai sisi. Dan keunikan bercampur keramahan adalah distinksi kehidupan masyarakat yang sulit untuk dinafikan sebagai pesona.

Pontianak.. telah menyambutku dengan hangat. Menemukan ribuan cerita dari sosok-sosok luar biasa. Teman-teman baru dan keramahan yang mengelitik untuk segera kembali kesana. Aku masih merasa belum cukup mencicipi keunikannya. 

Belakang teras, 27 03 2016.
]]>
<![CDATA[Here and Now: Bali tanpa Kata]]>Mon, 04 Apr 2016 07:07:30 GMThttp://arymami.com/travel/here-and-now-bali-tanpa-kata
 -What ever happened in Bali, leave it at the airport –


H+1 10.00 – Aku tercengang. Penuh keheranan dengan seluruh peristiwa yang padat makna. Tuhan memang suka bercanda! Hanya itu yang melintas dipikiranku. Aku masih duduk di ruang tunggu menanti penerbangan. Kupandang layar kecil telpon genggam. Menimbang. Perlukah kata-kata untuk menjelaskan syukurku atas pertemuan dengan mereka?
H-1 15.30 – pesawat sudah delay satu jam menuju Bali. Harapan untuk menyaksikan matahari tenggelam bersama deburan ombak pulau dewata berlahan pupus bersama detik waktu yang berlalu. Tidak banyak sebenarnya yang kuharapkan... ya.. Bali selalu saja dibalut dengan berbagai nuansa liburan dan kebahagian.. tapi tidak kali ini. Ini bukan liburan, waktu yang terbayang hanya memungkinkan untuk satu pertemuan – sayangnya, berhubungan dengan pekerjaan.


Di ruang tunggu penerbangan itu, aku masih mengenakan hem kerja. Ya ampun.. mana ada orang ke Bali seformal ini? Keterlambatan penerbangan memberikan kesempatan mengganti celana kain dan hak tinggi yang kusesalkan dalam tas berisi laptop, celana dalam, dan kaos ganti. Tidak ada apparel pesta atau makan malam, atau baju musim panas yang biasanya akan terlipat rapi tiap hijrah ke kepulauan wisata di Indonesia. Meski sepotong bikini sempat kulempar dalam ransel, mungkin sekedar memberikan nuansa liburan sebagai penghibur diri. Perjalanan ini tidak rigit terencana.. tak ada hotel atau tiket kembali yang disipakan jauh hari. Jenuh dan jumud telah memenuhi tiap jengkal raga dan jiwa. Semua bersandar pada ‘ya lihat saja nanti..’.


Ada nuansa bahwa ‘tikungan’ seolah mengejar. Aku sendiri lebih sering menyebutnya ‘patahan’. Sebuah titik nol. Semacam re-start, yang bagi diriku lebih bermakna sebagai satu pilihan memungkinkan atas keterlemparan – kata lain adalah terbuang. Tentu bukan kali pertama aku harus merelakan berhadapan dengan sebuah ‘patahan’. Hanya saja.. kali ini berbeda. Kali ini aku tidak membawa diriku semata. Kali ini ada sesak yang mendera. Kali ini rasa takut menghadirkan diri di persimpangan. Terlepas dari berbagai logika rencana. Ada kalut dalam kebingungan, menyisakan kekosongan.


Tidak ada gebu yang hadir saat kakiku akhirnya mengijak Bandara Ngurah Rai. Kuhubungi sang genderang samba, mungkin sekedar kebiasaan. Atau sebersit rindu, yang tak yakin boleh kumiliki lagi. Nir-jiwa. Aku bahkan hanya berdiri disatu pojokan menyaksikan sekitar tanpa pretensi dan hasrat untuk beranjak. Hambar. Ya.. jujur saja.. hatiku memang sedang memar.


– Ya, bagaimana tidak.. the heart wants what the heart wants.. bila setelah lebih dari setengah dekade, hati tempat bersandar akhirnya mengatakan ia tak tahu lagi apa yang ia inginkan.. semua entitas imajinasi ‘kita’ hilang.. –puff  begitu saja- bagai bangunan kokoh yang seketika berubah jadi debu yang bertaburan. Bagaimana mungkin memimpikan kita, bila ia masih sibuk mencari dirinya. Tak tahu ‘kita’ harus dimulai dari mana. Ya.. relasi selalu saja dipenuhi tantangan. Rangkai peristiwa menumpuknya, saat kata-kata lenyap tanpa sisa, saat kemenjadian hidup tak lagi dipertukarkan, tak lagi dipertanyakan, saat hari terlupa untuk peduli. Cinta masih hidup disana, meski ia diiringi berbagai penolakan yang menyakitkan. Rasionalitasku memahaminya sudah begitu lama, hanya hati enggan menerima. Biasanya akan selalu kuterjang, namun ultimatum jujurnya menahanku. menyintainya dari kejauhan mungkin adalah pilihan. Tak ada yang diperjuangkan. Bagaimana mungkin hadir bila ia tidak menginkanku dalam hidupnya. Semua yang mengisi diriku pun lantak. Aku tak punya jawaban, tak ada apa-apa lagi yang bisa kulakukan, selain tentu mendoakannya. - Ada sedih yang mencengkram, namun tak mampu merasa. Datar, tanpa ekspektasi, tanpa riuh emosi, tanpa jiwa. – Harus ada tikungan, segera.


Dalam kekosongan dan hati memar itulah aku mengada tanpa rencana. Prihatin menyia Bali dengan kondisi itu. Menyayangkan tanah yang dikenal sebagai ‘pencerahan jiwa dan romansa’ demikian kuacuhkan. Tapi... hey... Bali is Bali. And to my surprise.. I did get more than I bargained for.
Here and now. Itu kalimat yang mematri dirinya sendiri di tengah memar hati malam itu. Kami sibuk berbincang dengan menyantap seafood yang rasanya memang menggiurkan. Sosok perempuan dihadapanku memaparkan tentang kehidupan, sekaligus menanggapi kisah kecewaku atas hati yang ‘tersesat’. Kuncinya, kesadaran waktu saat ini. ‘Gini lho say’.. berulang kali ia ucapkan.. Kita bisa belajar, bisa pula berencana, tapi kita harus sadar hidup kita mengada detik ini. Disitu pula ia menutur tentang kesadaran, terhadap kebutuhan diatas keinginan. Kita perlu ‘makan’ yang kita butuhkan. Secara litterally makan demi kesehatan tubuh, hingga makan demi kesehatan jiwa. Kami berbincang, bertemu teman-teman baru, ditengah hingar bingar pesta klub malam. Hingga waktu berganti hari, dan lelap menghantar cerita keujung ingatan.


Tak ada yang baru pagi itu, selain tempat tidur dan lokasi dimana aku berada. Aku bahkan tidak lagi bergegas melihat telpon genggam untuk menyapa si genderang samba. Tak lagi yakin apa aku boleh melakukanya. Enggan salah tukar kata, enggan merasa tertolak, enggan bersapa dengan sayat dada. Toh dia meminta ruang untuk mencari dirinya.


Here and now. Mungkin.. aku pun perlu berkenalan dengan diriku sekali lagi.


Kami mengisi hari dengan makan. Berbelanja sabun organik pro kesehatan, sembari melihat-lihat etalse bikini. Sarapan pancake pisang yang lembut menggoda dibibir pantai. Bahkan menemukan tanpa terduga sebuah warung kecil di bilangan seminyak yang begitu lezat, untuk kembali makan lagi. Semesta sedang bicara. Bicara tentang tubuh.


Aku berbincang dengan supir mobil mengenai kejahatan-kejahatan dunia yang perlu dimusnahkan. Tentang harmoni dan kepasrahan. Entah kenapa.. mungkin juga karena kita diselimuti nuansa Kuningan. Aku seharusnya sudah berada di depan laptop bekerja, namun.. ya.. semesta mengajakku ke tempat berbeda. Sepanjang perjalanan ini, kubiarkan semesta menghantar langkah kakiku, tanpa tanya, tanpa curiga.


Semerbak kopi mengiringi kisah perjalannya. Sosok perempuan yang pernah kutemui suatu ketika, tampak sungguh berbeda, meski gaya tutur jenakanya masih sama. Dia bercerita tentang doa, tentang waktu yang terlipat atas permintaan yang selalu terpenuhi, tentang syukur yang tak terlupa. Ia memaparkan sebuah kebingungan yang terurai begitu saja, suatu ketika. Semua yang keruh sebelumnya menampakan diri dengan gamblang dan jelas. Sebuah proses yang lama dan pastinya berbeda untuk setiap insan. Kuncinya, menemukan misi kehadiranmu di dunia. Simpul caranya sederhana, berkomunikasilah denganNya. Selalu Here and Now. Ditengah percakapan itu, ada rasa bahagia yang merambat di dada. Entah dari mana.  Seolah irama katanya sedang membasuh memarku dengan meyakinkan semua sedang baik-baik saja. Semesta sedang bicara. Bicara tentang doa.
Sekelompok teman baru. Canda dan perbincangan tanpa arah. Kami membiarkan pasir bermain disela kaki dalam perjalanan menutup malam yang dihiasi pendar cahaya pantai kuta. Kami berserah pada angin pantai. Menjauh dari hingar bingar dj lantai dansa.


Aku telah berpamitan padanya tepat setelah kuhabiskan makan malam dan segelas anggur kesukaanku - menyadari perjalanan ke hotelku cukup jauh di tengah padatnya malam minggu. Sedikit mengabaikan fakta ia telah melintasi pulau menemuiku. Seharusnya aku tersanjung, namun kita menyebutnya dengan mutual respect untuk satu sama lain.


Teman-temanku sedang melantai pada Dawin saat mata hijau keabu-abuannya menatapku tajam. Dan kita terbahak tanpa alasan. “it’s too short, you know.. I’m unwillingly being a gentleman right now” ujarnya enggan membiarkanku pulang. Aku tertawa dan mengiyakannya. Here and Now.


Perbincangan renyah tentang filsafat dan kehidupan, makanan yang nikmat, dan bersyukur dapat menikmati seluruh sikap gentleman yang begitu lama tidak kujumpai. Sosok asing yang kurasa telah kekenal seumur hidup. Ah.. menjadi perempuan memang tidak selalu merasa menjadi perempuan setiap hari. Ada nyaman dan rasa aman yang menjalar - seolah terbebas dari himpitan peran gender yang sesak selama ini. Ia menatapku penuh kekaguman, seolah merengkuh semua diriku yang hancur lebur saat itu. Membuatku merasa cantik, cerdas, dihargai, dibutuhkan, diinginkan dan lebih.. ia membuatku merasa menjadi manusia. Aku menikmati didengarkan dan mendengarkan perbincangan tentang misteri kehidupan, tentang relasi, tentang sepi dan sunyi. Ia menawarkan sebuah relasi, kebaruan; “I know relationship is not in your menu, I know this may come out of nowhere, but giving the curcimstance.. I cant just let this go..”, sembari menunjuk pada keberadaan kita untuk menekankan kata ‘this’.“We have to do something, I’m a free man, I can move, we can work things out. Let me meet..” – aku memotongnya, beranjak, dan membaur kembali pada rombongan teman baru untuk menutup malam. Ah.. ironi yang hangat menjalar dalam hatiku yang masih terpaut pada sosok yang terpasung dengan ‘hidup’nya. –if only my love was a ‘free’ man, pikirku-. Kuberikan sebuah senyuman ‘terimakasih’ terakhir dan berlalu. Semesta sedang bicara. Bicara tentang ‘cinta’.


Aku terhenyak. Klise... tapi dalam beberapa puluhan jam disini, Bali membawa pesan sederhana;eat, pray, love. Ya.. Gilbert telah menuturkannya. Aku.. sedang diperbolehkan mencicipinya. Semesta sejak awal memekik padaku, “go eat”, “go pray” dan terakhir “jangan mengkhawatirkan diluar kuasamu. Cinta kuasa Semesta, hadir, mati, cipta kapan saja; nafas jiwa urusanKu”.


Ada perih, namun bila yang selama ini memenuhi dinding hatiku belum hadir disisiku, Semesta memang tidak menghendakinya. Semesta miliknya pun bekerja. Aku perlu memberikan kesempatan untuk Semestaku bekerja.
Berbaring dalam lelah dan pukau pengalaman. Aku menghubunginya, sang genderang samba. Tak jelas hendak bercerita apa. Mungkin sekedar mendengar suaranya.


Memar itu masih disitu, bebal, lebam. Here and Now. Semesta telah menyapaku di pulau para Dewa, meyakinkanku bahwa tidak baik-baik saja pun tidak apa-apa, sebelum akhirnya memeluk tidurku dengan erat.


H+1 10.30 – Masih kupandangi telpon genggam itu. Memutuskan tak perlu kata dan berselancar pada momen dalam imaji yang terbekukan. Tertegun.... tak ada satupun gambar disana yang sempat kuambil sepanjang perjalanan. Aku tersenyum. Kumasukan kembali telpon genggam tepat sebelum panggilan penerbangan berkumandang. Ah.. Bali dan Semesta yang bicara.. tanpa kata.




Belakang teras.stillwanderinginthenumb. 23022016.
]]>
<![CDATA[Gorontalo & Rebonding]]>Thu, 25 Mar 2010 06:04:25 GMThttp://arymami.com/travel/gorontalo-rebondingSetelah hampir 12 jam perjalanan (ini bukan masalah waktu diatas pesawatnya tapi transit-transit yang terlampau lama), badan sudah terasa penat dan angan-angan air hangat membasuh tubuh seakan sudah bisa kurasakan. Pesawat mendarat dengan selamat disebuah bandara yang kecil. Kota Gorontalo. Udara hangat menerpa wajah sembari berjalan ke ruang tak lebih dari 10x10 meter menanti bagasi diturunkan. Penuh. Hampir susah untuk berjalan. Mecari toilet. Kotor dan gelap. Membasuh wajah tertunda, air keran yang seakan enggan keluar mengurungkan niatku. Kuambil tissue basah dan kembali ditengah hiruk-pikuk orang. Mungkin bandara ini sama seperti bandara Freetown, Sierra Leonne, tapi sayangnya ingatanku akan bandara itu diumurku yang masih terlampau ranum tak melekat sama sekali. Ah.. Selamat datang di Gorontalo.
Apa yang menjadi kesan pertama saat aku masuk kota Gorontalo? Bentor! Kota ini penuh dengannya. Sungguh kagum aku melihatnya. Bagaimana tidak. Kali pertama aku masuk kota ini, jalanan dipenuhi oleh mereka. Terlebnih dengan sound system lengkap dibelakang tempat duduk becaknya, dengan bentuk yang cukup menarik. Keesokan harinya aku baru tau, bahwa dengan jenis motor dan kelengkapan musik akan berimbas pada tarif penggunanya. 

Kota baru. Pengalaman baru. Senangnya. Tentu ada beberapa poin yang menambah poin pengalaman baru ini. Pertama, mengunjungi tempat-tempat wajib kota tersebut. Kedua, kuliner itu harus dicoba. Ketiga, budaya dan gaya hidup. Hatiku berdegup menanti apa yang akan kutemukan. 

Pagi. Kembali naik bentor. Tujuan pertama tentu pasar! Begitulah didikan mentorku - pasar adalah pusat untuk membaca kehidupan suatu tempat. Jadi inilah tujuan utama. Tentu dengan saran teman yang sudah pernah kemari juga, membubuhi cerita seorang penjual kalender yang sangat menarik untuk dikunjungi. Sebuah pasar tua yang cukup sepi. Jarang ada bangunan yang memiliki atap genteng, mayoritas seng. Mahal katanya disini. Kaki melangkah masuk ke warung kopi. Berbeda dengan warung kopi di Aceh, sugguhan kopi dan teh disini berasa 'instan'. Para lelaki memenuhi ruangan. Tatapan heran menuju padaku saat seorang perempuan duduk ditengah kebulan asap rokok mereka. Tak ada perempuan disini. Dua foto tergantung di dinding samping jam tua. Bukan foto presiden dan wakilnya, tapi foto walikota dan wakilnya. Hmm.. menarik. Jajan pasar tersaji. Sarapan yang nikmat. Pasar yang menarik. Waktu menunjukan jam 9 pagi, dan belum juga ada toko yang buka. 

Kuliner. Ah... kuliner. Tak ada yang terlampau menarik untukku dalam soal makan memakan ini. masakan laut jelas berlimpah. Hasil laut yang dijual belikan sungguh menggairahkan mata. Besar dan segar. Ikan-ikan, udang, cumi. Menyenangkan. Tapi belum ada yang 'Mak Nyuss'. Nasi kuning kuah yang begitu terkenal, adalah perpaduan nasi kuning dengan soto ayam. Dicampur. Itulah nasi kuning kuah ini. Ilubutung, semacam sagu bercampur ati ayam yang menjadi khas makanan mereka, aduh maaf... sulit untuk kutelan. Dan kacang-kacangan.. hmm.. apa apa dengan kacang dan gorontalo? Resoles pun berisi kacang. berbeda. Jagung yang sangat terkenal, ya.. tetap jagung. Sup yang aku juga lupa namanya, lumayan untuk disantap, yang jelas ikan tongkolnya gede-gede dalam campuran sup itu. 

Dari semua hari-hariku disana, yang sayangnya penuh dengan acara formal berupa jambore, perayaan ulang tahun dan resepsi, tentu ada hal yang membuatku bertanya-tanya. Bukankah itu harus, pada setiap tempat. kali ini, Gorontalo dan rebonding! Rebonding, sebagai cara untuk meluruskan rambut. Aku sebenarnya tidak terlalu tau rambut asli warga gorontalo seperti apa, hanya, ada satu jalan bernama Jalan Bonding. Jalan yang dipenuhi dengan salong-salon rebonding sepanjang jalan itu. Tak ada juga perempuan yang tiak memiliki rambut lurus terjuntai kebawah, kecuali aku tentunya dengan rambut ikal dan berantakan. 

Tak sedikit juga mewarnai rambut mereka. Sungguh. sadar kecantikan? atau persoalan kekuasaan simbolik yang tak terlihat? Entahlah. Tak cukup lama melihat peredaran dan konsumsi maupun budaya media disini untuk dapat membaca. Hanya cetakan 'siksa neraka' yang kutemukan masih dijual dipasaran. Tentu itu dapat menjadi bahasan lain.
]]>